SEANDAINYA saja sutradara Charlie’s Angels, Elizabeth Banks tidak pernah memulai debut film itu dengan pernyataan bahwa jika filmnya kelak tidak laku penyebabnya adalah para lelaki tidak mau menonton perempuan di film action, barangkali ulasan film itu tidak semengenaskan sekarang. Saya baca ulasan Charlie’s Angels di The Guardian, dan itu ulasan yang kejam dan berdarah-darah.

               Saya pribadi tidak pernah menyukai Charlie’s Angels jika merujuk pada film sebelumnya yang dibuat sekitaran tahun 2000 silam. Charlie’s Angels tahun 2000-an itu adalah remake dari sebuah serial televisi tahun tujuhpuluhan dengan judul sama. Maka, Charlie’s Angels-nya Elizabeth Banks adalah remake dari remake. Hal itu saja sudah cukup menimbulkan cercaan. Ditambah pernyataan tendensius Banks di awal rilis film ini. Ia memulai film ini dengan keinginan untuk bertikai.

                Dengan Charlie’s Angels sebelumnya sebagai rujukan, saya jelas tak memiliki hasrat menonton film ini lagi, tapi seorang kawan memaksa saya menemani –dan membayarinya- menonton. Jadilah saya berada di bioskop sambil merasa iba pada diri sendiri karena harus menahan sakit kepala gegara AC yang overcool sambil menonton film jelek. Untungnya, Charlie’s Angels tak seburuk celaan para reviewer yang boleh jadi didominasi para lelaki yang harga dirinya terluka itu.

                Charlie’s Angels tahun 2019 hadir dengan tema klise tapi tetap seru tentang jagoan-jagoan dari agen rahasia swasta yang berusaha menyelamatkan dunia. Jagoannya kali ini adalah para perempuan, the angels. Para perempuan ini berusaha menjaga eksistensi dunia dari upaya penyalahgunaan sumber energi buatan yang berpotensi menjadi alat kejahatan. Bisa ditebak, musuh sebenarnya adalah pengkhianat dari dalam agen sendiri. Endingnya juga seperti biasa: jagoannya menang, dunia selamat.

                Dibandingkan Charlie’s Angels yang diperankan Cameron Diaz, Drew Barrymore, dan Lucy Liu, tiga aktris di remake terbaru ini (Kristen Stewart, Naomi Watts, dan Ella Balinska) memerankan para angels dengan lebih proporsional. Mereka tidak tiba-tiba menjadi boneka cantiknya Charlie dengan selera humor yang buruk. Terkecuali akting Kristen Stewart yang menurut saya agak bermasalah, pemain lain seperti Scott atau Balinska, bahkan Banks yang juga ikut bermain sebagai bosley, atasan para angels, memerankan angels dengan baik: natural, tidak dibuat-buat, dan tidak berusaha tampil sempurna.

                 Set tempat yang berpindah dari satu negara ke negara lainnya dan perangkat intelijen dengan teknologi informasi yang dulu mungkin terasa wah dan agak fantastis hingga berkesan kurang nyata. Di tahun 2019 ini tak lagi memiliki gap dengan kenyataan karena kondisi teknologi dunia hari ini yang kurang lebih sama dengan kondisi di dalam film. Jadi, dari segi pemain, plot, set, dan narasi cerita, film ini cukup memadai.

                Permasalahan film ini menurut saya terletak pada obesesi Banks menjadikan film ini sebagai film feminis. Alih-alih berhasil, obsesi ini justru menuntunnya pada kerancuan film ini sebagai film yang mengangkat harkat perempuan. Mengapa?

                Pertama, terkait pemilihan Kristen Stewart sebagai tokoh utama. Saya curiga Banks memilih Stewart karena dia ikon biseksual Hollywood. Dengan menjadikan Stewart sebagai tokoh utama lengkap dengan kecenderungan seksual sesama jenisnya di dalam film, seolah-olah Banks ingin menunjukkan bahwa bisa menjadi lesbian atau biseksual adalah pencapaian utama dalam perihal kesetaraan perempuan dengan lelaki. Ada kecenderungan ingin menunjukkan perempuan lesbian sebagai perempuan yang lebih  berdaya dalam urusan cinta. Maksudnya adalah adanya asumsi bahwa dengan berhubungan hanya dengan sesama jenisnya, perempuan bisa lebih aman dan merdeka.

                 Namun saya lebih setuju pendapat Foucault bahwa tak ada hubungan yang benar-benar setara bahkan pada yang terlihat setara sekalipun. Relasi kekuasaan tetap ada pada hubungan yang terlihat berimbang satu dengan lainnya. Akan selalu ada pihak yang mendominasi pihak lainnya dalam relasi yang seideal apapun. Hal ini menunjukkan tak ada jaminan bahwa dengan menjadi lesbian atau biseksual, perempuan menjadi lebih berdaya atau lebih berkuasa dibanding heteroseksual.

                 Jadi, apa yang dilakukan Banks terkait Stewart terasa tidak relevan dalam upayanya menjadikan film ini film feminis.

                 Di sisi lain, akting Stewart juga mengganggu saya. Karakter yang dibangun untuk tokoh Sabina yang diperankan Stewart adalah angel konyol, ceroboh, sembrono tapi lucu, dan agak urakan. Stewart dengan wajah dan aktingnya yang biasanya flat dan muram jelas tidak cocok dengan karakter itu. Dengan penampakan macam itu, kelucuan yang dimunculkan Sabina terlihat agak dipaksakan. Di awal cerita yang dibuka dengan scene antara Stewart dan musuh yang dijebaknya dengan menyamar sebagai kekasih si musuh, Sabina menunjukkan karakter yang lebih serius dan itu lebih cocok untuk Stewart. Kesan itu lantas buyar saat Sabina bertemu angels yang lain, karakternya berubah drastis. Alih-alih membuat film ini lebih greget dengan Stewart sebagai bintangnya, sebagian scene justru terasa canggung.

                  Kedua, di film ini musuh adalah para lelaki. Angels perempuan berada vis a vis dengan para lelaki. Para lelaki digambarkan sebagai sosok brutal, manipulatif, dan haus kekuasaan. Ini adalah persoalan gender yang sangat klasik, dan dalam pandangan saya sudah kurang relevan dikemukakan. Karena persoalan revitalisasi perempuan hari ini bukan pada apakah dia bisa mengalahkan para lelaki, tapi pada apakah kerjasama yang baik, adil, dan humanis bisa dilakukan oleh kedua belah pihak sehingga tak ada pihak yang dirugikan, terutama perempuan. Dalam tafsiran saya, ini adalah substansi feminisme gelombang ketiga. Bahwa aktualisasi perempuan bukan berarti membalikkan sistem patriarki menjadi matriarki, tapi justru pada bagaimana dua sistem ini bisa bertemu di tengah tanpa kehilangan substansi penciptaan mereka sebagai dua jenis kelamin yang berbeda oleh Tuhan yang menciptakannya.

                   Jadi, apakah Charlie’s Angels layak ditonton atau tidak? Saya akan memberi nilai B-. Film ini menghibur, tapi bukan jenis yang akan kita tonton sampai dua kali. Well, sebenarnya kalau kita cek di Rotten Tomatoes atau Metacritic, review film ini mixed alias beragam. Tak melulu buruk, apalagi sekejam The Guardian. Posisinya berada di kisaran B+, alias direkomendasikan. Tapi terus terang, saya benar-benar tidak akan terpikir untuk menontonnya jika kawan tak mengajak. Tapi ketika sudah menontonnya, saya ternyata tak merasa rugi juga telah membeli [email protected]

Facebook Comments