KEMBALI ke Paris. Sepanjang jalan menuju Perpustakaan Nasional, kunikmati gedung Bursa . Terbayang dulu aku ikut bermain (menanam saham ) di tanah kelahiranku. Kupandangi gedung megah itu dengan pilar-pilarnya yang kokoh berjajar menghiasi depan bangunan.  Di dalam gedung itu banyak orang-orang egois (menurutku), yang kebanyakan  bekerja untuk mereka yang selalu ingin lebih kaya dan lebih lagi.

Aku menyesal (dulu) telah terjun ke sana, untunglah aku putuskan hubungan dengan dunia itu ketika aku sadari bahwa dalam hidup ini haruslah berbagi, karena “Untuk apa dan mengapa harus memiliki sesuatu?”

Kutinggalkan gedung Bursa dan kubaca tulisan di gedung sebelahnya, Agen France Press (AFP). Kini aku lebih tertarik dengan bangunan itu yang berjarak  hanya 10 meter dari gedung Bursa (seberang jalan) yang menurutku orang-orang yang bekerja di dalamnya lebih berpikir dan manusiawi.

Di gedung AFP, para jurnalis bekerja siang malam untuk membuka mata masyarakat tentang apa yang terjadi, baik berita dalam negeri maupun dari luar negeri. Menjadi seorang jurnalis harus berani menulis kenyataan. Untuk perkembangan negeri. Ya, aku tahu tidak gampang menjadi seorang jurnalis. Kadang harus berani berkorban untuk pengabdian sesama terhadap mereka yang membutuhkan.

Pergolakan sosial yang mencakup ekonomi, politik dan sebagainya, di gedung itu diolah dan dirangkai berita/ informasi untuk semua masyarakat. Dari mereka aku belajar banyak selama bertahun-tahun di negeri rantau.

Seandainya para jurnalis di negeri kelahiranku bisa berjuang seperti para jurnalis negeri ini (Perancis ), pasti aku bangga. Mungkin nanti, suatu hari nanti…, aku yakin. Itupun jika demokrasi diterapkan.

Kulanjutkan menelusuri jalan itu di mana aku tiba di gedung yang mengingatkan aku pada  seseorang yang pasti senang bisa mengunjungi tempat itu. Ya… Biblioteque National de France ( BNF ),  tempat yang aku rasakan penuh sejarah dan ilmu pengetahuan.

Sayang sekali ketika aku kunjungi, BNF sedang dalam renovasi, jadi tidak bisa masuk ke semua ruangan, termasuk ruang di mana aku mau nikmati walaupun sangat sulit untuk  bisa memegang buku-buku itu (kecuali untuk penelitian dan harus ada ijin khusus). Buku-buku lama yang dilindungi, yang berumur ratusan tahun, yang ditulis dengan tangan dan tinta. Mesin ketik belum ada waktu itu apalagi komputer. Selain dirawat buku-buku tua  juga direnovasi, tentu dengan teknik waktu itu di mana buku-buku tersebut lahir.

Di Biblioteque (perpustakaan itu), terdapat sejarah Perancis, dari awal kehidupan ini, zaman batu, atau lebih jauh lagi sampai jaman (gila) saat ini. Juga bisa aku temukan tulisan /cerita tentang negara lain, dunia, kehidupan, alam, seni, dan sebagainya masih banyak lagi.

Ada juga pertunjukan theatre, music, expo lukisan, peninggalan sejarah, art modern ataupun even lainnya yang berhubungan dengan culture  karena  perpustakaan nasional  (BNF) tidak sekadar tempat untuk membaca buku.

Membaca buku di Perancis adalah budaya. Dari anak-anak sudah terbiasa dengan buku. Dimulai dengan cerita sebelum tidur sampai  menjadi dewasa,  hingga di antara mereka akhirnya menjadi seorang penulis. Tidak heran Perancis juga menjadi negeri literature.

Kubandingkan di negeri kelahiranku, membaca seperti kegiatan cuma-cuma. Budaya membaca tidak begitu menjadi prioritas untuk kebanyakan warga. Yang penting tidak buta huruf, titik. Mungkin kerelaan pemerintah membudidayakan membaca yang tidak begitu dipentingkan.

Membaca yang masih menjadi kemewahan untuk segolongan masyarakat.  Mungkin mereka (orang-orang) tertentu, takut rakyat menjadi lebih pandai ( bertambah pengetahuan ) dengan membaca, sehingga tidak mudah “diam” untuk meluapkan isi hati.

Dan juga, untuk apa harus membeli buku ?  Sudah mahal… banyak sensor lagi isinya. Untunglah ada juga mereka terutama anak-anak muda negeriku yang suka membaca. Juga ada yang mengerti, mereka belajar  melalui membaca kehidupan.

Kuteruskan perjalanan ini ke tempat lain. Aku tidak ada niat mengantre masuk ke Louvre Museum. Tempat yang juga megah dan penuh sejarah, semua turis dari dunia antre untuk bisa berfoto atau selfi, dan juga mengambil foto Monalisa (Leonardo da Vinci), tapi aku tidak mau menjadi turis dan aku datang ke Louvre bukan untuk berselfi atau sekadar menjepret Monalisa.

Menghindari full manusia aku tinggalkan Louvre, aku akan kembali ketika sepi pengunjung sehingga bisa kunikmati koleksi musium itu dengan puas.

Aku berputar 180°, kulangkahkan kaki menuju Gedung Opera. Di tempat ini pun turis  berfoto dan berselfi. Ya…, namanya turis abad XXI. Yang penting selfi atau berfoto dan akhirnya masuk media sosial.  Itu hak masing-masing.

Aku putuskan untuk duduk di tangga di depan gedung itu seperti beberapa turis asing dari luar Perancis. Ketinggian terasnya dan tangga-tangga yang membuat gedung Opera itu kelihatan mendominasi bangunan di sekitarnya.  Kupandangi arsitektur di depanku, jauh di ujung di depan kulihat museum Louvre, di tengah-tengah keramaian orang lalu lalang dan bus-bus dengan atap terbuka yang membawa turis berkeliling kota.

Tidak biasa aku berdiam di tempat yang ramai. Aku berhenti karena aku dengar suara merdu mengalunkan lagu-lagu indah dengan petikan gitar elektro accoustic. Ya… Pasti ada ampli yang membuat suara itu mendominasi di tengah kesibukan di depan gedung yang megah. Pengamen dengan gaya seperti  artis sedang live konser , melantunkan lagu-lagu sambil menunggu kepingan-kepingan uang koin dari para pejalan kaki dan turis yang lewat di depannya.

Sambil kunikmati dalam hati nyanyian itu, sementara pandangan mataku menatap jauh Le  Louvre  Musée di antara gedung-gedung Haussmannien yang tertata seperti geometri.

Arsitektur yang cantik, bisik hatiku.

Termenung aku menikmati pemandangan itu. Di tengah-tengah lalu lalang manusia, terutama turis asing,  kendaraan dan juga suara, di persimpangan itu aku terpaku.

Memang Paris kota cantik dan aku akui kecantikannya. Aku terbuai olehnya. Mungkinkah aku jatuh cinta…?

Pourquoi-pas ?

À suivre….@

Facebook Comments