SERIBU GAMBAR

bahkan seribu gambar
dalam lembar album itu
telah kulupa tajuknya
karena selalu wajahmu
yang dulu mampir
lalu diempas badai

: serpihan


AKULAH AIR

jika hutanhutan dihilangkan
tanah digali jadi kubangan
ke mana aku istirahat kalau tidak
ke kampung dan kota. masuki rumahrumah
ingin berdiam di sana sebab lelah oleh perjalanan
jauh – dari bukit tinggi, dari sungai
menyusuri ke paling rendah: rumah atau jalan
kota yang pikuk

“akulah air, takdir untukku adalah
mengalir. dan kau membuka jalanku
itu bukan ke pantai, namun
ke kampungkampung. kurendam
rumah di situ.”

jika hutanhutan kauhabisi, tambang kaugali
lalu dibiarkan lubang menganga, aku cari tempat lain
untuk istirahat. untuk jalanku penghabisan:
rumahrumah kurendamkan, jalanjalan kujadikan
laut. kalian kedinginan! “tapi, siapa yang merusak hutan
dan menggerusi tambang: di mana mereka kini
saat orangorang menangis gigil dan kehilangan
yang dipunyai?”

aku ingin menenggelamkan mereka juga,
sebab aku mengalir jauh kerena tangannya


AIR MENGUNJUNGI RUMAH

lalu air berbaris mengunjungi
rumahrumah. ingin pula istirahat
setelah jauh berjalan. ingin juga
bercinta dan dicintai. merindukan

sujud lebih panjang. bukan sebagai
petapa di gunung, di sungai, di akar
pepohonan. bukan menjadi uap,
sebagai awan; bahu yang sarat
beban

ingin lebih lama lelap. di rumahrumah
karena selama ini hanya jadi piatu
tanpa belaian, tak pula disapa

hutanhutan disingkirkan, tanah digali
jadi lubanglubang dalam. barisan air
dilupakan hidupnya,

kalau kini aku pamit istirahat di rumahrumah
itu maka izinkan, ucapnya

orangorang pun bergegas mengungsi
mengeluarkan perahuperahu yang dulu parkir
di pohon pinggir sungai

Facebook Comments
Artikel sebelumnyaBIGI BIDAK
Artikel berikutnyaLAMUT DAN KISAH RADEN KASAN MANDI MEMPERSUNTING PUTRI MESIR
Isbedy Stiawan ZS
Lahir di Tanjungkarang, Lampung, dan sampai kini masih menetap di kota kelahirannya. Ia menulis puisi, cerpen, dan esai juga karya jurnalistik. Dipublisakan di pelbagai media massa terbitan Jakarta dan daerah, seperti Kompas, Republika, Jawa Pos, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Media Indonesia, Tanjungpinang Pos, dan lain-lain. Buku puisinya, Kini Aku Sudah Jadi Batu! masuk 5 besar Badan Pengembangan Bahasa Kemendikbud RI (2020), Tausiyah Ibu masuk 25 nomine Sayembara Buku Puisi 2020 Yayasan Hari Puisi Indonesia, dan Belok Kiri Jalan Terus ke Kota Tua dinobatkan sebagai 5 besar buku puisi pilihan Tempo (2020).