INI bukan kisah Abu Nawas. Tapi maknanya mungkin sama-sama bikin arif dan awas.

Tersebutlah dulu masa kecil, bila saya dan adik-adik dianggap nakal, saling bertengkar dan bikin ribut, ayah akan memarahi kami sebagaimana kebiasaan orang tua di mana pun. Bahkan tidak jarang jika kenakalan kami dianggap keterlaluan, ayah melecut kami menggunakan segenggam lidi. Lalu kami menangis sambil meminta maaf. Namun setelah semua reda, ayah mengatakan kepada kami bahwa ia sebenarnya tidak tega memukul badan kami.

“Melihat tubuh kalian itu ayah iba, tapi ayah harus memukul perangai yang ada dalam diri kalian!” begitulah ayah selalu menjelaskan tindakannya. Ya, apa yang dilakukannya adalah memukul perangai kami yang membuatnya tak berkenan.

Kini, bertahun-tahun kemudian, saya sering ingat kisah seorang ayah yang memukul perangai anak-anaknya. Sesuatu yang unik, meski saya rasa sangat mengena. Bayangkanlah, seorang ayah bermaksud memukul tingkah-laku si anak yang dianggap nakal atau tak berkenan, jadi bukan memukul tubuh wadagnya. Akan tetapi, tentu saja memang ia akan memukul fisik si anak—sesuatu yang tak terhindarkan—tapi jauh di dalam hatinya yang ia pukul adalah sikap dan tindak-tanduk si anak. Jadi pukulan fisik itu mohon dilihat secara simbolik.

Karena itulah, tidak heran, sehabis si ayah melecut si anak, si ayah akan balik membujuk dan menenangkan, jika perlu membelikannya jajan atau mengajaknya jalan-jalan. Yang lebih mengharukan biasanya di malam hari, ketika anak-anaknya sudah tertidur, si ayah akan menyingkap selimut anaknya satu persatu, sambil memandangi wajah si anak yang tidur damai. Dan si ayah akan mencium kening si anak sebagai pemakluman bahwa ia benar-benar mencintai buah hatinya lebih dari sekadar melecutnya siang hari.

Dunia simbolis ini sangat menarik untuk didalami, baik secara fisik maupun psikologis. Dalam kehidupan yang lebih luas akan segera tampak bagaimana kita mengkritik tindakan orang yang kita sayangi. Cara menyayangi tidak lagi dilihat dengan kacamata biasa, melainkan dalam perspektif yang lebih luas.

Jika kita mencintai pemimpin kita, maka sudah sewajarnya kita mengkritik, bila perlu dengan keras. Tentu dengan harapan tidak merusak hubungan silaturahim karena kita tahu bahwa yang kita kritik itu adalah sikap dan tindakannya yang tak berkenan. Bukan sosok-fisiknya yang kita kenal. Sebaliknya, seorang pemimpin yang dikritik atau dihujat sekalipun, harap tidak langsung naik pitam dengan memberengus sana-sini. Sebab kritikan bukanlah tanda benci melainkan bentuk lain kasih sayang yang nilainya jauh lebih esensial.

Maka sebagaimana anak-anak yang akhirnya memaklumi sikap sang ayah yang telah melecut perangainya, seperti itulah hendaknya pemimpin kita yang ada di eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Jika ada yang bertanya bukankah pemimpin itu yang lebih pantas mewakili sosok ayah yang bisa melecut perangai kita, rakyat banyak ini?

Tentu, pemimpin juga bisa melecut perangai rakyatnya, termasuk melecut semangat dan motivasinya yang kendor dalam berbangsa dan berbahineka. Sebaliknya, “rakyatlah sumber ilmu”, kata sajak Rendra dan tahta itu milik rakyat, dawuh Sri Sultan HB IX. Maka layaklah rakyat melecut perangai pemimpinnya yang menyimpang. Atau tidak ada salahnya kita saling lecut, tetapi bukan lagi melecut fisik wadag dengan kekerasan, melainkan melecut perangai, tingkah-polah, berlandaskan kasih sayang. Sampai di sini saya teringat permainan tradisional kita yang saling lecut, seperti perang pandan di Tenganan, Bali atau perang topat di Lombok; saling lecut, namun bermakna persatuan dan [email protected]

Facebook Comments