: Bahasan Seputar Bentuk Artistik & Gagasan Pertunjukan “Nyanyuk”

Malam Minggu, kata Jamal Mirdad dengan Dapur ‘61 dulu adalah malam yang panjang. Malam yang asyik buat pacaran (link video di sini: https://www.youtube.com/watch?v=4vUU3tsX4BY). Itu dulu, entah sekarang. Tapi memang, malam Minggu bagi kita masih kerap menjadi malam pelarian untuk rileks dan hepi-hepi, setelah semingguan kita larut dalam aktivitas harian yang kadang membikin kepala penat, syaraf jadi tegang. Namun, suasana malam Minggu yang lalu (15/02/2020) di Mess L Banjarbaru, sangat berbeda dari biasanya. Setidaknya bagi saya, dan seratusan lebih orang lainnya.

Ya lantaran di sana, kami yang sebagian besarnya anak muda, menyaksikan Nyanyuk! “Nyanyuk” adalah judul pertunjukan seni karya Lupi Anderiani, dalam rangka ujian tugas akhirnya sebagai sebagai mahasiswa magister (S-2) Pascasarjana Penciptaan Seni di ISI Solo (Institut Seni Indonesia Surakarta).

Lupi Anderiani atau yang sering saya panggil Mas Lupi, bagi khalayak seni di Kalimantan Selatan (KalSel) adalah salah satu sosok seniman kontemporer (masa kini) yang saya kira anu, cukup penting. Latar belakang keluarganya dari Desa Barikin (ia putera seniman besar seni tradisi Kalimantan Selatan, Alm. AW. Sarbaini), kita ketahui adalah material yang kaya bagi penciptaan karya-karya seninya selama ini. Selain itu kita juga tahu, ia punya segudang pengalaman kreatif dalam berbagai pertunjukan seni di berbagai daerah di Indonesia. Selama beberapa tahun, ia pun pernah menjadi pengajar musik tradisi Kalsel di kampus (Pendidikan Sendratasik FKIP ULM). Beberapa basis kreatif keseniannya itu, akhirnya diperkaya dengan aktivitas keilmuan yang ia peroleh selama kuliah Magister Penciptaan Seni di ISI Surakarta.

Jadi, atas dasar itu semua, kalau Mas Lupi akan bikin pertunjukan seni, maka sudah sewajarnyalah kita menagihnya dengan kualitas pertunjukan yang bermutu, apik lagi keren. Lantas bagaimana dengan pertunjukan Nyayuk di Mess L Banjarbaru (dan Museum Lambung Mangkurat) pada malam Minggu kemarin yll? Saya, sebagai penonton yang menyaksikan pertunjukan dan mengamati beberapa bagian proses persiapannya, akan mencoba membahasnya di sini. Semampu saya.

Bermutu atau tidaknya suatu karya seni, seni pertunjukan misalnya, setidaknya ditentukan oleh dua aspek normatifnya. Yaitu bentuk artistik (intrinsik) dan ide-gagasannya (ekstrinsik). Dalam konteks pertunjukan Nyanyuk, bentuk artistiknya dapat kita tunjuk pada material seninya. Di sini kita akan temukan beberapa materi pokoknya, yaitu musik (ini yang utama dan mendominasi), tari, teaterikal, serta rupa-visual. Jika nilai artistik beberapa material seni itu dilihat dari kacamata estetika modern, tentu bahasan kritisnya dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, materi/cabang seni itu dikaji masing-masing secara spesifik dan terpisah. Misal, bentuk artistik musiknya dikaji dengan perspektif estetika musik saja. Cara kedua adalah, semua sajian material tadi (musik, tari, teater, senirupa) dikaji secara serempak dengan satu perspektif estetika tertentu. Lantas, perspektif apa yang diandaikan mampu membahas semua bentuk artistik Nanyuk? Saya pikir, estetika postmodern cocok.

Sebagai antitesis (respon tandingan) dari estetika modern yang bertendensi pada makna, kita tahu estetika postmodern tidak berminat pada penghadiran makna, pendalaman tema, serta menolak landasan norma kreatif (aturan, pakem, dan sejenisnya). Artinya, pijakan artistik postmodern adalah anything goes, apa aja boleh deh. Selain itu, gaya atau modus karya seni postmodern sering tampak dalam beberapa spiritnya, yaitu: eklektik (pencampuradukan gaya/genre/aliran estetika), non-eksklusif (menolak batas-batas nilai, misal batasan antara dunia seni dengan kehidupan sehari-hari atau lebenswelt), parodikal, pastiche, ironik, dekonstruktif, dan spirit menjauhi originalitas. Dari pijakan estetika postmodern macam itu, maka diharapkan bentuk artistik “Nanyuk” menemukan posisi berdirinya. Kemudian ia dapat menyatakan gagasannya secara pas, melalui media bunyi-musik, gerak-tari, ketubuhan-teaterikal, dan rupa-visualnya.

Pertunjukan Nyanyuk menyatakan diri dalam dua sesi, keduanya penting. Sesi satu dilaksanakan di halaman Museum Lambung Mangkurat, sesi dua digelar di area Mess L. Kedua lokasi itu berdekatan, sekitar dua menit jarak waktu kalau kita jalan kaki santai. Sesi Satu digelar dalam waktu 20.23 – 20.44 (dua puluh kurang satu menit). Sesi dua digelar selama 21.08 – 22.10 (satu jam lebih dua menit). Beda kuantitas durasi ini memang relevan dengan proporsi gagasan Nyanyuk, sebagaimana yang disampaikan Mas Lupi dalam rekaman video yang diputar di halaman muka Mess L. Bahwa pertunjukan sesi satu di Museum adalah pertunjukan pembuka saja. Dan inti dari pertunjukan Nyanyuk itu ada pada sesi dua di are Mess L.

Sebagai pembuka, pertunjukan sesi satu digelar dengan sajian musik gamalan (gamelan) Banjar. Selama hampir dua puluh menit di hadapan penonton  yang sudah datang, baik yang di bawah maupun di luar atap tenda, ada dua kelompok gamalan yang berhadap-hadapan. Satu kelompok dengan gamalan rakyatan-nya ditabuh oleh orang-orang tua, memainkan bebunyian gaya keraton dengan perangkat gamalan perunggu. Lalu disambung oleh kelompok lainnya yang berisi anak-anak dan remaja, memainkan bunyi-bunyi rakyatan-nya dari gamalan kuningan.

Berdasarkan ide-gagasan pertunjukan, sebagaimana dikatakan Mas Lupi, bagian pertunjukan ini merupakan gambaran awal perjalanan biografisnya. Artinya, seni tradisi Banjar yang dibahasakan secara musikal melalui bunyi gamalan (gaya keraton dan rakyatan), merupakan asal-pijakan eksistensi kesenimanannya. Di sini, Mas Lupi seperti mau mengatakan bahwa material gamalan Banjar klasik yang sangat normatif dan penuh dengan pakem, dan barangkali terbatas, sudah dilakoni dan dihayatinya. Lantas apa? Meski gamalan Banjar (Barikin) masih hidup dan eksis digenerasikan, lantas apakah cukup di situ pencapaian artistik jiwa seni Mas Lupi? Ternyata tidak. Ia nampaknya, dan memang sangat jelas, mau keluar dari batasan-batasan norma tradisional, sebagaimana estetika-artistik pada gamalan Banjar. Segala pencapaian estetika klasik yang etis atau bahkan filosofis itu, ternyata goncang ketika menghadapi laju peradaban modern yang berujung pada sikap-perilaku mekanistik lagi pragmatis.

Kita tahu, di luar manfaatnya, ada dampak mudarat dari sains-teknologis, produk peradaban modern yang melahirkan beragam penyakit sosial. Di zaman modern, lingkungan semakin ruwet, bising, rusak dan sakit. Manusia pun semakin “gila”. Saya pikir, problem “dialektika peradaban” inilah yang menjadi sumber kreatif penciptaan Nyanyuk. Mari kita lihat itu pada bentuk artistik pagelaran di Mess L.

Setelah kerumuman penonton selesai disuguhi “kuliah” singkat tentang makna Nyanyuk dalam konteks budaya Banjar, via sajian video dari beberapa tokoh seni di Banua (HE. Benyamine, Mukhlis Maman, dan Mas Lupi), tiba-tiba gemerincing bunyi gelang dadas dan giring-giring menyita perhatian khalayak. Nampak dua pria menggeliat dan menggerakkan tubuhnya yang dilumuri sesuatu berwarna cokelat. Gelang dadas yang mereka pakai pun menghasilkan bunyi tertentu, acak tak berpola. Inilah tanda sesi dua pertunjukan Nyanyuk dimulai. Sesi kedua inilah inti pertunjukan, dengan enam bagian tematik dari seluruh struktur sajiannya.

Dalam asupan cahaya yang remang dari beberapa obor dan lampu minyak berbingkai bambu di halaman muka Mess L itu, suara gemerincing gelang dadas masih menyita perhatian khalayak. Lalu ditimpali lengkingan suara-suara orang berteriak. Seketika muncul sosok perempuan dengan tubuh dibalut kain putih menjuntai. Sesekali ia menjerit. Lalu empat orang lainnya, dua pasang tubuh mendekatinya, segera meraih kain balutan itu sembari menarik-narik dan menggoncangkan tubuh sang perempuan. Jeritan dan teriakannya masih bergema di udara halaman Mess L yang redup.

Suasana macam ini dipertebal dengan bebunyian batang bambu yang dihentak-hentangkan oleh lima orang laki-laki. Masing masing memegang dua batang, dan terus menghentakkan keduanya sehingga menghadirkan efek bunyi kurung-kurung yang bersahut-sahutan. Bunyi agraris ritus masyarakat Bukit-Meratus dari lima pria yang menghentak-hentakkan bambu-bambu mereka ke bumi ini, sebenarnya mengiringi lima tubuh yang bergerak dengan langkah putus-putus. Satu perempuan yang masih meraung dan meronta, tatkala dua pasang tubuh lainnya secara terus-menerus menarik-narik kain putih yang membalut tubuh si perempuan.

Di dalam bentuk sajian pertunjukan macam itu, terasa sekali batin dan sensasi khalayak larut-masuk dalam suasana mencekam dan chaos. Dan dari pergerakan kelima tubuh yang keos itu, para penyimak pertunjukan pun seperti ditarik oleh magnet. Semuanya bergegas mengikuti arah pergerakan kelima tubuh, menuju area halaman dalam Mess L.

Suasana keos lagi kacau dengan hadirnya campuran bunyi-bunyi musikal dengan non-musikal (non-harmonis) itu, kemudian dinaikkan levelnya ketika pengikmat pertunjukan masuk ke area halaman dalam Mess L. Di sana, mereka disambut dengan lengking jeritan dan kegaduhan yang masih meninggi. Di situ, lamat-lamat terdengar suara melodi seruling bambu dan vokal perempuan yang keluar dari atas panggung yang ditutupi oleh penutup hitam. Menjadi latar sebuah instalasi tali-temali nilon putih. Di sela-sela juntaian banyak tali itu, berjajar instrumen agung (gong) yang digantung. Area perjunjukan ini bercahaya redup, pohon kariwaya (beringin) besar di samping panggung diberi spot lampu pencahayaan pendukung. Terlihat pula agung-agung besar yang bergelantungan di banyak titik. Ditali-kaitkan dengan pohon-pohon besar di sana. Itulah ruang pertunjukan yang menjadi seni istalasi tersendiri, menyambut para penyimak yang makin bingung. Meski tak sampi linglung.

Belum reda rasa kebingungan pengunjung, mereka tiba-tiba disambut dengan keriuhan dua puluhan tubuh yang bergerak dengan pola tertentu. Tubuh-tubuh bergelang dadas dan mengenakan giring-giring nampak menyajikan gerakan yang sangat ekspresif. Gerakan dan bunyi pun makin lama semakin tinggi temponya. Makin berpola ritmis. Mereka mengitari sesosok pria yang lebih awal bergerak liar di tengah lingkaran beralaskan dedaunan kering yang terserak. Sesekali menggeliat cukup liar, dengan memain-mainkan salah satu tali gantungan instrumen agung di sana. Gemerincing bebunyian perkusif dari mereka pun dilatari oleh suara lima buah agung berderet mengggantung, yang dipukul secara bersahut-sahutan. Dari irama-ritmik bunyinya di sini, pengunjung seperti dibawa pada sakralitas ritual para balian (Meratus) yang menari sakral dalam aruh adat mereka. Bagian ini berakhir dengan teriakan serempak seluruh penari, yang perlahan berjalan berderet keluar arena pertunjukan.

Ini adalah bagian tematik pertunjukan Nanyuk yang diberi judul Saluk-Manyaluk. Saluk, sebagai konsep dan teknik sahut-menyahut dalam bermain sarun yang bersifat ekspresif, energik lagi atraktif, rupanya dengan tepat dijadikan Mas Lupi untuk mengolah bagian awal pertunjukan. Bagian yang menggedor indera pengunjung ini cukup menentukan persepsi mereka selanjutnya. Visi pertunjukan Nyanyuk untuk menghadirkan “kekacauan” rasa estetik telah dibangun dengan berhasil di bagian ini. Penghadiran artistik ruang untuk memfasilitasi bangunan bunyi, gerak dan rupa mampu mempresentasikan kekacauan realitas kontemporer kita yang penuh pertikaian serta kebisingan.

Saya pikir, inilah irisan awal estetika postmodern dari Nyanyuk, dengan menghadirkan konsep ironik serta dekonstruktif. Fakta lingkungan alam pedalaman Kalimantan yang rusak dan sakit, ketimpangan sosial di tengah kekayaan alam hutannya, itulah nilai ironik yang terasa dihadirkan di sini. Ironika juga ada pada bentuk sajian harmonis yang pada umumnya didamba oleh penikmat pertunjukan, dalam Nyanyuk sengaja dibongkar, lalu disusun-bentuk menjadi keosnya bunyi dan visual. Hal ini sekaligus membawa nilai dekonstruktif. Pertunjukan Nanyuk terasa mau melampaui kemapanan estetika publik yang popular. Akhirnya, bagian Saluk-Manyaluk ini diselesaikan dengan klimaks suara koor jeritan “tubuh-tubuh” Meratus itu, di bawah gantungan lima agung, lalu mereka serentak itu menuju area lain, ke luar halaman.

Setelah dua puluhan tubuh yang meneror para khalayak meninggalkan area, lalu kita akan masuk ke bagian bentuk artistik Nyanyuk yang kedua: Batamasa. Saat duapuluhan penari hampir semuanya keluar arena, lalu terdengar suara aneh yang mencul entah dari mana. Berfrekuensi rendah, suara laki-laki dewasa, terasa mengerang atau menggeram panjang. Mengepung telinga-dengar khalayak. Setelah sebelumnya khalayak dihujani oleh keriuhan Saluk-Manyaluk yang liar ekspresif, di sini situasi menjadi turun dinamiknya. Di tengah suasana itu, tiba-tiba ada bunyi lagi dari arah atas. Dari balkon atap Mess L. Ternyata suara tiga laki-laki yang menggunakan corong pengeras suara. Meski corong itu berbahan dari semacam kardus, namun efektif menghadirkan suara-suara berlafal ba-ta-ma-sa ke area pertunjukan.

Beberapa menit suara itu bersahut-sahutan dan saling menimpali, dengan ritme tertentu, lalu jauh di seberang Balkon muncul suara-suara yang lain. Serentak khalayak mendongak ke atas, ke arah suara yang berasal dari balik rimbun pohon kariwaya (atau pohon sejenisnya). Seperti warna suara burung, racikan suara itu ternyata keluar dari dua vokal perempuan yang berada di atas pohon. Kemudian semacam terjadi dialog bunyi antara suara di atas pohon dengan yang di balkon. Sesekali bersahutan, terkadang kompak bertemu. Kalau telinga kita agak musikal, tentu kita akan menandainya sebagai pola bunyi dalam instrumen tradisi tertentu. Suara ba-ta-ma-sa yang dihadirkan itu sebenarnya adalah pelafalan dari bunyi nada dalam gamalan Banjar. ba-ta-ma-sa adalah akronim simbol bunyi/nada dalam instrumentasi gamalan Banjar: Babun, Tangah, Lima, dan Sanga. Dan pola bunyi gamalannya tetap menggunakan konsep-teknik saluk.

Dari hidangan bebunyian vokal tiga laki-laki dan dua perempuan yang tanpa amplifikasi elektronik ini, secara tak sadar membawa khalayak untuk kembali pada frekuensi alami musik. Akustik “murni”, tanpa arus listrik dan perangkat musik elektronis. Bagian Batamasa ini dapat kita maknai, pertunjukan Nyanyuk seperti mengingatkan kembali bahwa perubahan-perubahan bentuk artistik musik tradisi yang disebabkan oleh desakan ilmu-teknologi modern, kerapkali berujung pada “kebisingan”. Kita tahu, produk musik modern seperti industri musik popular cenderung mengarah pada kebisingan teknik bunyi, tapi minim nilai-nilai realitas hidup. Makanya, modernisme perlu juga untuk dikritisi, atau bahkan ditolak, sebagaimana visi postmodernisme. Di sini, saya pikir pertunjukan Nyanyuk sedang meyuguhkan lagi irisan estetika postmodern yang lain.

Usai sajian Batamasa, kita akan simak bagian selanjutnya yaitu Lalakun Diri. Diawali dengan bunyi gamalan yang muncul dari pojok area. Cahaya penerang dihidupkan, Nampak sepuluh laki-laki tanpa tatabusana khusus, hanya pakaian biasa berkaus oblong. Merepresentasikan tampilan hidup sehari-hari. Sebagian duduk bersila tanpa alas, langsung menyentuh di lantai menghadapi instrumen sarun, dawu, sarantam, dan kanung. Di sana ada pula tiga laki-laki memegang instrumen panting. Bagian ini menawarkan hidangan musik yang yang beraroma world music, dengan pondasi laras gamalan Banjar dan dawai panting. Komposisinya penuh dinamika, dibalut melodi-melodi salindru yang dirangkai dengan teknik saluk gamalan di sana-sini.

Sebagaimana makna istilah “lalakun diri”, yang saya artikan secara bebas sebagai penempaan eksistensi diri, maka bagian kedua dari pertunjukan Nyanyuk ini berusaha mengajak khalayak untuk masuk ke dalam pengalaman eksistensial hidup manusia. Di situlah kita disuguhkan ragam bahan-baku bentuk artistik yang diramu menjadi satu. Saya merasakan ada dua bahan utama estetikanya, gamalan Banjar dan panting. Dari dua kutub ini, maka laras salindru (“pentatonik”) pun mencoba berdialog dengan laras diatonik. Lantas sub-kultur ikutannya pun terasa hadir. Kultur ritmis “besi-tembaga-perunggu” sebagai penopang gamalan pun dikolaborasikan dengan kultur molodis-harmonis “dawai”. Imajinasi jauhnya, jadi semacam pertemuan antara dua kultur besar. Hindu-Budha dengan kultur Melayu.

Spirit kolaboratif-dialogis pada sajian inilah yang dapat kita pahami, mengapa muncul juga irama-irama world musik di sini. Saya pikir, di sini Mas Lupi sebenarnya ingin menunjukkan dan berbagi segala pengetahuan, pengalaman dan kekayaan referensi kulturnya. Atau, sebenarnya ini adalah representasi penghayatan-hidup kesenimanan Mas Lupi sendiri. Berdasar keragaman yang performatif itu, makanya dari sisi komunikasi massa pertunjukan, bagian Lelakun Diri inilah yang paling hangat direspon para peengunjung Mess L. Demikian karena di situ banyak menawarkan sesuatu yang lebih popular, sebagaimana tingkat apresiasi seni khalayak umum di sana. Satu hal lain, entah dikonsepkan Mas Lupi atau tidak, bahwa percampuran bahan artistik musik di sini sangat beraroma postmodern. Bahwa di situ, paham esensialisme yang mengagungkan originalitas harus takluk pada daya akulturasi budaya yang tiada henti.

Bagian Lalakun Diri selesai dengan tanda berhentinya bebunyian gamalan dan panting secara serempak. Kemudian suasana berganti dengan munculnya sebentuk tubuh perempuan tergeletak di tengah area pertunjukan, berbaju terusan dan membawa sepotong kain putih. Ada sabuah lampu minyak di sampingnya yang menerangi. Pengunjungpun mencoba menebak-terka dalam ragam pertanyaan mereka. Wow, Apa lagi ini? Lalu di salah satu sudut area, di atas lantai yang lebih tinggi, nampak seorang laki-laki duduk di kursi merangkul cello, menggesek biola besarnya itu. Nada-nada panjang bernuansa minor-harmonis serta kromatis yang dramatis pun menggeser perasaan khalayak menuju situasi yang lain.

Pada suasana drama yang tragik macam itu, dua kotak kayu berbentuk Gumbaan (alat penyaring gabah tradisional) yang sejak awal bertengger di area, mulai digarap. Nampak ada yang mengayuh pedal tangan di salah satu sisi kotak itu. Lalu beberapa bebunyian pun terdengar. Terasa efek bunyi sarun, tapi bukan sarun. Ada juga bunyi suara dawai dan bunyi perkusif lainnya. Tempo stagnan yang panjang, terkadang berhenti sejenak, lalu berbunyi lagi. Dampak bebunyian ini mengantarkan khalayak pada suasana aktivitas hidup yang cenderung rutin, mengulang-ulang hal yang sama. Cirikhas kehidupan urban yang industrial.

Suasana itu pun dikuatkan dengan aksi beberapa aktor yang ada di dalam deretan lima ruang kamar Mess L. Masing-masing ruang, dibarengi nyala-matinya lampu kamar, secara bergantian menghadirkan luapan-luapan ekspresi bernada emosional. Ada monolog pendek yang berisi keluhan-keluhan, mengumpat, teriakan soal kepenatan hidup keluarga masyarakat urban. Di luar kamar-kamar, dinamik melodi cello dan derit suara gumbaan makin cepat. Umpatan dan teriakan penghuni kamar terus meninggi. Ini dipuncaki dengan aksi dari dua pria. Mereka tiba-tiba secara liar meraih dan menggoncang-goncangkan agung yang bergelantungan. Ternyata ujung tali yang menggantung agung itu adalah besi rantai (mungkin rantai sepeda). Sontak, dentuman bunyi agung pun meledak-ledak haibat

Sajian ini, sebenarnya adalah tematik bagian Nyanyuk yang berjudul Garah-Rambang. Di sini, memang kita disajikan suasana kegalauan, keresahan, kebimbangan, kebuntuan. Dan bentuk artistik yang disajikan lewat bentuk artistik bunyi yang tanpa anutan norma kreatif itu (pakem), punya arti lepasnya hidup masyarakat urban dari kearifan tradisi masa lalunya. Ini sekaligus menjadi irisan estetika postmodern lainnya. Maka, penyakit-penyakit sosial baru pun lahir di masyarakat kota, tanpa adanya pedoman norma sosial yang dihayati bersama. Saya pikir, keresahan psikis sosial kehidupan urban semacam ini yang ada di balik sajian ini. Yang nantinya, akan klimaks di bagian selanjutnya.

Kita masuk pada bagian tematik yang terakhir. Berjudul sama dengan tema besar pertunjukan, yaitu Nyanyuk. Bagian ini diawali dengan seorang perempuan yang sebelumnya tergeletak di laintai, kemudian beranjak perlahan menuju ruang aula Mess L. Sembagi memegang sebuah lampu minyak, ia terdengar bersenandung dengan mimik wajah yang ambigu. Seperti sedih, tapi tertawa kecil dalam senandungnya. Ini merepresentasikan ekspresi orang yang sedang Nyanyuk. Kebingungan. Di situ, sang perempuan juga nampak mengulurkan tangannya ke khalayak. Tanda memberikan ajakan untuk mengikutinya.

Di dalam aula, khalayak yang turut masuk dan memadati ruangan berdimensi sekira 10 kali 10 meter itu mulai disergap dengan situasi gerah, tidak nyaman. Terang saja, ruangan sengaja disetting tertutup semua jendela ventilasinya, kecuali satu pintu masuknya. Dengan tebaran cahaya lampu led bertekstur warna hijau-ungu remang, maka ruangan yang juga nampak beberapa alat usik dan pemainnya itu pun menjadi pengap, agak panas. Tak berapa lama, rasa kepengapan khalayak teralihkan pada bebunyian perangkat gamalan banjar yang dibunyikan. Di situ juga mulai dibunyikan melodi-melodi dari dua seruling bambu. Dua perempuan berada di tengah, menggerak-gerakan tangan mereka yang memegang semacam alat perkusif, memunculkan dasar tempo musik. Bentuk musik yang disajikan di sini masih didasari oleh tema saluk, sahut-menyahut melodi nada terus terdengar.

Pada awalnya nada-nada melodis lagi harmonis, masih nyaman dinikmati khalayak. Paduan bunyi dari perangkat gamalan dan duet seruling cukup melodius. Menghadirkan bebunyian agraris yang menawarkan suasana bersahaja. Hingga khalayak mulai merasakan transisi pada ketidaknyamanan musikal. Demikian karena sajian komposisi di aula itu berubah menjadi liar lagi banal. Teknik-teknik pukul yang dimainkan oleh Mas Lupi sendiri misalnya, ketika memainkan solo instrumen kanung, makin keluar dari pakem klasik gamalan. Dinamik pukulan mereka makin fortesimmo, keras sekali. Hingga catuk, alat pukul meraka ada yang patah. Suara senandung kedua perempuan yang bernuansa Dayak pedalaman pun mulai liar. Akhirnya terdengar semacam menjerit-jerit. Sedangkan bunyi instrumen lain makin liar, keluar dari tempo sebelumnya. Beberapa pemain gamalan itu kemudian mengeluarkan karet balon dan meniupnya. Udara dalam perut balon itu pun mereka olah menjadi ringkikan bunyi yang berderit-derit. Lafal-lafal “do-re-mi-fa-sol-la-si-do” dan “ba-ta-ma-sa” disuarakan oleh vocal perempuan yang saling bertabrakan, tanpa pola melodi dan nada yang jelas. Kebisingan bunyi ruang semacam itu makin meneror persepsi khalayak, kembali menghadirkan keresahan.

Pada ujung klimak Nyanyuk itu, tiba-tiba terdengar bunyi mesin ketam (pemotong kayu) yang menderu-deru. Lalu sekelompok lelaki nampak berjalan mengitari para pemain musik, sambil membawa dan membunyikan instrumen tarbang di tangan mereka. Di sini, jelas sekali suasana ruang yang ingar-bingar tercipta, keos. Lantas bebunyian ini berangsur melambat dan hilang perlahan. Hanya tersisa deru mesin ketam, yang pada akhirnya pun padam menghilang. Sunyi dua-tiga detik. Pyar! Penerang aula tiba-tiba menyala. Lantas gemuruh tepuk tangan khalayak tumpah. Semacam menandai ini pertunjukannya sudah tunai. Dengan cukup bermutu, apik dan keren.

Sampai di sini, bahasan saya yang mengusung perspektif estetika postmodern ini akan saya sudahi dengan mengajukan dua pertanyaan inti, dari pertunjukan Nyanyuk. Yang mungkin cukup menjadi wacana saja. Pertama jika-diandaikan, pertunjukan Nyanyuk memang mengusung konsep-diskursus estetika postmodern, mengapa pola “lima (5)” banyak muncul dalam materi bentuk artistiknya–sedangkan gaya pemolaan (merajut pola) ini adalah kesenangan kaum strukturalis, yang digugat para postmodernis? JIka tidak mengusungnya, ya sudah. Pertanyaan kedua bertendens ke pribadi Mas Lupi saja: kapan Mas Lupi bikin lagi pertunjukan di malam Minggu yang mutu, apik, dan keren seperti Nyanyuk [email protected]

 

 

 

Facebook Comments