“MALAM Meniti Ilun”, begitu gelaran yang menjadi salah satu program Taman Budaya Kalimantan Selatan tahun 2019. Line up yang mengisi pertunjukan utama tentu saja adalah kelompok-kelompok yang mempergunakan bunyi sebagai media ungkapnya, mulai dari Sanggar Seni Ading Bastari Barikin (Hulu Sungai Tengah) dengan composer-nya Lupi Anderiani, NSA Project Movement X Julak Larau (Banjarbaru) dengan composer muda potensialnya Robby Iskandar, Nusantara Etnik (Banjarmasin) yang merupakan bagian dari Nuansa Ensembel dengan lagu-lagu nusantara di-arranger oleh Bani, selanjutnya yang paling muda ada SMKN 4 Banjarmasin Jurusan Musik dengan nakodanya Rizky dan Nanda. Tampil terakhir yaitu Banjar Bakula Enterprise (Banjarmasin) dengan composer Zacky Bahalap.

Gelaran yang rata-rata per artis tampil sekitaran 15-20 menit ini berjalan dengan baik dengan tampilan dan gaya masing-masing. Paling menyita perhatian dan berbeda tentu saja Sanggar Seni Ading Bastari.

Tulisan saya kali ini hanya ingin mengulas tentang karya “Nyanyuk” karya komponis Lupi Anderiani, Sanggar Ading Bastari Barikin. Karya Nyanyuk menjadi salah satu karya Lupi Anderiani yang lahir di tahun 2019. Selain karya ini seingat saya Lupi belum melahirkan karya-karya lainnya sepanjang 2019. Kebetulan saya salah satu orang yang mengikuti jejak kekaryaan beliau. Karya ini seperti memberikan gambaran apa dan bagaimana sikap Lupi terhadap musik tradisional.

Nyanyuk sepertinya sedari awal dipilih untuk menimbulkan ketidakterdugaan bagi penontonnya.

Lupi yang lebih dikenal sebagai seniman yang konsisten menjaga seni tradisi kemudian tampil berbeda, baik secara gagasan bermusik hingga tampilan para pemainnya. Nyanyuk sendiri menjadi judul karya yang tidak biasa yang dibuat Lupi, ini merupakan bagian dari ketidakbiasaan Lupi dalam memberi judul-judul karyanya yang biasanya selalu serius dengan makna dan simbol yang kuat. Lupi kemudian memberikan gambaran Nyanyuk macam apa yang sedang dia terjemahkan dalam karyanya. Nyanyuk yang Lupi maksud dengan daya tangkap saya terhadap penyampainnya adalah sebuah keadaan seseorang yang gamang, stress, mengalami banyak konflik yang berimbas pada sebuah gejala psikologis depresi. Lupi memberikan kejutan dengan memasukkan musik yang debatable melalui raungan bunyi knalpot sepeda motor dan teriakan-teriakan para pemainnya. Tentu saja gagasan ini bagian dari pencapaian pengetahuan Lupi sendiri yang berakar pada musik adalah bunyi. Batasan-batasan yang terbentuk dari definisi-definisi musik dibongkar sehingga wacana yang dimunculkan adalah kembali kepada hakikat musik itu sendiri yaitu bunyi.

Dari diskripsi karya dan pertunjukan yang disajikan sangat jelas terlihat bagaimana olahan karya tidak dibuat “sakahandak”. Lupi membentuk setiap bagian pada karya untuk menceritakan apa yang menjadi kegelisahannya. Karya Nyanyuk seperti gambaran peristiwa-peristiwa yang coba diterjemahkan dalam gagasan bunyi dengan media gamalan Banjar.  Lupi memberikan kita sudut pandang baru bahwa olahan bunyi dari instrumen tradisional mampu memberikan kita wahana bebunyiaan yang kaya tanpa harus melibatkan banyak orang. Tentu saja ini juga kepiawaian Lupi dalam memilih para pemainnya. 

Karya Nyanyuk hanya dimainkan oleh tujuh orang yang memainkan beberapa instrumen seperti agung halus, agung ganal, sarun, gambang, sarantam, dawu, giring-giring, piul, dan siter.  Sistem nada salindru Banjar dipertahankan, istrumen seperti siter Jawa dan piul ditunning mengikuti pola salindru Banjar. Bagi saya itu merupakan sikap Lupi yang memposisikan instrument gamalan Banjar sebagai subjek utama. dari awal komposisi kita bisa merasakan bagaimana pola-pola saluk dengan rapatnya tata tabuh pada istrumen dawu¸ gambang, dan sarantam saling mengikat satu sama lain yang memunculkan apa melodi-melodi milismatis khas musik-musik melayu.

Pada sebuah kesempatan diskusi di kota Solo, Lupi pernah berargumen bahwa “gamalan Banjar itu memiliki rasa musikal khas melayu dalam pola-pola permainnya”. Pendapat Lupi tersebut benar dan sangat terasa pada karya Nyanyuk dan karya-karya dengan materi gamalan Banjar. Sejak awal Lupi melalui diskripsi karyanya sudah membuat garis informasi bahwa apa yang dibuat dalam komposisinya adalah influence dari tradisi gamalan Banjar itu sendiri. Lupi hanya membentuk alur melodi baru yang ketika dengarkan secara keseluruhan seperti orang bermain gamalan irama paparangan.

Nyanyuk versi Lupi tidak sekadar ketidak pastian atau tidak sekadar ketidakjelasan. Melalui balutan bunyi, beberapa part panjang yang dimainkan masih menunjukkan rasa enak didengar oleh para apresiator. Untuk kalangan yang lebih dalam pemahaman musikya tentu saja ini seperti wahana bunyi yang dibangun dengan alur yang turun naik, nada-nada tinggi menjadi sajian utama.

Partpart yang enak ini saya menduga adalah nilai tawar Lupi untuk memberikan faham yang tidak langsung sporadis meneror telinga penoton. Penoton diajak untuk mendengar yang asing dari bunyi gamalan Banjar lalu kemudian ditimpali dengan pola-pola klasik gamalan Banjar itu sendiri. Metode ping-pong antar instrumen juga menjadi pengikat karya Nyanyuk. Salaing sahut antara gambang dan dawu atau suling dengan gambang bagian semacam ini juga bukan bagian dari tradisi tabuhan gamalan Banjar, namun Lupi kembali ingin menawarkan bentuk baru yang lebih leluasa dalam memainkan gamalan tentu juga sebagai terjemahan dari Nyanyuk itu sendiri.

Pada bagian lain saya cukup menyayangkan penggunaan banyak agung yang membentuk setengah lingkaran hanya berfungsi seperti hiasan artistic saja. Praktis agung-agung yang terdiri dari Sembilan buah itu dimainkan di awal saja dan sesekali dimainkan pada part tertentu. Saya mengira agung lah yang menjadi patron garap Lupi pada karya Nyanyuk ini.  Lupi seperti terjebak pada gagasan artistik ruang pada kasus agung yang menggantung di belakang para pemain karyanya. Eksplorasi terhadap keberadaan agung-agung ini juga dengan kelas dan pengalaman Lupi seharusnya mampu menghadirkan daya dobrak baru untuk perkembangan karya Nyanyuk.

Terlepas dari persoalan agung-agung yang menggantung, sound yang masih kurang stabil, dan riuh penonton di waktu yang tak tepat, Nyanyuk karya Lupi ini merupakan komposisi yang dikonsep dengan gagasan di luar dari tradisi gamalan Banjar itu sendiri yang biasanya lagu-lagu gamalan Banjar lebih banyak bercerita pada wilayah alam, instana sentris dan tokoh-tokoh tertentu. Nyanyuk sendiri tidak sekadar berbicara estetika bunyi yang diagungkan mayoritas orang. Nyanyuk lebih mengutamakan gagasan artistik yang dibangun atas gagasan peristiwa yang banyak terjadi di sekitar composer.

Musik-musik seperti karya Lupi memang tak banyak yang suka (Kalimantan Selatan) karena gagasan kontemporer yang belum begitu diterima, namun tentu saja Lupi atau komponis lainnya tak boleh berhenti, karya-karya baru yang tidak sekadar band-band’an harus terus bermunculan. Ruang-ruang konvensional dan alternatif harus selalu membuka diri dengan perkembangan jaman karena musik tidak sekadar pemuas keindahan bunyi, lebih jauh musik harus mampu memberikan stimulus pengetahuan atas segala peristiwa.

Ulun masih setia menunggu karya-karya musik pian, [email protected]

Banjarbaru, 22 Juli 2019  

Facebook Comments