Patah tulang, atau bahkan yang lebih fatal dari itu bisa saja terjadi pada Presiden Jokowi dalam aksinya mengendarai moge menuju acara pembukaan ASIAN GAMES 2018. Tapi kita tahu, itu tidak terjadi.

“Sang idola” layaknya jagoan dalam film-film Hollywood sukses melakukan aksi impossible jumping, ngepot, tancap gas di jalan sepi, zig-zag di lorong-lorong gang dan gedung, hingga akhirnya sampai di tempat acara, Gelora Bung Karno.

Melepaskan helm. Sorotan lampu terang menyilaukan. Lalu sambutan tepuk tangan pun membahana. Lengkap sudah. Kiranya tidak ada lagi yang lebih memukau dari itu.

Maka demi pertunjukan itu, bertambahlah kekaguman dan cinta para pendukungnya.

Cool..! Spectacular..! Amazing..! Keren… keren…!  Terserahlah, mau ditambahkan puja-puji apa saja.

Seorang presiden melakukan aksi yang begitu berbahaya, di saat jalanan macet lantaran demonstrasi, dia memutuskan menunggangi moge. Itu keputusan yang luar biasa. Tidak pernah terjadi sebelumnya sebuah rombongan kepala negara terhambat oleh kemacetan, apapun itu. Bahkan sekelas kepala kota atau kabupaten saja, jalanan sekian puluh meter di depan sudah harus bebas hambatan. Berarti, sesekali boleh saja nanti kalau ada rombongan presiden atau kepala daerah “terhalang” aksi demo atau semacamnya, biar kita bisa melihat aksi yang mengagumkan seperti semalam.

Tapi sudahlah. Yang pasti aksi keren-kerenan sang presiden itu telah berhasil mencuri perhatian, hingga ke negeri tetangga. Juga, sudah pasti, mengundang keriuhan baru di media sosial, yang telah menjadi santapan masyarakat kita sehari-hari.  Para pembenci “sang idola” ini menyebutkan bahwa aksi keren-kerenan Jokowi tidak murni, karena menggunakan stuntman. Mana mungkin presiden kurus itu mampu melakukan aksi berbahaya yang hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang telah terlatih, kira-kira begitulah anggapan mereka. Lengkap dengan bukti-bukti detil seperti cincin di jari kiri Jokowi yang tidak terdapat di jari pengendara “stuntman”, atau tali-tali yang mengangkat moge Jokowi—meskipun saya juga meragukan itu foto benaran.

Lha, secara, presiden kan sehari-hari urusannya memang bejibun. Mana sempat buat latihan mengendarai motor kayak mau atraksi “tong edan” kayak gitu. Lagi pula, apa kita mau ngambil risiko—andai aksi moge itu dilakukan Jokowi benaran,  presiden kita mengalami patah tulang atau yang lebih buruk dari itu. Bayangkan, bila presiden kita celaka—anggap saja beruntung hanya mengalami luka parah, lalu dilarikan ke rumah sakit, dan harus menjalani perawatan intensif. Negara bisa stagnan. Dan tentu tambah dihujat, dan dinyinyirin habis-habisan oleh kubu sebelah.

Nggak usah berdebat panjang-panjang. Sudah pastilah Jokowi bukan Jackie Chan yang tidak pernah menggunakan stuntman atau peran pengganti dalam setiap film actionnya, termasuk yang paling berbahaya sekalipun. Satu contoh, Jackie Chan pernah terjatuh dari lantai dua saat syuting film Police Story yang mengakibatkan tulang pinggulnya retak. Nah, apa kamu mau tulang pinggul presidenmu retak juga..

Itu hanya salah satu perdebatan yang unfaedah seputar aksi Jokowi keren-kerenan dengan mogenya.

Perdebatan tiada guna lainnya adalah, membahas dari sisi dana pelaksanaan ASIAN GAMES 2018 yang katanya menghabiskan duit Rp600 Miliar. Dari kubu sebelah, dana itu dinilai kelewat besar. Perbandingannya yakni dengan pembukaan Piala Dunia 2014 Brasil yang “hanya” memakan anggaran Rp67 miliar—berapa kali lipat itu, hitung aja sendiri.

Ya, berapa pun uang yang digelontorkan tidak akan mampu menyentuh sisi keprihatinan pendukung “sang idola”. Sekalipun disebutkan bahwa negara kita saat ini sedang berada dalam krisis—soal krisis ini saja bisa mengundang perdebatan lain lagi. Alasannya macam-macam, banyak. Silakan Anda cek sendiri, jalan-jalan aja di medsos.

Sadarilah, ibarat pepatah: “Asam di gunung garam di laut, tidak akan bertemu jua cebong dan kampret dalam satu belanga”. Sia-sia. Tidaklah lebih, terkecuali ungkapan-ungkapan kekesalan, yang tidak akan pernah sampai pada tujuan yang dikehendaki dari kritikan itu.

Dan ketiga, hal tidak berguna lainnya adalah, tulisan semacam ini. Buat apa coba…@

NB: Kalau mau jujur, yang lebih keren itu kalau Sandiaga Uno yang naik moge, gimana emak-emak, setuju..?

Facebook Comments