APA persoalan pers hari ini? Menurut saya, tak lain adalah delegitimasi. Keagungan pers sebagai pilar keempat demokrasi agaknya mulai mengalami masa surut.

Delegitimasi pers memosisikannya menjadi institusi yang disikapi dengan skeptis. Informasi atau berita yang disajikannya tidak lagi langsung diterima sebagai ihwal yang bisa memuaskan rasa ingin tahu pembaca. Ketika berita dihadirkan, yang muncul bisa jadi lebih banyak pertanyaan, mengenai kebenaran berita, atau kredibiltas pembuat berita.

Ada dua hal yang barangkali bisa dilacak sebagai penyebab delegitimasi itu, pemberitaan bias dan persoalan framing (pembingkaian) berita.

Di Amerika Serikat, fakta bahwa Fox News Channel adalah stasiun berita jaringan tv kabel terbesar merupakan sesuatu yang tak terbantahkan. Fox didirikan oleh taipan media Rupert Murdoch. Meski menyandang predikat stasiun berita terbesar, Fox juga dianggap sebagai media paling bias ketika memberitakan dikotomi politik antara Republik dan Demokrat.

Di masa pemerintahan George W. Bush dan sekarang, Trump, Fox dianggap menjadi corong berita yang memuji, menyanjung dan memberikan citra positif terus-menerus terhadap presiden-presiden dari Partai Republik tersebut. Howard Dean, ketua Komite Nasional Demokratik bahkan menyebut Fox sebagai ‘mesin propaganda sayap-kanan (sebutan untuk Republikan), yang lain bahkan menyebut Fox sebagai ‘hampir seperti tv negara’ ketika Trump menjadi presiden.

Bias, dalam istilah yang berkaitan dengan kognitif, adalah pola menyimpang dari standar dalam pertimbangan di mana inferensi (pengambilan simpulan) bisa terjadi secara tidak wajar. Orang-orang membuat realitas subyektif mereka berdasarkan persepsi mereka. Dalam hal ini, kebenaran berita disesuaikan dengan persepsi mereka sendiri tentang mana yang benar dan yang bukan. Dalam posisi mereka sebagai media pendukung Partai Republik, kebenaran diletakkan di sisi partai tersebut, tidak yang lain. Itu sebabnya karyawan Fox sendiri menyangkal tuduhan bias itu karena terlepas dari fakta sebenarnya, mereka menganggap apa yang mereka beritakan adalah sebuah kebenaran.

Fox adalah satu contoh tentang bagaimana media dalam perannya sebagai penyaji berita untuk khalayak, tidak bisa lepas dari konflik kepentingan terkait bagaimana berita itu disajikan. Sejak awal didirikan, Murdoch memang memaksudkan Fox menjadi media kaum konservatif, ia bahkan menggaet Roger Ailes, konsultan media Partai Republik untuk menjadi CEO pertama Fox. Paradigma awal yang sudah tendensius mau tak tak mau mengantarkan Fox menjadi media tendensius, sekuat apapun usaha mereka untuk menyatakan bahwa berita-berita yang mereka hadirkan itu netral.

Praktik bias dari reportase jurnalistik adalah hantu gentayangan yang menggerogoti kredibilitas sekaligus eksistensi moralitas jurnalisme itu sendiri. Praktik ini akhirnya membuat sebagian masyarakat cenderung apatis terhadap media. Selalu muncul kecurigaan sebuah media adalah alat propaganda kekuasaan tertentu, atau sayap politik partai tertentu. Kecurigaan-kecurigaan yang lahir dari maraknya praktik penyalahgunaan kuasa media atas informasi yang mereka berikan pada masyarakat, di mana kuasa itu dikendalikan kepentingan kelompok tertentu.

Selain praktik bias dalam pemberitaan yang salah satu bentuk terburuknya adalah upaya untuk memelintir berita, pers hari ini juga berhadapan dengan pergulatan pelik lainnya terkait bagaimana media melakukan framing atau pembingkaian atas fakta berita yang mereka sajikan. Framing berita adalah hal tak terelakkan. Kita tidak bisa melihat itu sebagai praktik penyimpangan karena sepanjang disajikan oleh manusia, fakta selalu akan hadir dengan bingkai interpretasi pembuat berita tersebut. Interpretasi atas berita yang melibatkan konstruksi berpikir termasuk di dalamnya ideologi si pembuat berita.

Bingkai yang digunakan pers dalam mengemas berita inilah akhirnya yang memunculkan kecenderungan untuk terlihat memihak pada salah satu ‘aktor’ yang diberitakan. Fakta yang awalnya obyektif dan netral, dengan proses pembingkaian pers, berkembang menjadi keberpihakan dan porsi-porsi yang tidak seimbang, termasuk pilihan kata yang digunakan dalam menjelaskan para ‘aktor’ yang diberitakan.  Well, kita tidak akan membahas proses framing sendiri karena itu tampak seperti sebuah mata kuliah 2 sks bidang komunikasi. Pendek kata, framing yang awalnya adalah sesuatu yang tak terelakkan, menjadi persoalan tersendiri bagi pers.

Kenapa hal itu bisa? Karena framing yang dilakukan cenderung sudah tidak lagi proporsional, bahkan cenderung bias. Keberpihakan terhadap salah satu pihak dalam berita bernuansa vis a vis, terlalu kentara. Prinsip cover both side mulai kehilangan kekuatannya karena dilakukan setengah hati.

Bisakah pers hari ini membangun legetimasinya lagi sebagai pertanggungjawabannya pada peradaban? Karena peradaban selalu memilki pers sebagai salah satu penyangganya. Bisakah kita tetap bisa memiliki insan pers Seperti Bob Woodward dan Carl Bernstein yang menguak skandal Watergate dengan berani, atau tim berita Boston Globe yang mengungkap skandal pelecehan seksual anak oleh Pendeta Roman Katolik yang kisahnya diangkat ke dalam film, Spotlight, dan mendapat Oscar untuk film terbaik 2016. Atau jurnalis Irlandia, Veronica Guerin.

Kita selalu terinspirasi pada pers yang framing-nya tidak berorientasi pada kekuasaan tapi pada kebenaran. Insan-insan pers yang berjalan dengan prinsip mereka keadilan dalam membuat berita selalu memesona kita. Tapi ini memang masa-masa sulit, bukan begitu?

Wallahua’[email protected]

 

Facebook Comments