AKHIRNYA, Prof Sutarto Hadi (SH), dengan memperoleh suara terbanyak dalam Sidang Tertutup Senat ULM, Rabu (12/9), kembali terpilih menduduki posisi tertinggi di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) untuk Periode 2018-2022.

Dengan demikian, sudah seharusnya, segala persoalan yang sempat membelit kampus tertua di Kalimantan itu (berdiri 21 September 1958) seputar Pemilihan Rektor ULM harus diakhiri. Kembali ke tempat masing-masing, bekerja seperti biasa.

Universitas Lambung Mangkurat yang dulu disingkat Unlam—sebelum kemudian di era SH (bukan Sainul Hermawan, salah satu dosen di situ, lho ya…) diganti dengan ULM, seringkali diplesetkan dengan Universitas Lambat Maju. Dan itu seolah sudah menjadi sebuah “kutukan”, kutukan Lambung Mangkurat, karena ungkapan itu terkadang masih terdengar. Adakah mungkin itu terkait dengan nama “Lambung Mangkurat”?—bagaimana pun, dalam hikayat diceritakan Lambung Mangkurat telah berbuat aniaya dengan membunuh kedua ponakan kembarnya, Bambang Patmaraga dan Bambang Sukmaraga. Wallau’alam.

Selain mengganti akronim Unlam menjadi ULM agar tidak identik dengan Universitas Lampung, barangkali juga untuk memutus kutukan itu. Kan biasa, kalau ada anak yang nakal, bandel, susah diurus, biasanya namanya diganti. Walaupun ini cuma ganti nama panggilan saja. Yeah, siapa tahu Unlam, eh ULM, bisa jadi universitas yang lebih baik dan “lakas maju”.

Ya, sudah pasti ada parameter tersendiri untuk menilai sebuah perguruan tinggi itu disebut (ter)baik dan atau maju. Namun, salah satunya, secara umum orang menilai dari; apakah universitas itu sudah menjadi incaran atau pilihan utama para calon mahasiswa. Bukan hanya untuk lokal, setidaknya regional—dan tentu saja sangat berharap nantinya menjadi terpandang di antero negeri, lebih-lebih luar negeri. Mari Aamiin kan saja dulu.

Terkecuali memenuhi parameter sebagai sebuah perguruan tinggi yang hebat, persoalan lainnya juga tak lepas dari “branding”. Sudah sejauh manakah branding ULM hingga mampu menonjolkan dirinya sebagai salah satu perguruan tinggi yang bagus. Dan bagaimana pandangan di luar sana terhadap kampus ini.

Pada periode pertamanya, SH sering kita lihat (lewat media sosial facebook milik beliau) berada di luar negeri. Melakukan pertemuan-pertemuan dengan berbagai pihak—tentu dengan membawa nama kampus. Ini pasti juga sebagai upaya menanamkan branding, dan meningkatkan kapasitas kampus.

Hanya belakangan ini, atau mungkin sejak masa pemilihan Rektor ULM periode 2018-2022, beliau tidak terlihat wara-wiri di facebook—atau mungkin karena tidak lewat di laman saya saja ya? (Sebentar, saya cek FB beliau..) Oo.., postingan terakhir beliau tertanggal 24 Agustus 2018, menjadi narasumber dalam Kongres Pancasila X di Universitas Gadjah Mada, bersama di antaranya Mahfud MD. Sebelumnya, agak jauh jarak waktunya, beliau memposting  Lalu Muhammad Zohri yang menjadi juara lari cepat 100 meter, tertanggal 12 Juli 2018.

Jadi memang, belakangan beliau agak “mengurangi” posting di FB—ya, tidak seperti kamu lah…

Itulah baiknya di zaman fesbuk ini, kita bisa melihat aktivitas seseorang lewat sosial medianya. Termasuk Pak Rektor. Dulu, kita juga sering melihat SH memakai kaus bertuliskan ULM di bagian depan; seperti ULM in EUROPE, ULM in SPAIN, dll (mungkin perlu juga nanti dibikin kaus bertuliskan ULM in My Love, ULM in My Life, ULM in My Heart—dan saya tidak keberatan diberi satu karena mengusulkan ide ini)—yang kaus serupa itu juga dikenakan sebagian dosen lainnya pas berada di luar negeri sono. Tentu saja, sekali lagi, pemakaian kaus seperti itu sebagai upaya dari branding.

Meski jarang ke ULM—karena saya bukan mahasiswa apalagi dosen di situ, saya lihat kampus ini banyak kemajuannya, maksud saya lingkungannya lebih tertata dan asri. Bahkan, SH juga memelihara angsa untuk memperindah kolam di sana, dan beliau sempat kesal dulu ketika telur-telur angsa itu dicuri orang, sampai-sampai diumumkan di FB beliau pula. Dan saya sampai-sampai menjadikannya cerpen—hitung-hitung bantu beliau untuk mengungkap pelaku pencurinya. Bagaimana kabar telur angsa dan pencurinya, saya tidak sempat lebih jauh lagi menyelidiki—dan yang jelas saya juga tidak hendak meminta imbalan jika cerpen saya itu membantu dalam mengungkap pencurinya. Saya ikhlas…

Kemudian, SH juga apresiatif terhadap siapa saja yang berusaha membuat branding tentang ULM. Misalnya, ketika Randu Alamsyah menulis novel tentang sosok Lambung Mangkurat, beliau langsung menyatakan akan membelinya 100 eksemplar lebih (untuk dibagikan kepada mahasiswa), dan akan diacarakan di ULM. Saya ingat, betapa girangnya Randu kala itu. Dan benar, lewat bantuan SH (kali ini benar: Sainul Hermawan), acara berlangsung pada 29 Maret 2018 dengan menghadirkan narasumber sejarawan asal Banjar, Helius Sjamsuddin dari Bandung. Luar biasa..

Sekarang, dengan terpilih kembali sebagai rektor hingga 2022, maka ada banyak masa bagi SH untuk membawa ULM lebih maju lagi—tidak sekadar menghapus “kutukan lambat maju” dengan mengganti sebutan Unlam menjadi ULM sahaja.

Terakhir, (meskipun) sebagai bukan alumni Universitas Lambung Mangkurat, saya turut mengucapkan selamat kepada Prof Sutarto Hadi yang telah terpilih untuk kali kedua sebagai Rektor ULM Periode 2018-2022. Semoga ULM “Lakas Maju”. Ngomong-ngomong, gimana angsanya, Pak? Ada kemajuan dalam bertelur? Semoga gak ada yang berani mencurinya lagi, ya, Pak…@

 

Facebook Comments