SATU lagi media cetak di Kalimantan Selatan tamat. Adalah koran Metro Banjar menyusul “kakaknya”,Tabloid Bebas, tutup usia di ujung tahun. Edisi penghabisannya Selasa, 31 Desember 2019, redaksi koran kota dan kriminal itu menulis kata-kata terakhirnya dengan judul; “Cukup Satu Koran, Banjarmasin Post”.

Apakah hal ini mengejutkan?

Sesungguhnya, tumbangnya sebuah media cetak di era digital sekarang ini tidak lagi mengagetkan, terutama bagi kalangan jurnalis. Bahkan diyakini menjadi suatu keniscayaan, hanya soal perkara waktu. Kendati banyak pihak berharap itu tidak terjadi. Tetapi memang sulit dihidari. Hanya yang mengakar dan besar yang akan terus berusaha bertahan di tengah gelombang badai angin perubahan zaman. Tentu dengan segala siasat, dan terutama efisiensi. Tentunya juga idealisme.

Koran Metro Banjar lahir pada 9 September 1999, atau hanya selilisih lima bulan dengan “kakaknya” tabloid mingguan Bebas yang terbit pada 19 Mei 1999 yang kemudian berganti menjadi Tabloid Spirit Kalsel pada 2005. Dua anak koran besar Banjarmasin Post itu telah memberi warna dalam perjalanan media cetak dan hari-hari masyarakat Kalimantan Selatan.

Awal kehadiran Metro Banjar di akhir era 90-an itu  mendapat sambutan positif masyarakat pembaca koran di Banua Banjar.  Segala informasi lokal memang masih bersumber dari media cetak setempat, selain televisi yang tentu tak bisa seleluasa media cetak dalam menyampaikan beragam informasi. Internet masih menghuni tabung di rumah dan kantor, berisi blog-blog yang bersifat pribadi.

Ketika itu, hingga awal tahun 2000-an, handphone atau telepon genggam juga masih baru masuk pada generasi II, pengguna cukup bersuka ria dengan nada panggilan dan SMS-an. Belum lagi dimanjakan dengan berselancar bebas di dunia maya yang dimulai sekitar tahun 2007, dan booming pada tahun 2010 saat  dunia handphone diguncang oleh demam Blackberry.

Sampai kemudian Generasi 4 hingga sekarang ini, orang-orang berubah dalam cara memperoleh informasi. Tidak lagi hanya dari cetak, tapi sudah lebih banyak melalui telepon genggamnya. Terlebih, generasi milenial tumbuh dalam arus teknologi ini. Sejak kecil mereka telah dimanjakan dengan hanphone ketimbang koran.

Alhasil, media cetak semakin asing bagi generasi muda, dan hanya menjadi “milik” kaum tua yang terlanjur akrab dan juga mengesankan romantisisme nostalgik.

Bagaimanapun Metro Banjar sempat mengalami masa-masa jaya, menghadirkan berita-berita yang memang menawarkan pada pemenuhan insting alamiah keingintahuan manusia pada hal-hal berbau tragedi, yang berdarah-darah, dan mistik. Sudah umum di kalangan orang koran, bahwa jualan berita kriminal itu pasti laku, seperti jualan kacang rebus, karena disukai masyarakat kalangan menengah ke bawah. Hanya saja memang, koran jenis ini agak kesulitan menggaet “ikan besar” pemasang iklan. Sementara kita tahu, minyak pelumas agar mesin cetak bisa terus bergerak berasal dari situ.

Penghidupan sebuah media cetak tidak semata dari jumlah oplah yang terjual. Justru, pada satu sisi, semakin besar oplah, semakin besar pula biaya produksi yang dikeluarkan. Sementara, marjin keuntungan dari satu eksemplar koran ini tidaklah terlalui memadai. Karenanya, kadang kala ada saatnya jumlah oplah ditekan demi penghematan, baik kertas, plat, hingga biaya distribusi.

Nah, di sinilah persoalannya. Besarnya biaya operasional dan produksi inilah yang membuat media cetak ngos-ngosan. Ada banyak tenaga yang diperlukan dan dibayar. Mulai dari wartawan, tenaga layout, cetak, packing, sopir dan mobil distribusi, belum lagi harga kertas yang terus naik, tinta, minyak, serta pemeliharaan mesin cetak. Ribet. Dan itu harus terus berjalan setiap harinya. Sejatinya, hal inilah yang menjadi penyebab utama mengapa koran-koran siup dan kemudian mati.

Meski memang tak bisa dipungkiri, bahwa juga telah terjadi pergeseran budaya baca pada generasi muda saat ini. Mereka yang telah nyaman dan asyik dengan gadget, ketika memerlukan informasi atau berita cukup menjelajahi media online yang sekarang semakin marak. Gratis. Mudah. Tidak perlu pergi ke kios untuk mendapatkan koran, apalagi sekarang juga semakin sulit mencari kios atau warung yang menjual koran.

Di Kalimantan Selatan, media-media online bertumbuhan dalam dua tahun terakhir. Tepatnya ketika koran Media Kalimantan (Hasnur Group) tutup pada tahun 2017 dalam usia 9 tahun (mulai terbit tahun 2008). Para wartawan atau jurnalis dari koran Media Kalimantan inilah yang kemudian membuat portal-portal berita, kita sebut saja di antaranya Jejakrekam, Kanalkalimantan, dan Riliskalimantan. Begitu juga dengan mediaonline lainnya, mereka pada mulanya adalah para wartawan media cetak.

Membuat dan menjalankan media online jelas tidak seribet media cetak. Tidak memerlukan biaya besar, juga awak redaksi yang banyak. Juga tidak perlu ada kantor. Bahkan ada media online yang hanya dijalankan satu dua orang. Mereka jalan, dan bekerja sesuai standar jurnalisme, karena pada dasarnya mereka sudah memiliki pengalaman di media cetak.

Jadi, begitu kita mendengar kabar Metro Banjar tutup usia (berhenti terbit, bahasa mereka), semestinya memang tidak perlu terkejut. Zaman telah berubah. Meski memang, sejak dulu media cetak telah diramalkan akan punah layaknya dinosaurus; dari mulai ditemukannya radio, kemudian televisi, hingga internet dengan perangkat teknologi yang semakin canggih saat ini.

Satu hal yang mungkin menjadi kunci, pada dasar manusia semakin terburu-buru namun efisien. Dan saat ini, sebagian besar dari semua itu bisa dilakukan dan didapatkan dalam benda kecil di tangan kita. Termasuk di antaranya mengakses berita.

Namun, ada yang tetap tidak bisa tergantikan dari sebuah koran, yakni kita bisa merasakan wujudnya, dipegang, dibaca dengan hikmat, dan bila itu yang ditulis tentang dirimu atau tulisanmu, kamu bisa menyimpannya dengan baik-baik atau membingkainya, dan tetap ada bertahun-tahun hingga tetap bisa dipandang dan dipegang oleh anak cucumu kelak. Sementara yang hadir di dunia maya, akan terus saling menggerus, saling tindih, sekalipun tetap bisa “dipanggil” atau dicari, mungkin hadir namun tetap tak bisa kita raba wujudnya. [email protected]

Facebook Comments