PERNAH jalan-jalan ke pasar, kan? Atau gini deh, ke sentral VCD bajakan. Terus si penjual memutar lagu disko, koplo, atau sejenisnya lah. Dari beberapa kalimatnya ada kirim-kirim salam. Misal: “Dari Haji Mardud from Sungai Kadap, Goyang, Ji!”

Fenomena penyebutan titel haji di lantai diskotek atau pub atau apa saja yang masuk kategori Tempat Hiburan Malam di tanah ini bukanlah rahasia umum. Bukan rahasia malahan, semua tau masalahnya cuma bingung aja emang mesti disikapi bagaimana? Mungkin Anda di antaranya yang tak sengaja mendengar itu di warung-warung pinggiran. Bahkan dalam audio mobil angkutan umum. Makin ke sini, musik-musik khas anak dugem semakin menjamur dari tahun ke tahun. Kepingan musik dalam bentuk fisik tersebut diperbanyak bahkan berjuta filenya ada di internet. Ini bukan masalah satu atau dua orang saja, bisa jadi se-Indonesia.

Sebelum melangkah ke bagian nilai, mari kita memetakan tempat hiburan malam di kota yang katanya Seribu Sungai ini. Pada pertengahan 2005-2010, dalam bidang THM, kota memfavoritkan dua THM yang populer di masa itu, Grand (Mitra Plaza) dan Athena, yang lebih populer dengan sebutan HBI. Padahal, THM banyak sekali tumbuh tanpa menafikan Aria yang lebih dulu eksis. Semakin bertambah tahun, THM di Banjarmasin sudah melebihi hitungan jari dan namanya sudah aneh-aneh, keren-kerenan. Gimana ngejelasinnya, kesannya jadi sok paling tau gitu, gak matching. Walau pun, pengaturan jam operasional sudah diperdakan. Fungsinya hanya ngegas di awal dan loyo di tahun-tahun masa akhir pimpinan.

Lantas, siapa yang memerlukan hiburan demikian? Sebagian customer rutin, mereka-mereka yang telah ditimpa lelah berlebihan karena energi dan waktu terporsir demi pekerjaan. Wajar mungkin, di akhir pekan atau di waktu malam, yang namanya tempat hiburan diisi orang yang betul-betul membutuhkan. Dari 13 Kab/Kota di Kalsel, 5 di antaranya merupakan daerah terbanyak mempekerjakan karyawan di bidang yang tentu boleh saya katakan begitu melelahkan. Boleh jadi adalah sebagian Perusahaan Perkebunan, dan sebagian Perusahaan Tambang. Yang oknum-oknumnya, memang jauh dari metropolitan.

Nah, jika membahas soal nilai title haji, maka ada hal yang erat di keduanya. Ada yang memang pengusaha perusahaan sudah berhaji mengajak anak buahnya berhiburan, atau mereka yang tidak pengusaha dan tidak haji ingin bergaya saat berhiburan. That’s it.

Menurut kajian Antropolog Sosial yang dijelaskan seorang dosen kepada teman saya yang teman saya menyampaikan langsung kepada saya yang sanadnya terhubung kepada subjek eksperimen menyebutkan: Masyarakat Banjar menjadikan haji sebagai tujuan utama. Gak papa gak punya mobil yang penting naik haji. Gak papa gak pernah ke Bali yang penting sudah ke Makkah. Euphoria kebanggaan-kebanggaan menjadi hal positif, namun sayangnya, terdapat pengesampingan nilai ibadah di sana.

Nah, satu ketika saya mendatangi satu daerah. Basicly, masyarakatnya adalah pengusaha, dari perkebunan sampai pertambangan. Pengakuan dalam bentuk pernyataan seperti “Tadahulu unda haji daripada nyawa” atau “Undah sudah dua kali haji, inya sekali haja” menjadi komunikasi oral yang membudaya, bahkan dalam lingkungan keluarga. Tidak ada nilai bermakna ibadah dalam kalimatnya.

Dalam sudut pandang Islam, Haji merupakan penyempurna rukun yang kelima. Tentu bagi mereka yang mampu dalam segi fisik dan juga finansial. Haji seperti raihan puncak suatu usaha. Ketika title haji sampai kepada lantai kooridor maksiat atau perbuatan tidak terpuji menurut fiqih yakni diskotek, maka runtuhlah nilai ibadah tersebut.

Ada sebagian oknum muslim yang tidak merasa malu ketika title haji disandingkan dengan perbuatan yang jauh dari konteks ibadah, semisal dalam hal ini joget-jogetan. Yang lucu, teman saya, belum haji, kalau mau disebut haji, pergi ngelantai ke HBI bayar DJ biar disebut haji di depan masyarakat dugem. Anjay!

Perihal ini pernah ada dalam jurnal kampus yang memang merangkumnya dalam tugas kuliah. Tidak sebatas mendengar dari pernyataan orang-orang setempat, tapi turun langsung mengadakan penelitian ke lapangan, mendeduksi, dan tesis meluluskannya meraih gelar magister. Keren, gak tuh!

Gelar haji dianggap sekadar mengangkat status sosial. Nilai ibadahnya jika dibandingkan status sosial mungkin 50:50 saja. Atau tidak ada sama sekali. Tentu sebagian kita masih berharap dan sepakat, haji merupakan ritual sakral, yang mengubungkan komunikasi antara manusia sebagai hamba dan Tuhan sebagai pencipta. Haji bukan sekadar traveler semata, dan bukan gelar di tempat hiburan.

Seminggu belakangan, saya berselancar di media sosial. Ada video joget-jogetan senam pagi di halaman depan masjid raya kebanggaan masyarat Kalimantan Selatan. Hati bertanya, “Lha, lantai diskotek dah pindah sekarang, ya?”@

 

Facebook Comments