JANGAN kaget jika ada seseorang berwajah Arab, Afrika, ataupun Asia yang mengaku warga negara Prancis.  Ya, Prancis negara yang penduduknya berasal atau keturunan dari beberapa ras.

Negara-negara utara dan barat Afrika merupakan bekas jajahan Prancis. Karena itu banyak orang Prancis keturunan Maroko, Tunisia, dan Aljazair (seperti  Zinedine Zidane). Bisa terlihat dari wajah-wajah pemain sepak bola.  Ada yang seperti orang Afrika-Barat yang berkulit hitam atau yang sudah campuran, tetapi mereka warga negara Prancis.  Juga ada daerah bertetangga dengan Brasil, namanya Guyane. Itu masuk Prancis juga.

Di sebelah Timur-selatan benua Afrika ada pulau kecil (La Reunion) di lautan Hindia yang juga termasuk negara Prancis. Di kepulauan Karibia dan juga di Pasifik Ocean (Polinesia).

Sudah jauh kita berlayar, kembali ke Prancis Eropa, orang Prancis menyebutnya  Continent (baca: kontinong) tidak termasuk pulau-pulau di sekitarnya.

Islam adalah agama kedua yang dianut oleh orang Prancis setelah Katholik, walaupun Prancis sudah menjadi negeri Laïc (baca: la-ik), (agama bukan prioritas) dan politik, pendidikan terpisah dari agama. Ya, mereka lebih percaya dengan kenyataan, tapi tidak berarti tidak beragama.

Masa kejayaan gereja sudah lewat dengan adanya Revolusi Prancis (1789). Prancis menjadi negara Republik bukan lagi kerajaan. Dan tahun 1900 pemisahan antara pemerintahan dan gereja di mana waktu zaman kerajaan gereja memegang andil dan kekuasaan (termasuk masalah materi ), oleh karena itu gereja-gereja ataupun katedral di Prancis (Eropa ) bersaing dalam kemegahan, sementara rakyat menderita.

Berakhir sudah berlomba-lomba membangun gereja. Dana untuk itu mulai digunakan untuk kepentingan rakyat. Kehidupan yang lebih nyaman, pendidikan untuk semua tanpa perbedaan kasta (di zaman kerajaan).

Itu juga yang membuat aku gampang menjadi residen permanen di negeri yang Romantis (kata dunia ). Parce-que la France c’est le pays des droits de l’homme = Karena Prancis adalah negara Hak Asasi Manusia.

***

Banyak yang baru untuk aku hidup di negeri ini. Terlalu panjang untuk bicara tentang sosial politik dan sebagainya. Untuk asyikasyik aku akan berbagi yang asyik saja tentang negeri Eiffel.

Selain cuaca, soal makanan, wow…  aku harus berjuang untuk beradaptasi. Aku yang susah sekali soal makan, pelan-pelan mencoba ini itu. Dari yang baru… keju sampai wine.  Mencoba tidak makan nasi beberapa hari. Sehari dua hari bisa bertahan, hari ketiga tidak kuat, kangen makan nasi, bagaimanapun aku orang Asia. Aku tak bisa hanya makan roti tiap hari.

Kentang goreng aku tidak fans, karena banyak lemak. Untunglah akhirnya aku menyukai keju, dan Prancis negara yang di setiap daerah memiliki keju berbeda, tentu aku makan keju asli  (bukan industrial) karena aku anti dengan itu. Aku lebih suka belanja makanan di pedagang kecil dan home made,  aku tak suka belanja di supermarket kecuali untuk produk-produk tertentu yang secara tradisional tidak bisa diproduksi.

Soal wine, kalau wine yang enak aku tak menolak, hehee…

Semakin aku mengerti seluk-beluk Eropa, semakin aku susah untuk makan dan juga pola hidupku berubah. Sekarang aku menjadi vegetarien dan berusaha makan produk organik dan lokal (kecuali beras tentunya).

Bicara soal makan ini memang harus sabar. Apalagi bila sudah duduk di meja makan. Jika kita orang Indonesia menyantap hidangan maksimum 30menit sudah habis, orang Prancis perlu sekitar 2 jam untuk bersantap. Dari pembuka, makanan utama, keju, makanan penutup (bisa kue atau buah), sampai akhirnya kopi.

Apalagi kalau ada acara penting, Natal misalnya, makan siang Natal (25 Desember)  bisa mulai pukul 12:00 dan berakhir pukul 17:00, terus pukul 18:00 mulai makan malam yang selesai sampai dinihari (pukul 01:00). Walaupun tidak banyak yang ke gereja, tapi semua ikut merayakan Natal karena waktu Natal adalah kesempatan berkumpul dengan keluarga besar, yang selama berbulan-bulan disibukkan oleh kegiatan masing-masing. Liburan Natal, orang Prancis lebih memilih berkumpul dengan keluarga, liburan akhir tahun baru mereka berkumpul dengan teman-teman atau [email protected]

Facebook Comments