MENULIS satu esai pendek di kolom terbatas terasa kurang puas. Di media online berbeda, inilah esai kedua saya (untuk mengulas pertunjukan teater yang sama).

Tak banyak pertunjukan teater yang menarik di Kalsel, lebih-lebih yang digelar pada kompetisi (festival/lomba). Kompetisi teater umumnya dibatasi syarat dan ketentuan yang telah ditetapkan panitia (tema, durasi dan sebagainya), bersifat mengikat dan tak sepenuhnya bebas berekspresi.

Di luar pandangan umum yang menilai “Datu Abulung (Sinar Sebelum Cahaya)” Kampoeng Seni Boedaja (KSB) ULM di Gedung Balairung Sari, UPTD Taman Budaya Kalsel, Banjarmasin, Sabtu (20/10/2018) malam lalu berlangsung sukses, pertunjukan teater yang dipenuhi penonton itu sebetulnya meninggalkan sejumlah persoalan.

Masalahnya bukan pada pertunjukan teater itu sendiri (secara keseluruhan), tapi lebih pada persoalan teknis. Seperti fungsi baut kecil (yang dapat menggerakkan mesin besar), mengabaikan peran baut kecil (pada seni kolektif seperti film, tari dan teater, apalagi menganggapnya tak penting) adalah pandangan keliru. Menganggap sepele fungsi baut kecil pada mesin akan menimbulkan persoalan.

Sebetulnya tak ada yang baru pada cerita “Datu Abulung (Sinar Sebelum Cahaya)” yang naskahnya ditulis Faisal Refki (sekaligus asisten sutradara) dan disutradarai Surya Hadie (keduanya senior KSB ULM).

Memang, tak ada yang baru di bawah langit. Dalam kesenian juga demikian. Pada dunia kreatif, kebaruan yang diharapkan adalah pada penggarapan dan kemasan pertunjukan (yang disajikan), bukan pada “proses (latihan dan penggarapan)”, tapi “hasil”. Asumsi “proses tidak mengkhianati hasil”, betul, tapi (dalam kerja kreatif) kadangkala “kecelakaan” dapat terjadi.

Saya ingin menyoroti “Datu Abulung (Sinar Sebelum Cahaya)” KSB ULM dari beberapa aspek, antara lain bahasa. Bahasa yang digunakan pada pertunjukan malam itu adalah “bahasa campuran” (bahasa Indonesia dan bahasa daerah Banjar).

Saya tidak tahu maksud dan tujuannya, tapi sutradara berperan besar dalam hal itu. Pada perbincangan santai di Warung Kai Mani (setelah Magrib, sehari sebelum pertunjukan), Faisal Refki (penulis naskah dan asisten sutradara) mengatakan naskah aslinya ditulis dalam bahasa Indonesia, tapi (dengan alasan tertentu, mungkin agar lebih familiar dengan penonton), sutradara mengubahnya (seperti yang kemudian berlangsung di panggung).

Yang mesti diingat, meskipun sejumlah kosa kata bahasa Banjar mirip dengan bahasa Indonesia, tapi kata-kata yang sama (dalam bahasa Banjar) dapat berbeda makna, bahkan bertolak belakang (dalam bahasa Indonesia).

Pada dialog di antara tokoh-tokoh penting (dalam pertunjukan), misalnya, konotasi makna bahasa yang berbeda itu terjadi pada adegan penting. Saya lupa, persisnya hal itu terjadi di adegan berapa, tapi (dalam “bahasa campuran” itu), ada salah satu tokoh penting yang (kalau tidak salah) dialognya berbunyi: “Mungkin sidin tidak patuh pada…” dan seterusnya.

Dialog itu sebetulnya dimaksudkan untuk menyampaikan ada tokoh masyarakat yang “tidak taat” (pada perintah Sultan). Menggunakan kata “tidak patuh” berakibat fatal, sebab dalam bahasa Banjar maknanya adalah “tidak kenal” (bukan “tidak taat”).

Makna kata “taat” (dalam bahasa Indonesia) amat berbeda dengan “patuh” (dalam bahasa Banjar). Pada kalimat (yang seutuhnya dalam bahasa Indonesia, misalnya), “Mungkin beliau tidak taat pada…”, maknanya bertolak belakang dengan (yang seutuhnya dalam bahasa Banjar, misalnya), “Saku sidin kada patuh lawan…”.

Risiko yang kemungkinan terjadi pada pertunjukan teater (dan kesenian lain, yang menggunakan “bahasa campuran”, Indonesia-Banjar) adalah interferensi bahasa: menjadi “bahasa Indonesia yang dibanjarkan”, atau (sebaliknya) “bahasa Banjar yang diindonesiakan”.

Begitulah, pertunjukan yang sebetulnya akan lebih menarik andaikata sepenuhnya disajikan dengan menggunakan bahasa Indonesia (atau bahasa Banjar) itu inkonsisten dari segi bahasa.

Jika penggunaan “bahasa campuran” itu dimaksudkan agar terasa familiar, tidak benar juga. Andaikata hal itu terjadi pada dialog di adegan awal (di antara urang jaba), masuk akal, tapi (masalahnya) hal itu juga berlangsung dalam adegan para tokoh penting di Kesultanan Banjar. Bahasa yang digunakan kalangan bangsawan berbeda dengan bahasa urang jaba.

Pertunjukan teater yang dimainkan Mahbob Fran Akbar HB (Syekh Abdul Hamid Abulung), M. Imam Khazin (Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari/Datu Kalampayan), Mhrab Adi Surya (Sultan Tahmidullah II), Ahmad Yamani (Mangkubumi/Ratu Anom Ismail), Ricky Gumelar Anugrah (Abu Su’ud/Qadhi), Abdurrahman (Muhammad As’ad/Qadhi) dan Muhammad Wahyu Wicaksono (Pengawal) malam itu berlangsung dengan durasi lebih 2 jam.

Durasi sepanjang itu punya risikonya sendiri, terutama bagi komunitas seni (sanggar maupun kampus) yang belum punya massa pendukung tetap. Syukurlah, hal itu bukan masalah bagi KSB ULM yang merupakan UKM Seni universitas (bukan UKM Seni Fakultas). Meskipun harus membeli tiket, pengunjung memenuhi gedung.

Ke depan, siapa pun penulis naskah dan sutradaranya, KSB ULM mesti memperkuat seni akting aktor-aktris teaternya. Meskipun didukung tata panggung yang digarap detil, juga tata busana, tata rias, tata lampu dan musik yang apik, akting para aktor lemah, stereotip.

Akting stereotip: karakter peran, intonasi vokal mereka (satu sama lain) serupa: ekspresi mimik, gestur, teknik bergerak dan berjalannya (moving) juga sama — tak ada perbedaan antara pemeran yang satu dengan pemeran lainnya.

Dalam tafsir sutradara (dan para aktor), apakah karakter tokoh yang mereka mainkan memang (hanya) seperti itu? Mengapa tak ada aktor yang berani keluar dari zona aman (dalam berperan)? Teater itu seni akting. Berteater itu berakting, ding ai, pintar ai, bauntung ai…@

Facebook Comments