SETIAP orang memilih jalannya sendiri-sendiri, termasuk saat pulang. Bagi seorang pelukis, hidup abadi ada di dalam karya-karyanya: pikirannya dan jiwanya. Kalaupun ia menulis, mungkin itu untuk hal lain yang tak sepenuhnya pernah tersampaikan, karena ada lebih banyak hal yang dipandangnya berbeda dengan orang-orang. Termasuk kawan-kawannya.

Saya mengenal Sulistyono (berikutnya akan saya sebut saja Mas Sulis, sebagaimana dalam keseharian kami) sudah lama, sejak pulang dari Jogja. Mungkin pertama bertemu di Sanggar Sholihin. Ia orang yang suka bicara, terkait gagasan-gagasannya, dunia seni rupa dan kehidupan yang luas serta dalam. Ia bicara apa saja, minatnya luas, terutama dalam hal memasak–saya beberapa kali diundangnya untuk sekadar mencicipi makanannya. Mungkin juga menyanyi, ketika ia mengajak beberapa kali teman-temannya untuk menyalurkan bakatnya yang lain itu.

Dulu saya sering mengunjunginya atas undangannya, untuk melihat lukisan-lukisan terbarunya, atau sekadar mencicipi makanan itu. Saya juga mengunjunginya ketika ia sempat tinggal beberapa tahun di Balikpapan mengikuti istrinya yang bekerja di sana. Terakhir di Banjarbaru, ketika ia membeli rumah di sana dan bercita-cita membangun galeri seni rupa. Sepanjang kunjungan itu yang saya sesalkan cuma satu, saya tak sempat menyukseskan pameran tunggalnya.

Pameran tunggal adalah bentuk kehadiran seorang perupa/ pelukis secara utuh lewat karya-karyanya. Gagasannya. Perasaannya. Pandangannya tentang kehidupan sekitar dan alam raya secara penuh. Ya, pandangan Mas Sulis terkait kosmos, adalah salah satu yang paling menarik dalam karyanya. Lukisan-lukisan terakhirnya saya kira bicara itu, orang-orang yang berlari, wajahnya yang sekaligus mencerminkan bumi (mikro-makrokosmos), dan bencana lingkungan yang mengungkungi alam manusia. Juga kosmologi Dayak yang dijajarkannya dengan kecerdasan Einstein.

Hal ini menjadi niscaya mengingat bahwa Mas Sulis adalah sarjana kehutanan yang suka baca buku filsafat. Tulisan-tulisannya yang relatif panjang untuk dinding fesbuknya juga, selain menyampaikan pandangannya terkait problem filsafat keindahan (estetika), bicara soal sistem yang ‘unfair’ terkait pasar seni rupa global–tak hanya di daerahnya Kalimantan Selatan atau di pusat-pusat kesenian seperti di Jakarta. Sebagai sarjana kehutanan ia paham betul soal ekosistem hutan dan pohon hingga ke retakan kulit-kulitnya. Mungkin sedetail itu pula ekosistem seni rupa diamatinya, sehingga bentuk kekesalannya yang sering saya baca atau dengar darinya masuk akal untuk diterima.

Mas Sulis adalah satu dari pelukis Indonesia yang beberapa kali mengikuti pameran dua tahunan (biennale) seni rupa dunia.

Andai ia lebih produktif tentu namanya akan lebih besar lagi, tapi yang jelas beberapa pengamat seperti Mamannoor (alm), Agus Dermawan, dan Hong Djien (yang juga dikenal sebagai kolektor) pernah memujinya, atau setidaknya menyapanya hangat.

Mas Sulis hanya salah memilih tempat untuk berkarya, mestinya ia tinggal di pusat kesenian seperti Jogja atau Bandung. Di Kalimantan Selatan–Banjarmasin dan Banjarbaru–pikirannya kadang susah diterima. Etos kerjanya yang tinggi juga acap, lebih sering, tersumbat daripada mendapatkan kanal yang lebar dan panjang. Rencana-rencana “besar”nya lebih sering tak terlaksana, dan bilapun terlaksana ia sering mengeluhkan ketidakoptimalannya. Karena, saya kira, daya dukung ekosistem kesenian di Kalsel memang tak cukup apresiatif untuk sebuah proses yang panjang dan mendalam.

Dalam keseharian ia lebih sering tergesa-gesa. Bicara cepat, bergerak cepat, tapi sekitarnya merespon lambat. Saya sering mendengar keluhannya, dan saya lebih sering atau senang menggojlokinya. Mencandainya. Agar keseriusan itu tak menggerogotinya.

Dan demikianlah penyakit yang tak pernah dipedulikan itu menggerogotinya. Ia tak pernah (kelihatan) sakit, dan sekali ia sakit, dan cukup lama diinapkan di rumah sakit, ia akhirnya langsung pulang saja. Ia pulang dalam kesunyian seorang pelukis yang susah menjelaskan dengan gampang pikiran-pikirannya.

Beberapa hari yang lalu saya dikabari HE Benyamine dengan agak berbisik, “Sulis sakit, sudah di RSUD Ulin dua minggu. Tapi ia tak mau keadaannya diketahui kawan-kawan.” Saya terkejut, dua minggu, dan benar-benar tak ada kabar bahkan untuk sekadar status di dinding fesbuknya yang selalu update. Karena itulah saya hanya mengajak teman pelukis lain, Akhmad Noor, untuk mengunjunginya berdua saja. Tangan saya gatal ingin mengabarkannya ketika menunggu Akhmad di depan rumah sakit, tapi karena pesan di ataslah saya membuat foto dan sekadar minta doa.

Ketika saya masuk ke ruangan Anggrek lantai 2 itu, saya hampir tak percaya. Kondisinya benar-benar payah. Pipi dan tangannya bengkak, matanya terpejam, dan ia bernapas dengan tutup masker yang terhubung ke tabung oksigen di sisinya.

Kami hanya diam memandangnya, tak tahu dan tak tega harus memulai bicara apa. Akhirnya setelah hanya memandang sekitar satu jam-an, kami memutuskan pulang. Saya berusaha menyemangatinya dan ia hanya mengangguk sambil tetap terpejam. Dan itulah akhir yang dapat saya kenang darinya, dalam keheningannya.

Sulistyono adalah perupa kelahiran Bondowoso 1967, ia kuliah di Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru. Sejak kecil di Jawa ia sudah melukis, dan ketika masih mahasiswa ia sudah membuat taman yang kemudian mengantarnya jadi pembuat monumen di beberapa daerah di Kalimantan Selatan. Salah satu monumen buatannya adalah yang terletak di tengah bundaran Kijang sebelum memasuki kota Pelaihari, kabupaten Tanah Laut. Dari membuat monumen itulah ia mengenal perupa Misbach Tamrin, yang juga membuat monumen dan membawanya ke pergaulan seniman di Taman Budaya.

Awal-awal pergaulannya ia sering nongkrong di Sanggar Sholihin, dari sini ia mendapat informasi tentang kompetisi seni lukis Indofood Art Award, dari penyair Y.S. Agus Suseno. Ia mengirimkan karyanya dan lolos seleksi pameran. Inilah debut awal-(prestasi)nya sebagai pelukis. Tahun 2007 bersama pelukis Rokhyat dan Nanang M Yus, Sulis mengirimkan karya ke ajang Biennale Beppu Jepang; hanya karya Sulis yang lolos seleksi. Tak tanggung-tanggung ia mendapat tempat kedua Exellent Prize mengalahkan pelukis-pelukis Indonesia lainnya yang telah mapan Nurkolis dan Anggar Prasetyo.

Tahun 2010 karyanya terseleksi kembali dalam Biennale Beijing, dan 2018 mengikuti pameran di Belgia. Ia beberapa kali berpameran di Galeri Nasional Indonesia Jakarta dan Bentara Budaya Yogyakarta. Terakhir, bersama saya dan pelukis Akhmad Noor, ia berpameran di Gelora Bung Karno Jakarta dalam rangka Pekan Kebudayaan Nasional “Wajah Indonesia”, Oktober 2019 yang lalu.

Kepulanganmu sunyi, Mas, tapi kuharap karyamu abadi. Sayang sekali pameran tunggalmu, seperti pernah kita rencanakan bertahun-tahun yang lalu, tak sempat terlaksana. Vita brevis ars longa!@

Facebook Comments