Kelangkaan minyak goreng di tanah air tidak ada yang tahu sampai kapan berakhir. Sejak awal tahun 2022 kelangkaan ini belum bisa teratasi. Stok yang terbatas dan harga yang melonjak membuat sejumlah kalangan harus memutar otak untuk mengatasi keterbatasan.
Olehnya Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kota Banjarbaru menggelar Workshop Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Inklusi Untuk Kesejahteraan berkerjasama dengan Komunitas Bonsai Kelapa Borneo.
Pelaksanaan Workshop Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Inklusi Untuk Kesejahteraan ini berupa pelatihan pengolahan minyak kelapa secara modern. Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua dan Tim Penggerak PKK Loktabat Utara, Anggota Komunitas Bonsai Kelapa Borneo, Duta Baca Kota Banjarbaru, Masyarakat sekitar Loktabat Utara, serta Aisyiyah Kota Banjarbaru.
Kegiatan yang berlokasi di Jalan Kebun Karet Gang Jolali Loktabat Utara 8/3 kemarin dibuka langsung oleh Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Banjarbaru (Darpusda), A.Mahrufin. Dalam sambutannya Kepala Darpusda mengharapkan adanya pengoptimalisasian peran dinasnya dalam membantu dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“Peran Darpusda tentunya memberikan pengetahuan dan pengalaman untuk pembaca lalu menyinergikan dengan kebutuhan apa yang diperlukan oleh masyarakat”, Ungkap A.Mahrufin.
Kegiatan pelatihan yang dimoderatori Kepala Bidang Promosi, Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan Ahmad Mardhani ini melibatkan 25 warga setempat.
Teknik dan pembuatan minyak kelapa yang disampaikan oleh Musliani, warga yang berhasil mengolah kelapa menjadi minyak murni. Kelapa tua yang telah diparut, diperah santannya. Lalu didiamkan selama 8 jam, dari sana kana terpisah santan murni dan airnya. Santan murni itulah yang diolah. Wargapun menyambut dengan sangat antusias. Betapa tidak, pengolahan secara modern yang hanya memerlukan waku tak kurang dari 30 menit benar-benar menjadi solusi alternatif untuk ibu-ibu yang kesulitan membeli minyak goreng karena keterbatasan ekonomi.
Subkoordinator Bidang Promosi Perpustakaan, Nadia Saleha Mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan upaya lain dari promosi perpustakaan. “Saya berharap nantinya ada beberapa kegiatan lagi yang akan kita laksanakan terkait dengan Perpustakaan Berbasis Inklusi.”
25 orang peserta yang dibagi menjadi empat kelompok tersebut merasa senang karena kegiatan tersebut membuka cakrawala pikir membuat minyak goreng yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Selain bahan kelapa yang mudah dicari, cara pembuatannya pun relatif mudah dan singkat.
Dengan demikian giat Darpusda yang selama ini diketahui hanya sebagai perpustakaan secara pasif yaitu tempat yang didatangi untuk membaca dan pinjam buku saja terbantahkan, karena dinamika zaman dan kebutuhan literasi sudah begulir. Giat inklusi sosial masyarakat harus didukung penuh dengan informasi keberaksaraan masyarakat dengan perpustakaan.@