GELISAH. Selalu mencari kemungkinan-kemungkinan bentuk dan ruang baru. Seni baginya suatu ekspresi yang tak terbatas. Karenanya tidak heran bila pertunjukannya kerap mengundang kontroversi, menabrak konvensi atau bahkan menyalahi pakem yang dipertahankan oleh sebagian pelaku kesenian (tradisi) lainnya.

Sarun—alat musik “sakral” gamelan yang dipukul menggunakan sandal jepit, diam atau nada jeda dalam notasi yang dipertunjukkan sebagai sebuah “musik”, juga penjelajahan ruang atau tempat baru bagi pertunjukan musiknya seperti pasar (yang riuh).

Seniman musik itu, Novyandi Saputra, merasa tidak perlu takut dan khawatir bila apa yang telah dilakoninya dalam berkesenian, khususnya musik, dirinya dicap sebagai seorang “pemberontak” dan “pendurhaka” terhadap sesuatu yang selama ini menurutnya terlanjur dianggap luhur dalam musik tradisi.

“Biarkan saya berada di jalur yang berbeda atau menyimpang. Dan jangan risau, seniman musik yang akan tetap mempertahankan pakem juga tetap ada,” ujarnya dalam bincang malam-malam di Mingguraya, Banjarbaru.

Seniman muda kelahiran Panggung, Hulu Sungai Tengah (HST) Kalsel, tahun 1991 ini, setelah menyelesaikan pendidikan Pascasarjana ISI Surakarta (S2) Jurusan Etnomusikologi (2015) lebih banyak berkegiatan di Banjarbaru yang juga menjadi tempat mukimnya bersama istri dan seorang putra. Beberapa garapannya yang memberi warna baru, di antaranya “Membumikan Langit” 2 Juni 2018 di Mingguraya Banjarbaru, “Mozaik Banjarbaru” 21 April 2018 di Balaikota Banjarbaru untuk hari jadi Kota Banjarbaru, serta pentas bersama musik post culture Mei 2018.

Soundscape of Gurindam & D’Sarasvati

Di hadapan, dua pertunjukan langsung sedang ia persiapkan; Soundscape of Gurindam di Hutan Pinus Banjarbaru, 27 Oktober 2018, dan D’Sarasvati (Temu Seniman Perempuan Kalimantan Selatan) yang juga digelar di Hutan Pinus Banjarbaru, 28 Oktober 2018.

Untuk dua pertunjukan itu, Novy menawarkan konsep yang mungkin bisa terbilang asing di Kalimantan. Pada Soundscape of Gurindam, ia menggabungkan seniman lintas seni dalam suatu pentas di alam terbuka untuk merespon Gurindam karya Iberamsyah Barbary, sastrawan Banjarbaru. “Mereka terdiri dari penari, pemusik, penyair, fotografer, penulis, dan pegiat seni lainnya,” sebut Novy.

Para seniman itu dibebaskan membuat suatu pertunjukan sesuai dengan bidang seninya masing-masing. “Penari dengan tariannya, pemusik dengan musiknya, dan penyair dengan sajaknya, begitu juga dengan yang lainnya, masing-masing akan merespon dengan caranya sendiri terhadap gurindam yang dibacakan,” jelasnya.

Intinya, seni merespon seni. “Hal ini sejalan dengan gurindam karya Iberamsyah yang tercipta dari hasil merespon apa yang dilihat, dirasakan, dari hidup dan kehidupan penulisnya,” ucap seniman yang membiarkan rambut ikalnya memanjang hingga melewati pundak ini.

Di hutan pinus sebagai ruang pertunjukannya, antara seniman dengan penonton pun mungkin tidak ada batas pemisah yang tegas.

Sementara untuk pertunjukan D’Sarasvati, yang menampilkan para penari perempuan, Novy mematikan alat musik. “Setelah suatu sore saya melihat lokasi hutan pinus sebagai tempat pertunjukan, saya putuskan para penari tidak akan diiringi musik. Suara alam, angin, daun-daun yang bergesekan, itulah musik yang akan mengiringi tarian mereka,” cetus Novy, yang selalu tertantang untuk eksplorasi baru terhadap setiap garapan pertunjukannya.

Lebih jauh ia membeberkan, D’Sarasvati sebuah program NSA Project Movement untuk mempertemukan seniman perempuan lintas disiplin di Kalimantan Selatan. “Ini merupakan wujud kepedulian dan dukungan terhadap seniman perempuan, serta ruang informasi kepada masyarakat tentang keberadaan mereka. Harapannya, semoga tercipta strategi dengan membawa isu kebaruan proses penciptaan karya bagi seniman perempuan,” jelasnya.

Biennale Banjar

Impiannya besar dalam bidang pertunjukan seni. Ia berharap suatu saat akan ada event yang mampu melibatkan seniman-seniman lintas negara di Kalimantan Selatan.

“Biennale Banjar,” sebutnya. Biennale berasal dari bahasa Italia yang lazim digunakan dalam dunia seni untuk mendeskripsikan pameran seni kontemporer internasional skala besar.

Namun ia tidak hendak buru-buru. “Untuk mencapai impian itu, mungkin diperlukan waktu sekitar lima tahun lagi,” ujar seniman yang memulai naik panggung pada tahun 2013 sebagai pemain babun pada iringan tari klasik “Pancar Galuh” dalam rangkaian Milad Kesultanan Banjar ke 515 di Martapura, Kabupaten Banjar.

Hingga 2018 ini, sudah puluhan pentas dinaikinya, baik sebagai pemain maupun sebagai penggagas atau pelaksana lewat organisasi di mana ia sebagai direkturnya, yakni NSA Project Movement. “NSA adalah saya, saya adalah NSA,” ujarnya menegaskan peran dirinya dalam setiap event NSA yang berdiri sejak 2017—dan telah terlibat kerja sama dengan banyak pihak, baik pemerintah maupun swasta.

Sejak kecil Novy memang sudah terpesona dengan musik. Khususnya musik gamelan yang mengiringi pertunjukan wayang kulit. “Orang yang paling berjasa mengenalkan saya terhadap bunyi, musik, adalah almarhum Abdurrahman, seniman gamelan yang mengiringi setiap pementasan wayang kulit di Barikin. Waktu itu usia saya mungkin sekitar enam tahun,” ceritanya.

Sejak itu pula ia mulai mengenal dan mempelajari semua jenis alat musik tradisi gamelan—tak heran bila ia menguasai hampir semua alat musik itu; babun, sarun, gong, hingga panting.

Terus mendalami alat musik hingga kuliah di Sendratasik Universitas Lambung Mangkurat, dan kemudian melanjutkan S2 di Surakarta. Bunyi-bunyian masih terus mengganggu ruang imajinasinya.

Dan, ia menyebut titik awal menggeluti musik kontemporer ketika pada 2016 menggelar pementasan “Diskurus of Banjarese Music” di Taman Budaya Kalimantan Selatan, Banjarmasin.

Ada banyak seniman musik yang mempengaruhi dan menginspirasinya. Salah satunya adalah I Wayan Sadre, seniman asal Bali yang tinggal di Solo. “Saya selalu ingat kata-katanya, bahwa ‘Bunyi harus bebas dari beban kultur’. Ucapan itu begitu membekas, dan itulah yang coba saya terapkan dalam musik saya,” katanya, yang pada 2017 menerbitkan buku Bunyi Banjar: Catatan-catatan Etnomusikologi.

Ia mengaku akan terus berkarya dan selalu mencoba menampilkan pertunjukan baru, ruang baru, dan perspektif baru. “Seniman tidak boleh merasa puas. Harus terus mengeksplorasi kemampuannya tanpa batas,” [email protected]

Facebook Comments