Pesantren, Perpustakaan, dan Buku Sastra

Perpustakaan, tidak dapat dipungkiri, menjadi salah satu elemen penting di lingkungan sekolah. Sekolah tidak dapat lepas dari peranan perpustakaan untuk membentuk intelektualitas, wawasan, serta karakter mumpuni peserta didiknya di masa yang akan datang. Perpustakaan menjadi sumber pengetahuan alternatif selain kegiatan pembelajaran guru-murid di kelas. Terlebih di pesantren, di mana akses santri terhadap teknologi dibatasi dan minimnya hiburan, buku-buku dan perpustakaan merupakan “dunia lain” yang amat menyenangkan untuk mengisi kesenggangan serta mengatasi rasa bosan.

Masih lekat dalam ingatan, bagaimana perpustakaan membersamai hari-hari saya selama di pesantren. Saya kerap memilih perpustakaan untuk mengisi waktu ketika istirahat atau jam-jam kosong di kelas. Saya boleh membaca sembari duduk bersandar, rebahan, tengkurap, senyamannya saja. Tidak ada larangan selama tidak menganggu santri yang lain. Boleh dibilang, perkenalan saya dengan buku-buku sastra berawal dari sini. Saya mengenal karya-karya Sutan Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, Taufiq Ismail, dan lainnya.
Saya bebas memilih bacaan apapun, terutama buku-buku bergambar dan berwarna, yang tentu saja bukan buku pelajaran di kelas. Selain itu, saya pun boleh meminjam dan membawanya ke asrama dengan syarat: tidak boleh rusak dan dikembalikan tepat waktu.

***
Sependek pengamatan saya–dan ini tidak banyak berubah sampai saat ini—setidaknya, ada 2 motif mengapa para santri menyukai perpustakaan. Pertama, pendidikan literasi yang ditanamkan oleh orang tuanya sedari kecil. Saya masih ingat, meski bapak dan ibu saya bukan seorang guru atau lulusan perguruan tinggi, keduanya cukup loyal dan perhatian dengan buku-buku bacaan sejak saya masih di sekolah dasar. Setiap awal bulan –dengan gajinya yang pas-pasan— bapak biasa mengajak saya ke Toko Buku Aziz yang terletak di Citra Niaga atau Gramedia Lembuswana, Kota Samarinda. Saya diperkenankan memilih 2 buku yang saya suka. Bapak memeriksa sampul dan isinya sekilas, lalu membayarnya di kasir.

Kedua, tidak ada pilihan atau hiburan lain selain perpustakaan yang nyaman, bersih, dan tentu saja dipenuhi beragam buku bacaan. Santri dilarang membawa gawai atau alat elektronik lainnya. Ini sudah menjadi aturan yang tidak dapat diganggu gugat. Maka, buku-buku di perpustakaan menjadi hiburan. Sekali waktu –kalau mood-nya sedang baik— penjaga perpustakaan di pesantren saya kala itu, mempertontonkan kepada kami beberapa video mengenai sains, seni, dan cuplikan film-film aksi terbaru dari komputer tabungnya.

Betapa pun, peran perpustakaan tidak dapat dipandang sebelah mata. Hal ini merupakan gagasan yang terus saya kemukakan semenjak awal hingga saat ini memutuskan untuk mengabdikan diri dalam dunia pendidikan. Kita bisa telusuri, perpustakaan memiliki sejarah panjang dalam peradaban umat manusia, terutama di peradaban modern yang serba canggih seperti saat ini. Perpustakaan harus terus hidup dan tidak boleh mati.

Perpustakaan terus berdiri setelah masa-masa hingga masa kehancurannya. Tercatat pula di daerah Timur Tengah lainnya ditemukan bukti-bukti arkeologis keberadaan perpustakaan. Seperti Perpustakaan Ebla (2500 SM) di selatan Aleppo, Suriah. Perpustakaan Babilonia (1800 SM). Perpustakaan Asurbanipal (668—627 SM) di Niniwe (saat ini Kuyunjik).

Ada banyak perpustakaan di zona ini yang masih terkubur dan masih terus diteliti para Arkeolog. Kendati ironisnya, banyak sekali peninggalan berharga yang dijarah setelah invasi Irak pada 2003. Kini, perpustakaan-perpustakaan pertama di dunia hanya tinggal puing-puing, dan lebih dari separuh buku-buku mereka hancur. Irak menjadi kota yang kehilangan identitas.

Perpustakaan dalam Dunia Islam; Bayt Al-Hikmah dan Dar Al-‘Ilm

Islam, sebagaimana yang kita tahu, menaruh perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan. Tradisi intelektual dalam dunia Islam telah dibangun sejak masa kenabian hingga masa sekarang. Hal ini dipertegas dengan ayat Al-Quran dan Hadis Nabi yang membahas mengenai betapa mulia dan luhurnya ilmu pengetahuan.

Dalam sebuah jurnal berjudul, Perpustakaan dalam Sejarah Islam: Riwayat Tradisi Pemeliharaan Khazanah Intelektual Islam yang diterbitkan Buletin Al-Turas, Mimbar Sejarah, Sastra, Budaya, dan Agama – Vol. XXII No.1, 2016 menjelaskan secara rinci mengenai sejarah Perpustakaan dalam Sejarah Islam.

Perpustakaan dalam sejarah Islam menempati posisi yang penting. Keberadaannya sangat sulit dipisahkan dari perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam terutama pada abad 8—10 M. Jika perpustakaan tidak diinisiasi, dibangun, dan dirawat pada masa tersebut, maka ilmu pengetahuan dan peradaban tidak akan mengalami kemajuannya. Atau setidaknya, perkembangan ilmu akan berjalan sangat lambat dan tersendat-sendat (Al-Turas; 26).

***
Mehdi Nakosteen, dalam bukunya, Kontribusi Islam atas dunia intelektual Barat, merangkum bahwa ada 36 perpustakaan di Baghdad sebelum diluluhlantakkan oleh pasukan Hulagu dari Mongol, di antaranya: 1) Perpustakaan Bayt al-Hikmah, 2) Perpustakaan Umar al-Waqidi, 3) Perpustakaan Dar al-Ilm, 4) Perpustakaan Nizamiyah, 5) Perpustakaan Madrasah Mustansiriyah, 6) Perpustakaan al-Baihaqy, 7) Perpustakaan Muhammad Ibn alHusain, 8) Perpustakaan Ibn Kamil.

Kekayaan khazanah intelektual Islam klasik itu berasal dari dua sumber. Pertama, bersumber dari terjemahan-terjemahan manuskrip kuno dari berbagai peradaban praislam beserta komentar-komentar yang diberikan oleh ilmuwan muslim. Kedua, bersumber dari karya-karya orisinal para ilmuwan Muslim itu sendiri dari berbagai jenis tradisi keilmuan.

Menurut Seyyed Hossein Nasr, perpustakaan merupakan pusat pendidikan utama kaum Muslim. Pusat penting pertama yang menangani filsafat, sastra, dan sains kealaman juga matematika adalah Bayt al-Hikmah, perpustakaan lengkap yang di dalamnya juga terdapat observatorium; dibangun di Baghdad oleh Khalifah al-Ma’mun sekitar tahun 200 H/ 815M.
Sejarawan Amerika keturunan Arab, Philip K. Hitti, mengatakan, Bayt al-Hikmah sebagai kombinasi antara perpustakaan, akademi, dan biro penerjemah yang menjadi lembaga pendidikan paling penting setelah perpustakaan Alexandria yang berdiri 1.100 tahun sebelumnya. Perpustakaan ini menjadi tempat menimba ilmu bagi siapa saja, termasuk komunitas Kristen Eropa selama Abad Pertengahan.

***
Kecemerlangan perpustakaan Islam, menurut Johannes Pedersen, terjadi pada kekhalifahan Fathimiyah di Kairo. Pada tahun 1005, Khalifah al-Hakim membangun Dar al-‘Ilm di Kairo. Khalifah al-Hakim mendirikan sebuah akademi yang dilengkapi dengan perpustakaan di bawah tanah istana Fathimiyah. Buku-buku dari seluruh cabang ilmu yang ada pada zaman itu terkoleksi di perpustakaan Dar al-Ilm tersebut (Fajar Intelektualisme Islam, 1996).

Dinasti Fathimiyah membangun Kairo yang sepenuhnya baru di sisi Kairo yang lama, dengan istana yang begitu megah dan sebuah masjid, al-Azhar, yang sejak saat itu merupakan pusat Dunia Islam. Tak lupa, mereka mendirikan perpustakaan di istana itu.

Ada hal yang menarik pada masa ini –yang tentu saja dapat diadopsi oleh perpustakaan pesantren— diriwayatkan bahwa bangunan perpustakaan itu dihiasi dengan karpet di lantai dan dindingnya; dan selain buku, disediakan juga kertas, pena, dan tinta untuk umum. Siapa saja boleh masuk dan lembaga itu didatangi oleh berbagai kelas dalam masyarakat yang ingin membaca, menulis, dan mendapat pegajaran.

Di Spanyol, perpustakaan paling terkenal pada masa kejayaan Islam adalah perpustakaan kebanggaan Khalifah al-Hakam II al-Mustansir (961-976) di Kordoba. Al-Hakam yang juga seorang cendekiawan membeli buku ke Alexandria, Damaskus, dan Baghdad, serta mempekerjakan dalam jumlah besar ahli-ahli kaligrafi dan penjilid buku. Perpustakaan miliknya memiliki koleksi lebih dari 400 ribu buku dengan 44 volume katalog.

Ada beberapa fungsi Perpustakaan dalam sejarah Islam. Pertama, tempat mencari bahan referensi bagi para penuntut ilmu di berbagai tingkat pendidikan. Kedua, bahan kajian para intelektual Islam. Ketiga, pusat penyimpanan buku-buku dan manuskrip berharga karya ilmuan. Keempat, sebagai tempat pertemuan untuk kepentingan diskusi ilmiah dan debat intelektual. Kelima, menjadi simbol kebanggaan khalifah dan penguasa setempat.

Melihat Perpustakaan Pesantren Kita Hari Ini

Setelah cukup panjang lebar membahas sejarah perpustakaan, kini kita dapat mengajukan beberapa pertanyaan: Bagaimana kiat mengatasi rasa bosan menjalani rutinitas kesantrian yang padat? Sudahkah optimal fungsi dan perpustakaan ideal bagi santri? Buku apa yang layak dibaca oleh santri? Apa tindak lanjut dari hasil pembacaan mereka?

Pertanyaan-pertanyaan ini, mau tidak mau, suka tidak suka, harus kita jawab dan pikirkan bersama. Tidak semua harus terjawab segera. Pesantren, di mana pun, lazimnya telah memberikan batasan-batasan dan aturan yang tidak boleh dilanggar oleh santri. Padahal, kita sadar dan mafhum, bahwa hari ini, generasi Z tidak dapat lepas dari gawai dan teknologi. Namun, dengan segala kerelaan hati, mereka menahan diri tidak melanggarnya.

Sebagian santri di pesantren akan mudah merasa iri dengan teman sebayanya di luar sana. Keleluasaan santri sangat terbatas; terikat dengan rutinitas. Sehingga, perlu adanya upaya untuk mengallihkan kecemasan mereka, salah satunya: menghidupkan perpustakaan.

***

Ada beberapa saran yang dapat kita pertimbangkan sebagai langkah awal untuk menciptakan perpustakaan pesantren yang ideal. Saran ini tentu dapat kita diskusikan dan tindaklanjuti bersama. Selain itu, bisa menjadi bahan evaluasi berkelanjutan.

Pertama, tempat yang nyaman dan ramah. Perhatian terhadap ruangan perpustakaan menjadi sangat penting. Karpet yang bersih. Buku-buku yang tertata. Ruangan yang wangi. Penyejuk ruangan; kipas angin yang memadai atau AC. Meja dan kursi yang tersusun rapi. Sofa yang empuk. Desain interior yang luwes; tidak kaku. Cat dinding yang halus. Akuarium dan tanaman hias yang terawat. Penjaga pepustakaan yang ramah, tidak pemarah.

Apa yang diharapkan dari perpustakaan penuh debu, cat yang kusam, aroma apek, ruangan gerah, penjaga perpustakaan yang cuek, serta buku-buku yang tampak seperti pajangan saja? Atau kita masih ingin berdalih: yang penting kan ada tempatnya, ada meja dan kursinya, ada buku-bukunya, ya sudah.

Tidak berlebihan rasanya jika kita mengupayakan perpustakaan yang tenang dan nyaman. Santri bahagia, kita pun juga. Dewan guru dapat berperan aktif mendorong santri untuk gemar membaca dan menambah wawasan di luar jam pelajaran. Seiring bertambahnya wawasan, kegemaran membaca, dan upaya mencari tahu banyak hal, maka semakin terasah pula pola pikir, nalar, pemahaman, dan kreatifitas mereka.

Bukankah hal tersebut yang kita inginkan?

Kedua, buku-buku yang bervariasi dan terus diperbarui. Ragam buku dengan berbagai genre, menawarkan pelbagai pengetahuan baru yang mungkin saja tidak ditemui di pelajaran kelas. Buku-buku motivasi, pengembangan diri, keagamaan, sains, fiksi, sastra, dan lainnya. Semakin banyak varian, semakin mereka tertarik. Di tataran santri, dengan ketertarikan mereka yang berbeda-beda, mereka akan saling merekomendasikan buku yang telah dibaca. Dalam hal ini, buku dengan bahasa populer dapat menjadi pilihan utama. Tidak perlu memberikan bacaan yang berat atau terkesan sangat ilmiah seperti di perguruan tinggi.

Selain itu, saya cukup menekankan kata diperbarui. Artinya, ada penambahan buku-buru baru secara berkala. Entah dwi mingguan atau bulanan. Pembelian buku bisa melalui anggaran sekolah atau dari uang kas hasil patungan swadaya. Terpenting, ada pembaruan secara terus-menerus. Sehingga buku perpustakaan tidak hanya itu-itu saja.

Ketiga, menyemarakkan kegiatan literasi. Pesantren dan pengelola perpustakaan bisa mengadakan event-event yang dapat memdorong santri untuk berkreatifitas. Seperti mengadakan lomba menulis resensi, esai, cerita bergambar, cerita pendek, puisi, dan lainnya. Sangat disayangkan jika ide dan kreatifitas mereka tidak diakomodir. Hasil pembacaan mereka tentu harus diberdayakan. Setidaknya, diselenggarakannya perlombaan internal semacam ini, akan membuat santri merasa diperhatikan sekaligus membangun jiwa kompetitif.

Selain perlombaan, kita bisa menggiatkan kembali majalah dinding. Selain kegiatan belajar dan mengaji, majalah dinding merupakan ruh di lingkungan pesantren. Santri, tingkatan berapa pun, dapat mengirimkan karyanya untuk dipublikasikan dan dibaca oleh para guru, teman-teman sejawatnya, serta tamu yang kebetulan sedang berkunjung.

***
Walhasil, tulisan ini dapat menjadi bahan diskusi lanjutan. Terakhir, saya mengutip R. David Lankes, seorang guru kelahiran Amerika dan juga penulis The New Librarianship; Field Guide, sebagai bahan renungan bersama. “Bad libraries only build collections. Good libraries build services (and a collection is only one of many). Great libraries build communities.”

Facebook Comments