Bila kamu sudah bosan dengan taksi online yang fasilitasnya “wah” dengan bayaran yang “wah”, kiranya kamu bisa coba dengan taksi yang satu ini. Ya semacam uji nyali gitu.

Ada banyak romantika yang akan kamu rasakan bila menaiki taksi yang satu ini. Dan bila “beruntung”, kamu akan mendapatkan apa yang pernah saya alami dengan taksi bermerk Mitsubishi Colt L-300 tersebut.

Pengalaman itu hingga kini masih tersimpan di benak saya. Bila mengingatnya, kerap kali saya menggelengkan kepala. Baiklah, begini ceritanya:

Dulu, setiap satu minggu sekali saya berangkat dari Kabupaten Tapin ke Banjarmasin menaiki taksi ini. Satu ketika, saya menaiki taksi yang sopirnya rada ganjil. Bagaimana tidak? Dia memposisikan mobilnya di tengah jalan dengan kecepatan gila. Bila ada mobil di depan, sekuat tenaga dibalapnya. Dan yang lebih gila, setiap kali berpapasan dengan mobil lain, dia tak mau memberi ruang, dia bersikukuh berada di tengah jalan. Iya kalau yang berpapasan dengan mobil kecil, kadang truk, Bro!

Menyaksikan pemandangan itu, kadang perut saya –mungkin juga penumpang lain- terasa diiris tipis.

Tentu saja, ulah si sopir ini membuat para penumpang dilanda kegelisahan. Ada yang ngucap takbir meski tak begitu nyaring.  Ada yang berusaha membuang ketakutan dengan main game di ponsel. Saya? Daripada harus menyaksikan atraksi menegangkan itu, saya pilih tidur. Tapi doanya bukan doa safar (perjalanan). Juga bukan doa tidur. Tapi, baca syahadatain. Saya pikir-pikir, kalau mati langsung masuk surga. Maunya.

Mobil yang selalu bergoyang hebat karena dipacu terlalu cepat, membuat tidur saya tak nyenyak. Dan saat terbangun, saya menyaksikan pemandangan yang melengkapi keganjilan di hari itu. Saya seolah-olah bangun tidur, tepat di dalam mobil rally yang sedang balapan. Seorang nenek yang duduk bersisian dengan sopir karena saking takutnya, memilih memakai helm.

Sontak, saya tak bisa menahan tawa. Mendengar tawa saya, penumpang lain menengok, mempertanyakan kenapa tertawa. Saya pun memberi tahunya dengan memonyongkan mulut ke arah si nenek.

“Rasa di mobil rally kita?” kataku, yang disambutnya dengan tawa.

Namun tawa tak berlangsung lama, kami kembali disibukkan dengan situasi menegangkan. Dan saya kembali memperbaharui iman, baca syahadat, entah yang keberapa kalinya. Gila![]

Facebook Comments