BAGAIMANA mendapatkan rasa kopi yang sesungguhnya? Maksud pertanyaan saya adalah bagaimana kita secara pribadi bisa menemukan ada aroma dan rasa pisang, lemon, vanila, hazelnut, atau bahkan rasa karamel mentega dalam secangkir kopi, lepas dari hasutan para coffee-snob? Jawabannya sederhana, minumlah kopi tanpa campuran apapun, tidak gula, tidak pemanis apapun, apalagi susu –called latte, for prestige.  

Keluhan itulah yang muncul dari maraknya kafe-kafe kopi yang menu utamanya kopi susu. Kopi susu mendisrupsi gelombang ketiga kopi. Gelombang ketiga kopi mengacu pada tren kesadaran masyarakat di negara penghasil kopi untuk mengerti dan menghargai nilai dan rasa kopi yang mereka hasilkan. 

Konon, kopi –tanpa gula- diseduh dengan berbagai cara, V60, aeropress, tubruk, atau mesin espresso, demi satu tujuan: untuk mendapatkan rasa kopi sesungguhnya. Saya sering memutar bola mata ketika ada yang mengatakan menemukan rasa manis dalam segelas kopi tanpa gula. Tapi bagi mereka yang terbiasa minum kopi tanpa gula, rasa manis itu memang muncul. Orang-orang macam ini berkeinginan kuat agar orang lain juga bisa menemukan manis yang sama dalam kopi tanpa gula itu. Hal inilah juga yang mendorong kelahiran kedai kopi Hudes beberapa tahun silam.

Dalam kedai itu, ada keinginan untuk menceritakan bagaimana kopi diperkenalkan pasukan Turki pada tentara Eropa ketika suatu saat pada perang di masa silam, pasukan Eropa menemukan berkarung biji hitam legam yang ditinggalkan pasukan Turki yang mundur. Biji hitam legam itu kemudian mereka seduh dan mereka menyukai efek biji itu pada tubuh mereka.

Juga ada cerita yang ingin dialirkan tentang bagaimana kopi mengubah kebiasaan minum bir orang Eropa hingga hari ini. Juga tentang pentingnya meminum kopi pada pagi hari, bukan malam, untuk memaksimalkan manfaatnya. Antusiasme ini adalah antusiasme serupa yang menghinggapi ratusan bahkan mungkin ribuan orang lain di negeri ini pada fase kopi gelombang ketiga, obsesi untuk mengedukasi orang lain tentang kopi.

Impian yang dengan cepat memudar, karena setelah beberapa bulan, 80% pelanggan Hudes adalah pemesan kopi susu yang memakai bar-nya untuk selfie karena tampak instragamable.  Kopi hitam yang terdisrupsi kopi susu ini memberikan kita pelajaran tentang bagaimana idealisme yang substansial, begitu kukuh dan mapan, akan dengan mudah diserang badai selera pasar. Keinginan mengedukasi masyarakat akan runtuh di hadapan euforia masyarakat itu sendiri yang cenderung pada sebuah tren yang seringkali tidak masuk akal, tidak edukatif, dan celakanya; destruktif.

Sekarang lupakan kopi sejenak, saya akan menceritakan perbincangan saya dan seorang mahasiswa dalam perjalanan menuju sebuah even literasi. Konon mahasiswa ini mengidolakan saya. Perbincangan itu tentang kebiasaan bacanya. Di awal masuk kuliah, anak muda ini sangat mengidolakan Andrea Hirata. Baginya penulis asal Belitong itu manusia jelmaan dewa. Sekarang dia bilang dia mengidolakan Eka Kurniawan. Pergeseran bacaan yang signifikan ini disebabkan satu hal saja, seiring berjalannya waktu, ada begitu banyak buku yang dibacanya sehingga ia tak lagi berkutat pada kenyamanan dunia yang ditawarkan Andera Hirata. Selama kuliah ia dituntut dan memang dengan sukarela mengembangkan kebiasaan baca yang baik.

Saya lanjut bertanya, sejak kapan ia mulai tertarik membaca. Sejak orangtuanya membelikan buku cerita para Nabi saat ia kecil, jelasnya. Orang tuanya bukan tipikal orang tua high education yang menumpuk buku bacaan tebal di meja belajar anak, orang tuanya bahkan tak terbiasa membaca. Tapi mereka membelikannya buku. Dia sangat suka membaca setelahnya, dan ia menyukai perpustakaan. Sayang sekali, perpustakaan sekolah mengkhianatinya. Ia membaca novel Atheis saat SD, dan ia sama sekali tidak mengerti isinya. Perpustakaan di kota kelahirannya tidak menyediakan bacaan yang layak untuk tahapan usianya.

Maka kita kembali menyoal mengenai substansi. Jika substansi rasa kopi ada dalam kopi hitam tanpa gula, apa substansi menggiatkan literasi? Apa yang kita butuhkan untuk mengasah kebiasaan baca dan meningkatkan kemampuan baca kita? Serangkaian even? Festival? Lomba? Atau justru hal yang sangat sederhana: buku. Buku yang sangat banyak dengan peruntukan beragam usia. Buku lama dan buku baru. Buku cetak atau digital. Buku, buku, dan buku. Apa yang membuat seorang anak kecil menyukai membaca? Karena orangtuanya membelikannya buku atau karena seseorang meminjamkannya buku. This is all about it.

Mahasiswa yang ternyata memang mengidolakan saya itu jelas mengharapkan ruang baca di program studi kampus menyediakan sejumlah novel read-list-nya. Permintaan yang semoga bisa diwujudkan karena persoalannya kembali pada apakah pengadaan buku menjadi suatu hal yang dirasa substansial atau justru tidak cukup penting bagi pengambil kebijakan.

Jika substansi membaca adalah membaca dan buku, buku yang banyak. Lalu apa substansi menulis? Pertanyaan ini perlu dijawab oleh mereka yang mengaku penulis. Apa ukuran ideal seorang penulis? Sederhana sekali, lebih sederhana dari tutorial memakai kerudung pashmina yang susah banget itu, ya mereka menulis, dan membaca untuk bisa menulis. Titik, tanpa bercak lainnya. Tapi, layaknya kopi susu versus kopi murni, idealisme sederhana ini runtuh di hadapan ‘arus pasar’ yang lebih laku. Sebagian –besar- dari mereka tidak menulis, mereka mengobrol, mereka beramai-ramai menghadiri suatu kemeriahan, mereka berswafoto, mungkin sambil minum kopi susu. Tapi sedikit dari mereka yang menulis, lebih sedikit lagi yang membaca sebelum menulis.

Berbeda dengan kopi susu yang dapat terus diminum tanpa merasa bersalah pada pegiat kopi hitam tanpa gula, karena toh tak ada pertanggungjawaban moral apapun dari kegandrungan minum kopi susu, mereka yang menamakan diri mereka penulis memiliki tanggungjawab untuk menulis. Semacam tanggungjawab identitas, mirip dengan hantu yang punya tanggungjawab menakut-nakuti. Mereka yang mengaku sebagai penulis tak boleh berhenti menulis, dan membaca untuk bisa menulis. Tak peduli apakah saat itu mereka sedang patah hati, jatuh cinta, sedang melarat atau mendadak kaya, mereka harus tetap menulis. Saat mereka berhenti menulis, tak peduli kejayaan mereka di masa silam, mereka tak bisa lagi disebut penulis, aka penyair, aka cerpenis, aka novelis, aka esais, dan seterusnya dan seterusnya. Sederhana sekali, perlu menulis untuk disebut sebagai penulis.

Dan akhirnya, sementara November, di mana hujan mengajak kita kuyup di jalanan basah dan sendu karena rindu yang dialirkan di antara rerintiknya, mari membaca sebuah buku dan wahai para penulis, [email protected]

Facebook Comments