APA yang membuat seniman dikenang? Karyanya, tentu saja. Tapi, kadang ada hal-hal sepele dan remeh-temeh (dan manusiawi) dari perilaku seniman bersangkutan yang menarik untuk diungkapkan. Chairil Anwar dan Rendra, misalnya (sekadar menyebut 2 nama) tak hanya besar karena karyanya, tapi juga oleh perilaku mereka yang urakan.

Seniman dan karyanya kadang bagai dua sisi mata uang yang sama. Menghubungkan perilaku seniman dengan karyanya kadang tak relevan. Mengaitkan perilaku Chairil Anwar dan Rendra yang urakan dengan sejumlah puisi mereka yang religius mungkin tak nyambung. Konon, mustahil air bercampur dengan minyak.

Sirajul Huda (SH), yang meninggal dunia di usia 66 tahun di rumahnya, Selasa pagi (11/09/2018) dan dimakamkan siangnya di TPU Guntung Lua, Kota Banjarbaru, mungkin lebih tepat disebut sebagai seniman seni tradisi daerah Banjar. Bukan cuma penari, pelatih dan penata tari, SH juga penyanyi (pencipta tari dan lagu Japin Rantauan yang legendaris); di samping aktor, penulis naskah (dan pelatih) mamanda, teater tradisi Kalimantan Selatan.

Yang menarik dari SH adalah perawakan, karakter dan penampilannya yang sekilas dapat “menipu” mata sebagian orang. Dengan warna kulit hitam legam dan raut muka keras, SH bagai tacut dan tarkul (preman) yang menakutkan. Meski demikian, pada dasarnya SH orang baik. Suaranya yang kalem membuat adem, membuyarkan syak wasangka yang mungkin timbul pada sebagian orang yang belum mengenalnya.

Saya mengenal SH di usia belasan tahun, ketika (sebagai remaja) saya merasa perlu bergaul dan menimba ilmu seni budaya lokal kepada orang yang lebih tua. Tapi, ya, itu tadi: penampilan fisik SH cenderung “menipu”: sikapnya dingin, bicaranya datar (tak berapi-api), dengan nada rendah, pelan, dan tampak amat hati-hati.

Bukan berarti SH tak punya selera humor. Ketika bekerja di Bidang Kesenian, Kanwil Depdikbud Kalsel, Banjarmasin (sebelum reformasi), penampilan SH yang kaku (seperti amtenaar Pemerintah Hindia Belanda) kadang menimbulkan salah paham bagi sejumlah seniman. Mendiang Ajamuddin Tifani sempat membagi “seniman” dalam 2 golongan: “seniman ber-NIP” dan “seniman murni (non-NIP)”. Keduanya saling membutuhkan, namun kadang (karena prinsip yang berbeda) timbul konflik, persoalan dan sikap berseberangan.

Setelah pensiun dan bermukim di Kota Banjarbaru, saya jarang bertemu dengan SH. Kadang kami (praktisi seni di Kota Banjarmasin) bertemu SH di acara pergelaran seni atau diskusi. Sebelum (atau sesudah) mengajar seni tradisi Banjar di salah satu PTS di Kota Banjarmasin kadang SH mampir di warung kopi Mama Ainun (atau warung Kai Mani) di UPTD Taman Budaya Kalsel. Bersama seniman seni tradisi lainnya yang seusia (atau yang lebih muda), kadang SH membicarakan isu-isu terbaru tentang seni budaya di banua.

Pertemuan saya yang terakhir dengan SH adalah saat menyaksikan Festival Karya Tari Daerah (FKTD) Kalsel, di Panggung Terbuka Bakhtiar Sanderta, UPTD Taman Budaya Kalsel, Banjarmasin, Rabu malam (25/07/2018). Bersama sejumlah seniman, mantan pejabat dan mantan Kepala UPTD Taman Budaya Kalsel – Akhmadi Soufyan (Ennos Karli), Fahruraji, A. Mudjahiddin S., Yanto Madal dan lain-lain – kami menertawakan pelaksanaan FKTD tahun ini yang hanya diikuti 4 peserta kabupaten/kota (sementara jurinya 5 orang).

Ketika rehat (saat pergantian setting grup tari yang sudah/akan tampil), sambil mengarahkan dagu kepada Yanto Madal (yang menawarkan rokok), SH berucap:

“Aku sudah ampih beroko, To ai…”

Saat itu juga, tanpa pikir panjang (dengan maksud bercanda) saya menyahut: “Hati-hati pian, Ka Rajul-lah mun ampih beroko… Burhanuddin Soebely anam tahun haja ampih beroko, meninggal…”

Tak berselang lama, SH berpulang. Innalillahi wa’inna ilaihi roji’un…@

Facebook Comments