Ketika pembangunan hanya angka, hanya materi, hanya harga, puisi membicarakan nilai. Teman-teman yang bertahan menulis puisi ini masih ikut menopang sebagai bangsa yang beradab. Puisi belum tentu mengubah nasib bangsa, mengubah politik, tapi penyair melakukan peran besar di dunia, ada sejarahnya. (Handrawan Nadesul, nukilan pengantar KHATuLISTIWA)

170 penyair mewarnai rampai puisi KHATuLISTIWA yang diterbitkan pada Agustus 2021. Antologi puisi Dari Negeri Poci (DNP) ini adalah edisi ke-11 yang menghimpun spirit puisi–memberai  suka cita di langit Nusantara. Antologi DNP adalah serial antologi puisi yang dirintis Komunitas Radja Ketjil sejak tahun 1993.

“Dulu sekali kami telah menjalin komunikasi secara intensif dengan Piek Ardijanto Soeprijadi. Beliau yang domisili di Tegal menjadi guru yang kerap memberi bimbingan.” Tutur Kurniawan Junaedhie saat diwawancarai redaksi asyikasyik.com lewat telepon.

Lebih jauh KJ sapaan akrab Kurniawan Junaedhie menyebut bahwa hubungan yang terbina dengan Piek Ardijanto dengan penyair-penyair muda, ditambah ketandangan mereka ke Tegal akhirnya memunculkan gagasan membentuk Komunitas Dari Negeri Poci. “Lalu, saat saya di Majalah Tiara kita bersepakat untuk menerbitkan buku Antologi pertama di tahun 1993,” kala itu ada 12 penyair yang termaktub dalam rampai puisi perdana DNP tersebut papar KJ.

Dari Negeri Poci (1993)
Dari Negeri Poci 2 (1994)
Dari Negeri Poci 3 (1996)
DNP 4: Negeri Abal-abal (2013)
DNP 5: Negeri Langit (2014)
DNP 6: Negeri Laut (2015)
DNP 7: Negeri Awan (2017)
DNP 8: Negeri Bahari (2018)
DNP 9: Negeri Pesisir (2019)
DNP 10: Rantau (2020)
DNP 11: Khatulistiwa (2021)

KHATuLISTIWA mau tak mau harus memfasilititasi gelora puisi yang cagak ditulis oleh penyair muda dengan kontestasi kekaryaan (puisi) mumpuni. Olehnya 30 persen dari total kontributor adalah penyair yang usianya relatif muda dan pendatang baru dengan karya lebih cogah alias kaya nan mentereng karena kematangan yang ditulis.

Ruang sastra dan laman puisi telah disingkirkan karena iklan dan berita politik. Materi telah mengalahkan nilai, demikian faktanya.

Usia Komunitas Radja Ketjil yang tak belia lagi saat ini dikelola oleh Prijono Tjiptoherijanto, Handrawan Nadesul, Adri Darmadji Woko, dan Kurniawan Junaedhie. Selama 28 tahun, masing-masing tak pernah ada semacam keinginan superior. “Kami saling melengkapi, bila saya tidak bisa Mas Handrawan yang bisa. Begitu pula dengan Adri…” pungkas KJ.

Sudah 38 penyair DNP yang telah wafat, yang namanya selalu diseru di halaman pembuka buku Antologi DNP sebagai takzim, yaitu; Wijdi Tukul, Piek Ardijanto Soeprijadi, Ajamuddin Tifani, Widjati, Omi Intan Naomi, Tuti Gentini, Syarifuddin A. Ch, Sides Sudyarto D.S, Boedi Ismanto S.A, M. Djupri, Slamet Librayanto, Eko Budihardjo, Slamet Sukirnanto, Rahadi Zakaria, Nurhidayat Poso, Venera Els Arj, Sjafrial Arifin, Yudhi MS, Slamet Riyadi Sabrawi, Ad Donggo, Leon Agusta, Budi Wiryawan, Riri Tirtonegoro, Haryono Soekiran, Dimas Arika Mihardja, Beni Guntarman, Darman Moenir, Yamin Azhari, M. Poppy Donggo Hutagalung, Thomas Haryanto Soekiran, Agustina Thamrin, Ahita Teguh Susilo, Ben Sadhana, Erwan Sasmita, Radhar Panca Dahana, Tsi Taura, Jumari HS, dan Diah Hadaning.

Spirit puisi yang kobar dari napas hampir tiga dekade adalah barometer intensif yang seharusnya mendapat perhatian lebih dari Pemerintah Indonesia. Di sini, tidak saja berbicara soal aset tapi khazanah dalam skala luas. DNP tidak pernah memungut iuran untuk kontributor penyair yang karyanya masuk antologi.

Tahniah untuk Komunitas Radja Ketjil. Semoga masih diberi napas untuk senantiasa memuisikan Indonesia. Menyuarakan nilai-nilai yang luput terbaca oleh [email protected]   

 

Facebook Comments