EKOLOGI sebagai sebuah ideologi dan gerakan politik lahir dari munculnya partai Hijau (Green Party) di berbagai negara di sekitar tahun 70-an (baca buku Ideologi Politik Mutakhir, Ian Adams). Kita menyebutnya ekologisme. Tujuan mereka jelas, misi penyelamatan lingkungan. Bahwa alam adalah sumber kehidupan oleh karenanya jika manusia ingin bertahan hidup, maka pertama-tama alam harus menjadi perhatian utama. Pengabaian terhadap alam berarti pengabaian terhadap eksistensi manusia itu sendiri.

Ekologisme sesungguhnya adalah hal yang memang diperlukan dunia hari ini, mengingat degradasi alam dan lingkungan yang semakin menuju titik kritis. Prediksi punahnya satwa, punahnya hutan, habisnya air bersih, atau pemanasan global adalah horor masa depan. Kita mungkin tak banyak ambil pusing karena semua kebinasaan itu tak terjadi di masa kita. Namun jika kita melihat wajah anak cucu, kekhawatiran itu bisa sangat menyesakkan dada.

Ecocritism (ekokritik) adalah perluasan gerakan ideologis Ekologisme sebagai konsekuensi logis dari persentuhannya dengan sejumlah bidang. Sama seperti Marxisme sebagai ideologi yang juga memasuki wilayah kesastraan sehingga memunculkan sastra Marxis, ekokritik dapat dipahami sebagai aliran kritik sastra yang memfokuskan kajian pada bagaimana alam direpresentasikan dalam teks sastra, bagaimana alam dikonstruksi dalam representasi ini, dan juga melihat bagaimana manusia mempersepsi konsep alam itu sendiri dalam teks sastra.

Ekokritik juga mempelajari isu-isu (kontemporer) terkait alam yang muncul dalam teks sastra, (Bertens, 2008). Pendek kata, menururt Cheryll Glotfelty, tokoh yang dijadikan rujukan utama dalam merumuskan konsep ekokritik, ekokritik adalah kajian mengenai hubungan sastra dan lingkungan yang dipengaruhi utamanya oleh komitmen penyelamatan lingkungan.

Melihat representasi alam dalam teks sastra (dan non-teks) memerlukan usaha lebih ketika kita tidak melihat hubungan itu ditunjukkan secara terbuka. Apa yang awalnya tidak bisa kita lihat sebagai sebuah representasi boleh jadi ada jika didalami.  Misalnya saat kita membaca Bumi Manusia dan menganggapnya sebagai novel politik dan pergerakan namun di sela-sela itu juga menyadari adanya harmonisasi alam dan manusia yang direpresentasikan oleh pengelolaan pertanian yang bijak oleh Nyai Ontosoro di Boerderij  Buitenzorg. Melihat alam dalam teks sastra yang tidak membicarakan alam cenderung memaksa kita untuk mengalihkan sudut pandang dan melihat lebih dalam.

Berbeda halnya jika kita melihat hubungan itu dalam rupa yang sangat kentara. Misalnya puisi tentang alam yang jumlahnya tentu tak sedikit. Banyaknya puisi yang membicarakan alam ini bahkan sampai memunculkan istilah ecopoetry (ekopuisi) yaitu puisi-puisi dengan pesan ekologis yang kuat. Tulisan saya kali ini akan coba membicarakan jenis puisi macam ini. Tulisan ini akan berbicara tentang dua puisi bertema Meratus yang ditulis oleh Micky Hidayat (selanjutnya disebut MH). Tulisan ini mencoba melihat bagaimana alam direpresentasikan dan bagaimana konstruksinya.

Dua puisi MH ini berjudul Suara dari Meratus dan Amuk Meratus. Titimangsa puisi Amuk Meratus menunjukkan tahun penulisan 2008, sedangkan Suara dari Meratus tahun 2019. Dua puisi ini saya dapatkan di laman Facebook saudara Muhammad Isya Azhari yang mendokumentasikan pembacaan puisi oleh tiga penyair Kalsel saat malam pergantian tahun 2019 ke 2020. Puisi Suara dari Meratus ditampilkan di laman Facebook pada 2 Januari 2020, sementara puisi Amuk Meratus pada 7 Januari 2020. Mari kita bicarakan puisi-puisi ini.

Puisi 1

SUARA DARI MERATUS

 

Apabila suara kami tentang penyelamatan Meratus

tak lagi kalian dengar

Apabila keprihatinan kami tentang kehancuran Meratus

terus kalian abaikan

Apabila protes demi protes dan teriakan demi teriakan

parau kami

tak lagi kalian pedulikan

Apabila kata-kata dan puisi demi puisi kami

yang berhamburan di lereng, lembah, dan beterbangan

di udara pegunungan Meratus

kalian anggap sebagai polusi dan sampah

Apabila kalian punya jiwa, tapi jiwa kalian telah lama

mati

Maka, sebagai manusia yang masih punya mata, telinga,

dan

nurani, kami pun bertanya: masih pantaskah kalian

kami panggil sebagai manusia?

Apabila kalian merasa masih manusia,

dengarkan!

 

Banjarmasin, 23 Maret 2019

 

 

AMUK MERATUS

 

Teruslah perkosa aku

senafsu-nafus rakusmu

tebas dan cabik-cabik tubuhku

sebirahi-birahi eranganmu

cakar dan bongkar seisi perutku

sepuas-puas raunganmu.

lemparkan jasadku

ke lembah-lembah

ke jurang-jurang

ke sungai-sungai

dari ketinggian puncakku

hingga rohku melayang-layang di udara

melintasi gunung-gunung tak bernama

menerbangi bukit-bukit tak bernama

mengarungi samudera tak bernama

menjelajahi hutan-hutan tak bernama

yang sudah sirna, tanpa suara

 

Renungkanlah! Sebuah peristiwa yang tak akan pernah

tercatat

dalam sejarah kemanusiaan, betapa tragis dan

memilukan.

Suatu saat nanti, jasadku akan bangkit menuntut balas

atas

perlakuan kalian yang semena-mena, brutal, sadis,

psikopat dan tak berperikemanusiaan yang

adil beradab apalagi beradab terhadap tubuhku.

 

Maka terimalah amuk dan pelampiasan dendam

kesumatku; bumi Kalimantan Selatan beserta

seluruh isinya akan kutenggelamkan dan kurendam

sedalam-dalam hingga lenyap dari peta

negeri beribu pulau ini.

Maka terimalah laknat dan azabku: semua desa dan

kota kutenggelamkan. Semuanya

kutenggelamkan, kulenyapkan, kusirnakan tanpa sisa,

hingga hilang dari peta kemanusiaan.

Terimalah dahsyatnya air bah amarah dan amukku ini

Sebagai tumbal dan ganjaran atas

Keserakahan, kerakusan,  dan kesewenang-wenangan

kalian memperlakukan tubuhku.

Kalian hancurkan keseimbangan dan kelestarian alam.

Jangan kalian sesali dan tangisi lagi tragedi alam ini.

Segalanya kulumatkan, kululuh lantakkan,

Kuhancur-leburkan!

Jangan kalian cari tempat mengungsi ke bukit-bukit ke

gunung-gunung, sebab bukit dan gunung

pun sudah lenyap

kutenggelamkan.

Tiada guna lagi kalian cari kapal Nuh penyelamat nyawa

Kalian.

Jangan kalian cari Rahim hidup dan kehidupan

Sebab kehidupan telah tiada

Segalanya telah kutuntaskan!

 

Maka terimalah kehancuran ini sebagai azab dan karma

Bagi kejahatan dan dosa kalian sebagai manusia.

 

2008

 

Meski ditulis dalam kurun waktu berbeda, namun kedua puisi ini memiliki karakteristik yang kurang lebih sama. Keduanya sama-sama puisi mimbar, puisi protes sosial dengan makna lapis kedua yang pemaknaannya tidak jauh berbeda dari makna lapis pertama. Kita bisa menyebutnya puisi transparan di mana pembaca barangkali tidak kesulitan untuk memberikan tafsir secara umum. Kedua puisi ini juga membicarakan perihal yang sama, Meratus.

Meratus dalam puisi ini tak lain dari rangkaian bentang alam pegunungan Meratus yang merupakan kawasan hutan pegunungan rendah dengan sepenuh kekayaan hayati. Kawasan pegunungan ini berada di sepanjang delapan kota kabupaten di Kalimantan Selatan yang panjangnya sekitar 599 km. Meratus adalah salah satu penyangga ekosistem di sepanjang wilayah itu.

Meratus adalah representasi alam paling kuat dalam puisi-puisi ini. Meratus adalah substansi isi sekaligus keseluruhan puisi. Jika sebagai sebuah representasi ia justru menjadi keseluruhan, maka dua puisi HM ini menjadi ekopuisi sebenarnya. Demikianlah sederhananya.

Persoalan selanjutnya yang perlu dibicarakan adalah bagaimana konstruksi Meratus di dalam dalam puisi-puisi ini sehingga kita bisa melihatnya memang sebagai representasi alam paling kuat.

 

Rekonstruksi Meratus dalam Puisi Suara dari Meratus

Dalam puisi ini, Meratus diposisikan sebagai sesuatu yang rapuh, terancam, dan perlu diselamatkan dari kehancuran. Hal itu dapat dilihat dari penggunaan diksi: penyelamatan Meratus, kerusakan Meratus di awal puisi. Diksi-diksi ini menampilkan Meratus sebagai obyek yang perlu dibela, dan jika kita telusuri ke larik-larik selanjutnya memang ada pembela-pembela Meratus. Pembela yang membela dengan kata-kata dan puisi. Meski demikian, pembelaan itu jelas sekali diabaikan, sehingga kegeraman para pembela mencapai puncaknya dengan mempertanyakan apakah mereka yang mengeksploitasi Meratus ini masih bisa dikatakan manusia atau bukan.

Meratus adalah pusat dari isu kontemporer mengenai perusakan alam oleh manusia. Ia adalah manifestasi dari kekhawatiran mengenai alam dewasa ini. Manusia dan alam (baca: Meratus) diposisikan dalam dua dimensi. Mereka yang ingin melakukan eksploitasi atasnya dianggap sebagai musuh sedangkan mereka yang membelanya adalah kawan, seperti tergambar dalam puisi ini.

Dalam pandangan ekologisme, ada hubungan erat antara alam dan kebaikan, seperti halnya ada hubungan erat juga antara kerusakan alam dan kejahatan. Hilangnya penghargaan tehadap alam menunjukkan kemerosotan moral, (Bartens, 2008). Konstruksi ini juga yang muncul dalam puisi ini. Mereka yang hendak mengeksploitasinya (yang berarti akan merusak alam) adalah pelaku kejahatan dengan moral yang patut disangsikan. Sepanjang usaha mereka tak bisa dihentikan maka kejahatan tetap berlangsung. Di sisi lain, kepedulian terhadap alam menjadi bukti moralitas manusia, tak terkecuali Meratus dalam hal ini.

Pandangan ideologis semacam ini menempatkan perusak lingkungan sebagai penjahat yang sejajar dengan para penjahat yang melakukan kejahatan lainnya seperti korupsi, membunuh, dan lainnya. Hal itu bisa diterima secara logis karena perusakan terhadap alam biasanya akan berimplikasi pada kualitas kehidupan manusian itu sendiri. Jika kita menganggap pelanggaran pada nilai-nilai kemanusiaan adalah kejahatan, maka para perusak alam jelas penjahat juga.

Pemosisian para eksploitator alam sebagai penjahat ini sesungguhnya klasik sekali. Perusahaan-perusahaan transnasional macam Rio Tinto dan Chevron adalah dua contoh dalam skema advokasi lingkungan di mana mereka menjadi antagonis karena kerusakan lingkungan yang mereka sebabkan sebagai ekses dari kegiatan penambangan yang dilakukan. Aktivitas penambangan Chevron di Riau dan Ekuador atau Rio Tinto di Grasberg, Papua, dan India mendapatkan kecaman secara global. Hal tersebut menempatkan mereka sebagai apa yang disebut dalam kutipan Hans Bartens dalam bukunya The Basic Literary Theory sebagai bukti kemerosotan moral.

Pemosisian semacam ini agaknya akan terus terjadi di masa depan, terutama di masa depan. Saat ekses dari degradasi alam mulai wujud secara visual dan dapat dirasakan segenap indera manusia. Saat itu mereka yang merusak alam akan benar-benar menjadi penjahat dalam bentuknya yang paling orisinil.

Rekonstruksi Meratus dalam Puisi Amuk Meratus

Kali ini Meratus berubah dari sesuatu yang rapuh dan perlu dibela menjadi entitas perkasa yang mampu menghukum dan membalaskan dendamnya sendiri. Perusakan Meratus terus-menerus kelak akan mendapatkan balasan yang mengerikan, Meratus akan  menghilang lalu menjelma banjir sedalam-delamnya untuk menenggelamkan semua yang ada. Pembalasan itu dapat kita lihat di bait terakhir yang panjang: Maka terimalah amuk dan pelampiasan dendam/ kesumatku; bumi Kalimantan Selatan beserta

seluruh isinya akan kutenggelamkan dan kurendam/ sedalam-dalam hingga lenyap dari peta/ negeri beribu pulau ini.

Bartens (2008) menceritakan hal serupa. Amarah alam ini tergambar dalam bagian kedua Trilogi Lord of the Ring, The Two Towers, di mana para pohon penjaga hutan kuno, The Ents, turut serta dalam peperangan melawan Saruman. Mereka menenggelamkan para Orc dan menghancurkan Isengard yang baru dibangun Saruman sebagai pusat kekuasaannya.

Pembalasan yang dilakukan alam setelah dirusak merupakan salah satu ekpresi yang umum ditemui dalam literatur yang membahas isu degradasi dan kerusakan alam. Pembalasan dari alam menjadi suatu keniscayaan jika perlakuan pada mereka demikian buruknya. Pembalasan dari alam bisa sangat dahsyat dan impresif: banjir, longsor, gempa, bahkan penyakit. Ekspresi ini menunjukkan bahwa alam memiliki kekuatan untuk menghukum para perusak, meski jika ditarik dalam premis yang lebih religius, kita menyadari bahwa pembalasan itu adalah kekuasaan Allah untuk memperingatkan manusia yang telah melampaui batas dalam perlakuan mereka terhadap alam.

Dengan demikian, jelaslah konstruksi Meratus yang dibangun MH dalam dua puisinya  di atas. Konstruksi yang menunjukkan bahwa sebagai ekspresi ekopuisi, puisi-puisi itu menyajikan Meratus dalam posisinya yang paling kuat sekaligus paling rapuh. Meratus perlu dibela sekaligus bisa membela dirinya sendiri. Sementara itu para eksploitatornya berada dalam posisi mereka yang paling abadi, sebagai penjahat dalam kondisi kemerosotan moral yang sedemikian rupa.

Wallahua’[email protected] 

 

Facebook Comments