PADA tanggal 27 Februari 2020, tepat sebulan silam, Presiden Amerika Serikat yang terkenal, Donald Trump dengan penuh percaya diri menyamakan Covid-19 dengan flu biasa, lalu ia mengatakan bahwa ribuan orang di Amerika Serikat juga meninggal karena flu dan bahwa virus tersebut undercontrol.

Sekitar setengah bulan berikutnya pada 14 Maret, lelaki pirang ini menyatakan Amerika Serikat darurat virus. Pernyataan itu tidak keluar sebelum dia sendiri menjadi ODP Covid-19 setelah interaksi dekatnya dengan sekretaris pers Presiden Brazil saat mereka bertemu di Florida. Hasil tes negatif, semoga ia termasuk orang yang pandai bersyukur.

Tanggal 24 Maret ia kembali mengeluarkan pernyataan bahwa Amerika Serikat akan segera siap untuk berbisnis kembali sementara pendemi mulai meluas di negaranya.

Hari ini, Amerika Serikat menggeser China sebagai negara dengan penduduk yang paling banyak tertular virus Covid-19, 102.338 orang, dan menurut para ahli, itu hanyalah bagian awal krisis Covid-19 di sana.

Masuk ke dalam klub Donald Trump terkait penyikapan terhadap virus ini adalah Boris Johnson, Perdana Menteri Inggris yang baru saja mengecap indahnya kemenangan sebagai perdana menteri dan berhasil mengegolkan Brexit. Prestasi yang diharapkan bisa mewangi sepanjang zaman itu lantas memudar pasca pendemi Covid-19 mulai masuk ke Inggris.

Barangkali karena masih terbawa euforia pasca Brexit, Boris Johnson dianggap kurang tanggap terhadap perkembangan pendemi ini. Saat negara lain mulai melakukan social distancing, sebagai pemimpin ia justru sempat tidak pro. Ia menganggap Inggris terlalu mengedepankan kebebasan untuk perlu melakukan hal-hal semacam itu. Sikapnya mulai berubah agak lebih serius ketika angka penularan di Inggris terus menanjak naik hingga hari ini mencapai 14.543. Saya yakin ia akan menjadi semakin serius sejak kemarin setelah positif tertular Covid-19. Virus itu telah menembus ring 1 deretan orang paling penting di negara tersebut, termasuk keluarga kerajaan.

Sikap cuek terhadap efek Covid-19 terhadap rakyatnya ini juga kita dapati pada sikap pemerintah China yang cenderung menutup-nutupi pada awalnya. Namun hal itu dapat dibalikkan dengan respon cepat ketika penularan sudah mulai mengkhawatirkan dan korban meninggal mulai berjatuhan secara dramatis. Dengan demikian, kita mendapati tipe pertama para pemimpin negara dalam menyikapi krisis kesehatan dunia hari ini.  Sejumlah pemimpin lain bisa kita masukkan dalam kategori ini, barangkali pembaca punya beberapa usulan nama.

Kategori lainnya adalah pemimpin negara yang menanggapi dengan pertama-tama memikirkan hal buruk apa yang mungkin menimpa rakyat jika virus ini menyebar luas di negaranya lalu segera melakukan tindakan antisipatif tanpa menunggu keadaan benar-benar memburuk. Beberapa nama terpopuler yang bisa saya sebut di sini adalah Perdana Menteri New Zealand, Jacinda Adern; Perdana Menteri Finlandia, Sanna Marin; Presiden Filipina, Rodrigo Duterte; Presiden Chechnya, Ramzan Kadyrov, dan Otoritas Jalur Gaza, Hamas.

Sanna Marin dan Jacinda Adern adalah dua dari beberapa pemimpin negara perempuan yang memberikan respon cepat atas virus ini saat mulai masuk ke dalam wilayah pemerintahannya. Pada 17 Maret, jauh hari sebelum keputusannya melakukan total lockdown atas New Zealand pada 25 Maret, Jacinda Adern menyiapkan rencana paket finansial untuk menghadapi Covid-19. Paket tersebut termasuk 500 juta dolar untuk mendukung sistem kesehatan, 8,9 milyar dollar untuk pendampingan sektor bisnis dan lapangan kerja, serta 100 juta dolar untuk mendukung pekerja yang di-PHK akibat krisis Covid-19.

Sementara itu, Sanna Marin yang disebut sebagai pemimpin negara termuda di dunia, juga melakukan kebijakan drastis dengan penutupan perbatasan, mengambil kontrol penuh atas peralatan kesehatan dan obat-obatan serta membentuk satuan paramedis Emergency Power Acts untuk menghadapi pendemi ini.

Kebijakan yang cukup efektif untuk menekan angka penularan dan korban meninggal. Penduduk Finlandia yang tertular Covid-19 sebanyak 1.041, beda 5 orang dari penduduk tertular di Indonesia, namun dengan angka kematian yang sangat jauh, 7 orang di Finlandia sedangkan di Indonesia 87 orang. New Zealand sendiri yang saat ini menjalani total lockdown, penduduknya yang tertular sebanyak 368 orang dan belum ada korban meninggal.

Baru tadi malam saya berdiskusi dengan seorang teman (perempuan) tentang mengapa dalam krisis kali ini para pemimpin perempuan lebih responsif dan lebih peka.

Agaknya kami sepakat hal itu disebabkan justru karena keperempuanan mereka. Terhadap derita, perempuan lebih sensitif, dan lebih bisa mengembangkan sikap dan respon empatik. Pada satu sisi, hal itu mungkin sebuah kelemahan, tapi kita bisa melihatnya di masa sulit kali ini sebagai sebuah kekuatan.

Di sisi lain, kebijakan Duterte melakukan lockdown atas Manila menjadi berita cukup populer di negara kita. Melakukan lockdown bahkan di awal penyebaran virus di Filipina dilakukan Duterte semata karena ia sadar bahwa negaranya tidak memiliki sumber daya yang mencukupi jika virus itu menyebar cepat dan masif. Sebuah respon cepat untuk pencegahan alih-alih penanganan atas sesuatu yang sudah diketahui takkan bisa tertangani dengan baik.

Upaya pencegahan dini yang sama juga dilakukan Hamas di jalur Gaza, sebelum seorang pun penduduk Jalur Gaza tertular, mereka sudah mendirikan fasilitas karantina. Barangkali, tak ada di dunia ini yang begitu berpengalaman hidup dalam isolasi masal selain penduduk Jalur Gaza. Dengan sedih saya hanya menyampaikan, sesiapapun penduduk Jalur Gaza yang tertular hanya akan berpindah dari satu bentuk isolasi ke bentuk isolasi lainnya.

Berita populer lainnya datang dari presiden negara pecahan Rusia, Chechnya. Presiden Ramzan Kadyrov mengeluarkan pernyataan keras akan menghukum (mati) penduduk Chechnya yang tidak mematuhi perintah karantina. Tiga kasus pertama di Chechnya dilaporkan berasal dari seorang penduduk yang pulang dari ibadah umrah namun tidak mematuhi protokol karantina.

Boleh dikatakan, ini adalah masa-masa yang tidak menguntungkan secara politis bagi para pemimpin negara. Maksudnya adalah semua orang, memiliki kapabilitas atau tidak, akan lebih mudah memimpin dalam kondisi stabil, nyaman, aman, damai, dan terkendali daripada kondisi yang berat dan serba tidak pasti.

Seperti kata-kata bijak sering dilontarkan, kualitas kepemimpinan akan teruji di masa-masa kritis. Mereka yang berhasil melalui masa-masa sulit dengan menunjukkan kebijaksanaan, kejernihan berpikir dan bertindak, serta ketegasan yang berorientasi pada keselamatan dan kebaikan rakyatnya akan juga menjadi yang terbaik di masa mudah.

Demikian pula sebaliknya, kebijakan-kebijakan yang terlihat hanya menguntungkan kelompok elit dalam suatu negara, fokus pada hal-hal yang bukan prioritas (baca: prioritas sama dengan kepentingan rakyat), kecerobohan-kecerobohan dalam pengambilan keputusan, ketidaksiapan mengatasi keadaan dengan cerdas dan taktis. Pada masa-masa sulit, semua itu menunjukkan ketidakmampuan dalam memimpin meski di masa mudah ia terlihat cemerlang.

Sebelum wabah Tha’un Amwas yang melanda Syam pada tahun ke-6 pemerintahannya, kompleksitas ujian kepemimpinan Umar ibn Khattab telah didahului bencana kelaparan yang melanda Hijaz (Mekah, Madinah dan sekitarnya) setahun sebelumnya, tahun 17 Hijriyah. Kita barangkali pernah mendengar riwayat populer tentang bagaimana wajah Khalifah Umar ibn Khattab menghitam karena hanya makan minyak samin sebagai ungkapan kemerakyatan, bahwa tidak ada roti apalagi daging sementara kelaparan masih menimpa rakyatnya.

Kelaparan, wabah, menurut saya adalah bentuk ujian level advance bagi seorang pemimpin negara yang ketika sang pemimpin bisa melewatinya, maka sisanya hanya ada kestabilan, kemapanan, dan peluang besar untuk berada dalam masa-masa emas di masa yang akan datang. Umar ibn Khattab telah membuktikan itu.

Kita tidak tahu kapan pendemi ini akan berakhir, tapi ia akan dicatat dalam sejarah, termasuk para pemimpin negara dan respon mereka di masa sulit ini. Kecuali ada hal yang lebih besar di masa depan, maka Boris Johnson, Donald Trump atau Sanna Marin akan dikenang sebagai pemimpin di era Covid-19, baik dan buruknya.

Wallahua’lam[email protected]

Facebook Comments