‘MAN from Mars, Girl from Venus,’ demikian judul buku masyhur John Gray yang kemudian hari popular sebagai sebuah ungkapan untuk menyatakan bahwa perempuan dan lelaki memiliki kesenjangan pemahaman antarmereka yang sulit diatasi.

John Gray menyatakan bahwa kesenjangan itu muncul karena secara psikologis memang ada perbedaan di antara dua jenis kelamin, baik cara berpikir, cara bersikap, dan cara bertindak sehingga respon mereka terhadap suatu hal akan berbeda.

Di kemudian hari, para feminis sering menggunakan kata ‘bias’ terkait cara pandang lelaki terhadap perempuan dan persoalan-persoalannya. Demikian pula sebaliknya, ketika perempuan memandang lelaki, bias akan terjadi.  Maksudnya adalah, ketika lelaki mencoba memahami perempuan dan hal ihwal terkait persoalan perempuan, maka pemahaman itu cenderung bias karena lelaki cenderung menggunakan parameter kelaki-lakiannya dalam upaya memahami perempuan.

Lelaki tak akan bisa masuk sepenuhnya ke dalam dunia perempuan dengan identitas kelaki-lakiannya. Terlebih dalam dunia patriarki di mana lelaki memegang kekuasaan yang cenderung mendominasi di segala lini kehidupan, bias itu sangat terasa karena memahami perempuan dengan parameter kelaki-lakiannya ini menjadi sesuatu yang ajeg, jika tidak bisa disebut sebagai satu-satunya cara yang diketahui lelaki untuk memahami perempuan.

Hal yang sama juga lazim terjadi ketika seorang sastrawan lelaki menulis tentang perempuan. Saat sastrawan lelaki membicarakan perempuan di dalam karya-karyanya, bias dapat terjadi jika sang sastrawan mendefinisikan perempuan sesuai dengan pandangan (patriarki)nya. Misalnya, perempuan yang qualified didefinisikan dengan dua atribut, cantik dan lemah lembut. Maka ketika membuat tokoh antagonis perempuan, maka dia akan jelek atau penuh dengan caci maki. Salah satu contoh yang sangat masyhur adalah gambaran Nenek Sihir di dongeng Putri Salju-nya Christian Anderson.

Lelaki juga cenderung menggambarkan perempuan melalui fisiknya dengan detil yang kadang mencengangkan -Marah Rusli menggambarkan fisik Siti Nurbaya sampai dua halaman-, sementara agaknya -suatu hipotesis yang masih perlu diuji- penggambaran lelaki tentang lelaki cenderung lebih simpel dan mengedepankan kompleksitas karakter daripada fisik.

Meski demikian, hal yang (dianggap) umum terjadi ini pada beberapa kesempatan menemukan antitesisnya. Pramoedya Ananta Toer misalnya memosisikan perempuan dalam perspektif yang cenderung feminis dalam tetralogi Pulau Burunya. Boleh dikatakan dia melepaskan atribut kepatriarkiannya saat berurusan dengan tokoh-tokoh perempuan dalam novel-novel itu: Nyai Ontosoro, Magda Peter, Sarah dan Miriam de La Croix, Mei dan Prinses van Kasitura, bahkan Annelies. Perempuan-perempuan ini tidak digambarkan sebagai perempuan-perempuan dengan pesona fisik tertentu (kecuali mungkin Annelies), namun karakter mereka sangat kuat: punya sikap dan keteguhan hati serta cerdas.

Beberapa novel lain yang ditulis lelaki mungkin memiliki pandangan serupa Pram saat menulis tentang tokoh-tokoh perempuannya.

Maka, ketika kita disuguhi sebuah karya sastra yang ditulis oleh seorang lelaki di mana karya itu hampir -jika tidak bisa dikatakan semua-  keseluruhannya membicarakan tentang perempuan, maka hal di atas perlu dipertanyakan kembali. Bagaimana sang penulis lelaki membicarakan perempuan dalam karyanya? Apakah Penulis dengan sengaja atau tidak telah menjadi bias?  Apakah sang penyair menyadari bahwa dia bias?

Sekarang, mari kita membicarakan Wajah Seorang Ibu, sebuah antalogi puisi karya penyair Kalimantan Selatan Arifin Noor Hasby.

Arifin Noor Hasby (ANH) termasuk penyair senior Kalimantan Selatan dengan konsistensi yang telah teruji waktu. ANH mulai menulis puisi sejak tahun 1980-an dan bertahan dengan genre itu sampai hari ini. Itu artinya, dalam kurun 39 tahun lamanya, ia masih bersetia dengan puisi. Puisi-puisinya tersebar seantero nusantara (dan luar negeri) karena termaktub dalam berbagai antalogi puisi bersama penyair-penyair nasional yang lain. Antalogi tunggalnya sendiri telah dibukukan dalam Kota yang Bersiul (2012), Salawat Laut (2013), dan Rumah Lanting (2017).

Hampir empat dasawarsa yang dilaluinya, ANH telah menerbitkan tiga antologi puisi tunggal, dan untuk yang keempat ini agaknya ANH mencoba untuk membuat antologi tematik. ANH khusus membincangkan perempuan dan anak (dalam konteks mereka sebagai produk milik perempuan).

Dari titimangsa tiap puisi kita dapat membagi penulisan puisi-puisi di antologi ini ke dalam dua arus waktu yaitu sebelum tahun 2000 dan setelahnya. Perbandingannya adalah sekitar 70% untuk puisi sebelum tahun 2000 dan 30% untuk puisi sesudah tahun 2000. Hal ini meunjukkan bahwa disadari atau tidak oleh ANH, ia telah lama membicarakan tentang perempuan dalam puisi-puisinya. Maka akan menarik untuk melihat, sepanjang waktu itu, bagaimana ANH membicarakan para perempuannya.

Sepenelusuran Saya, perempuan dalam puisi-puisi ANH dalam antalogi ini dapat dibagi menjadi tiga jenis: (1) ibu, (2) perempuan yang dicintai, (3) perempuan lain selain perempuan (1) dan (2). Meskipun sama-sama perempuan, ANH memosisikan mereka secara berbeda. Hal itu terlihat dari diksi-diksi yang dipilih dan kemungkinan makna yang diendapkan pada masing-masing puisi.

 

Perempuan sebagai Ibu

            Paling tidak, ada sepuluh puisi yang membicarakan tentang ibu dan secara eksplisit memuat kata ibu di dalamnya. Puisi-puisi itu adalah Malam Hari Anak-Anak, Sebuah Episode Pengabdian, Syair Anak-Anak Musim , Menulis Sajak dalam Lamunan Kopi, Bahasa Ibu, Rumah, Wajah Seorang Ibu, Burung-Burung Waktu, dan Membaca Percakapan.

Ketika membicarakan ibu, kentara sekali ANH memuliakannya. Diksi-diksi yang digunakan cenderung takzim, didominasi cinta, dan pengagungan seperti terdapat dalam puisi [Di Rumah Ibu] Di rumah ibu aku bermimpi jadi anaknya/ setelah lahir dari rahim cintanya/ yang membagi pagi dan malam/ dengan rindu yang abadi/ aku belajar menjadi air mata, gelak tawa/ dan lagu kesetiaannya; atau puisi [Kepada Dharma Wanita] Ibu, selama dua puluh tahun/ telah tak terhitung sulaman kasih/ yang engkau rajut dalam senyuman lembut/ sebagai seorang  ibu, isteri, sahabat  atau kekasih tercinta/ semua itu membentuk citra dharma wanita :/ senantiasa belajar memahami kesetiaan!

Puisi-puisi itu riuh dengan diksi cinta, rindu dan ketakziman lainnya yang menunjukkan betapa dalam pandangan ANH, perempuan sebagai ibu mirip dengan manusia suci. Barangkali pandangan ANH ini juga menjadi pandangan penyair lelaki lain ketika menggambarkan tentang ibunya. Kita bisa menengok misalnya puisi Sapardi Djoko Damono [Ibu], Joko Pinurbo [Ibu yang Tabah], atau W.S. Rendra [Ibunda]. Semua bernada sama, ketakziman, dan cinta. Hingga akhirnya ini bisa dianggap stereotipe cara berpikir penyair (lelaki) tentang ibu-ibu mereka.

Ibu adalah pendidik bagi anak-anaknya, demikian kesan lain yang bisa ditangkap dari puisi-puisi tentang ibu ini. Hal itu dapat dibaca dari larik-larik puisi berjudul [Malam Hari Anak-Anak] berikut: Malam hari anak-anak masih/ Mendengarkan petuah dari bibir ibunda/ Meski sering dikalahkan kantuk/ Tapi ia tak pernah kehilangan bentuk/ Kasih sayang/ Ia pun terus belajar memahami kebenaran/ Meski kita menyalahkannya/ Tanpa alasan, atau puisi [Wajah Seorang Ibu] tapi kau masih ingat juga pesannya/ Di bawah catatan harian biru: “tekunilah kejujuran/ sampai dunia memahami kehidupan’, atau [Wajah Seorang Ibu] Wajah seorang ibu adalah/ cermin tempat kita belajar/ merias cakrawala kehidupan/ sebagai anak kandung peradaban.

Ibu dalam pandangan ANH adalah pusat pembelajaran. Tempat segala kebijaksanaan  dan cinta berasal. Anak-anak yang mengabaikan ibunya adalah anak-anak yang malang. Potret anak-anak macam itu dapat kita lihat misalnya dalam larik-larik puisi berjudul [Syair Anak-Anak Musim]: Dalam lamunan kita, ia berangkat mencari/ legenda hujan dan robekan peradaban/ tapi ia belum sempat berdo’a,  melihat bianglala/ dan memahami ayat-ayat perahu/ padahal ibu kandungnya tak siap kehilangan waktu atau pada puisi [Rumah] barangkali aku pun tak menghayati makna rumah/ seperti yang selalu kau tanyakan pada ibunda/ tapi  mestikah kita melipat kepercayaan cinta/ bila rumah-rumah terus mengasingkannya/ sebelum anak-anak tumbuh di sana? Di sini sekali lagi penguatan posisi perempuan sebagai ibu dikukuhkan.

 

Perempuan sebagai yang dicintai

            Dalam konteksnya sebagai yang dicintai dan dirindukan, ANH menggunakan diksi-diksi melankolis nan syahdu pada perempuan. Menurut saya, perempuan semacam ini mencetuskan puisi-puisi liris terbaik dalam antalogi ini. Kita bisa melihat contohnya dalam puisi berjudul [Kita Masih Bercakap] Kita masih bercakap tentang jarak/ antara cinta dengan kecemburuan/ ketika gerimis merenda sunyi/ di luar jendela, atau puisi [Nyanyian Senja] Kau yang masih belajar membesarkan jiwa/ tiba-tiba tergagap memandang senja yang menua/ menunggu hujan/ menyampaikan isi hatiku: betapa sulitnya menghindari rindu padamu!

Puisi-puisi tentang perempuan ini sarat dengan diksi cinta yang berbeda dari diksi cinta pada ibu yang penuh ketakziman. Kesetiaan, perpisahan, kecemburuan, cinta, dan rindu adalah nuansa yang menguar dari puisi-puisi jenis kedua ini. Ia adalah diksi-diksi hasrat hati seorang lelaki. Maka dalam cinta, lelaki tak ubahnya perempuan, memproduksi kata-kata yang keluar dari kegelisahan hasratnya, melankolis, dan syahdu. Dalam cinta, lelaki dan perempuan bisa setara dalam kekonyolan dan kebijaksanaan.

 

Perempuan sebagai Perempuan pada Umumnya

            Jika pada ibu, dan pada perempuan yang dicinta, ANH berlembut-lembut dan mesra, hal yang berbeda terjadi pada puisi-puisi ANH terkait perempuan-perempuan lainnya. Menurut Saya, ia telah jatuh pada stereotipe cara berpikir lelaki yang melihat perempuan lebih physically. Diksi yang digunakan tak lepas dari bagian-bagian fisik perempuan: lekuk tubuh, aroma tubuh, rambut, telinga, senyum. Misalnya pada puisi [Perempuan dari Peribahasa] Anjing masih menggonggong, meski kafilah telah berlalu dari rumahmu/ Sehabis seorang perempuan mengucapkan tubuhnya/ Dalam peribahasa yang dituliskan dunia malam/ Sebagai jalan menghapus kecemasan

Pada puisi [Ulang Tahun Bunga] Aku menyaksikan aroma tubuhmu menawarkan/ kekosongan demi kekosongan langkah/ kepada sejarah yang menggigil/ membaca cerita pendek kemerdekaan  manusia/ atau pada puisi [Surat kepada Perempuan Musim] apa kabar perempuan musim?/ masih adakah lekuk tubuhmu yang tersisa/ dari bidikan kamera/ yang menawarkanmu dalam film dan majalah/ dengan gaya paling gairah.

            Selain berorientasi pada diksi tubuh perempuan, hal lain yang patut menjadi perhatian adalah digunakannya diksi-diksi yang mengesankan kekelaman-, misalnya bau ranjang, ranjang bugil, pisau, darah perempuan, yang dapat kita temukan misalnya dalam puisi berjudul [Malam di Sebuah Kafe] di luar kafe, koridor-koridor malam menemukan sisa/ parfum seorang perempuan, robekan tisu yang berwarna/ manusia, dan masa silam yang setia. Aku bayangkan/ kau berkemas, setelah peradaban menyiapkan gelas,/bahasa tamsil, dan ranjang yang bugil menunggu pagi/ dari raut wajahmu memantul masa kanak yang terlupakan ! atau pada puisi [Catatan Warung Malam] Di warung-warung malam, pisauku mabuk/ mencium darah/ perempuan. Kalau engkau/ pernah mengenal pisau, barangkali ia pun/ akan menceritakan nasibnya yang aneh itu.

            Bagi ANH, perempuan juga dekat dengan airmata dan luka. Kita bisa temukan itu dalam puisi [Malam Hari Perempuan] Ada beribu teriakan yang tertahan di dalam hati/ Katanya, lalu berubah jadi robekan-robekan puisi/ Yang beratus tahun hilang dari ingatanmu/ Ketika wajahnya penuh air mata kekalahan/ Air mata ketakutan air mata kekalahan/ Air mata ketakutan air mata kemarahan air mata kekecewaan, dan puisi [Perempuan dan Sebilah Pisau] tapi perempuan itu masih sangat ragu/ karena dalam pikirannya/ sebilah pisau adalah seiris luka/ padahal sejak lahir ia telah menghirup luka.

            Gambaran perempuan jenis ketiga ini menyadarkan bahwa dalam memaknai perempuan dalam puisi-puisinya, ANh tak bisa melepaskan diri dari kerangka berpikir kelelakian yang cenderung patriarkis; berorientasi fisik, dan menghakimi. Hal itu dapat dipahami sebagai sesuatu yang biar bagaimana pun juga tak bisa dielakkan mengingat ANH seperti dunia hari ini adalah produk dari cara berpikir dan bertindak patriarkis. Karena kognisi sosial lelaki memang seperti itu, dan ANH belum bisa melepaskan diri dari itu. Meski demikian, di akhir pengantar ini saya akan membutiri satu puisi yang saya anggap anomali yang ditunggu-tunggu, ketika akhirnya ANH bisa memberikan atribut ‘berlian’ pada perempuan dalam puisi yang tidak ditujukan untuk ibu atau cinta. Puisi ini Saya hadirkan utuh, sebagai sebuah apresiasi yang dalam.

PEREMPUAN DARI LUMBUNG PADI

Barangkali tak kau kenal namanya

Tapi telah lekat dalam ingatanmu

Sebagai srikandi yang memanah dunia

Sejak kemerdekaan memberinya jalan setapak

Untuk menghargai kodrat kehidupan

Sebelum hujan menghapus bayang wajahnya dari ingatanmu

Kirimkanlah sekuntum bunga tanpa jambangan padanya.

Banjarbaru, 2010

Facebook Comments