KETIKA beberapa waktu lalu asyikasyik mengumumkan kegiatan dan lomba-lomba Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) XV 2018 Kotabaru, yang di dalamnya terdapat salah satu (cabang) lomba yakni Menulis Cerpen, sejumlah WA dan inbox menyapaku. Rata-rata menanyakan apa maksud dari tema “Menembus Batas Waktu” untuk Lomba Menulis Cerpen itu?

Entah, mengapa mereka bertanya kepadaku. Padahal, di dalam pengumuman itu sudah ada nomor kontak panitia. Kan, mereka bisa menanyakannya langsung biar tema yang mungkin dianggap “absurd” itu bisa jelas dan terang benderang laksana siang.

Dan aku, mungkin karena kebetulan lagi malas waktu itu, dan menganggap bukan wewenangku juga untuk menjelaskan, dengan enteng saja menjawab, “Coba tanya ke panitia.” Selesai. Lagi pula, kupikir, kalau mereka mau berpikir, mungkin paham saja maksud dari tema itu—meskipun memang, merasa paham belum berarti sudah pasti benar.

Memenangkan Lomba Menulis Cerpen (juga lomba lainnya) di perhelatan ASKS memang cukup prestise. Selain ini event besar tahunan, juga semacam “ujian akhir” para penulis untuk membuktikan karyanya, setidaknya untuk wilayah Kalimantan Selatan.

Baiklah, menebus kemalasanku menjawab kemarin itu, dan kebetulan juga belum dikontak panitia apakah bakal jadi juri (hehee..), aku coba sedikit menjelaskan maksud tema itu. Namun sekali lagi ya, penjelasanku ini bukan berarti sesuai dengan maksud panitia ASKS XV dengan tema “Menembus Batas Waktu” itu.

Nggak usah ribet-ribet mengupas satu per satu atau kata per kata pengertian dari tema itu; “Menembus Batas Waktu” dapat dipahami bahwa tema cerpen bisa apa saja, tidak ada batasan “waktu” (mau zaman kolonial, zaman milenial, masa depan, atau malah zaman purbakala), dan semua peristiwa (apa saja) yang terjadi dalam rentang waktu yang tanpa batas itu bisa menjadi bahan cerita. Termasuk juga, sudah tentu ruang imajinasi di dalam kepala.

Dan biasanya nih ya, para juri (pengalaman pribadi, bersama juri lainnya), persoalan tema ini (apa pun itu) bukanlah hal pertama yang menjadi penilaian yang utama.

Lalu apa?

Paragraf pertama.

Kok (cuma) paragraf pertama?

Ya, paragraf pertama sebuah cerita itu seperti kunci. Sangat menentukan. “Gagal” di paragraf pertama, alamat ceritamu atau karyamu tidak akan dibaca lebih lanjut lagi. Juri bisa berhenti di paragraf pertama itu saja, atau bila sedikit berbaik hati dan mencoba lagi, dia akan lanjut ke paragraf kedua, dan bila gagal juga, habislah… Artinya, kunci ceritamu patah atau tidak cocok.

Apa maksudnya gagal di paragraf pertama?

Pada paragraf awal ini, seseorang sudah bisa diketahui apakah dia penulis yang baik atau bukan, apakah dia penulis pemula atau sudah mahir, apakah dia penulis ahli ataukah coba-coba. Semua itu sudah bisa diketahui dari kunci yang diberikan pada paragraf pertama sebuah cerita.

Serius? Kok kayak sakti gitu?

Pengalaman. Bukan sakti apalagi cenayang. Seorang juri (yang biasanya dan harus) memiliki pengalaman baca dan atau menulis dapat menilai sebuah cerita baik atau tidak hanya lewat paragraf pertama. Itulah kuncinya, sebelum dia masuk lebih jauh ke dalam cerita.

Lalu, bagaimana ciri paragraf pertama yang gagal itu?

Yakni apabila dalam paragraf pertama itu sudah terdapat cukup banyak kesalahan dalam tata bahasa. Semisal tidak becus menempatkan kata “di”, kapan disambung dan bilamana harus dipisah. Atau dimulai dari kalimat yang klise: semacam; “Pagi yang cerah”, “Matahari pagi bersinar terang,”—lebih dari itu, kalimat-kalimat yang tidak menggugah dan tidak memberikan rasa penasaran.

Ok, terus paragraf yang bisa dikatakan berhasil?

Gampang. Hindari saja menulis paragraf yang gagal seperti contoh di atas.

Yang konkret dong, contohnya yang bagaimana?

O.. mau contoh juga. Baik. Selain menghindari kesalahan dalam tata bahasa (dan ini bukan hanya pada paragraf pertama saja tentunya), paragraf pembuka sudah harus mampu memberikan daya kejut bahasa, bayangan cerita, (mungkin) ketegangan, dan terlebih mengundang rasa penasaran. Bila pada paragraf pertama ini sudah sukses, maka pertaruhannya tinggal pada ceritanya dan bagaimana penulis membungkusnya dalam bahasa dan teknik bercerita (yang baik). Jadi, saran aja nih ya, edit dan perbaikilah paragraf pertama ceritamu berkali-kali seperti tukang kayu yang mengampelas permukaan kayu sampai licin dan mulus—agar ceritamu lolos dan sukses meluncur hingga dibaca sampai tuntas.

Begitu ya? Paham, paham.. Terus, terkait dengan tema “Menembus Batas Waktu” ASKS XV, kira-kira cerita apa yang bagus ya?

O.. kalau itu…, pikir sendiri! Tulis sendiri. Tidak baik terlalu banyak tanya, tapi malas mikir, malas baca, dan malas menulis. Ketahuilah, menulis itu adalah juga memerlukan proses berpikir. Tidak semata menunggu ilham—sebab kadang “si ilham” tidak selalu datang meski dipanggil-panggil. Berpikirlah…

Jadi, gimana soal tema dalam lomba tadi, penting nggak?

Penting, bila kamu memiliki kunci dan cerita yang [email protected]

Facebook Comments