SECANGKIR KOPI DI NATEH

masih terlalu pagi di Nateh
ketika aku dan keletihanku tiba

hujan tadi malam menyisakan dingin
menyimpan gigil pada baris pepohonan
menitip riwayat pada bukit, gunung batu,
dan hamparan kembang kuning

perahu biru mengapungkan sesajen rindu
sambil menafsir pesan rahasia sang meratus
pada permukaan secangkir kopi
aku lukis wajahmu dan seluruh kisah kita.

Adakah yang lebih pahit
selain jawaban yang disangkal kebenarannya
bukan oleh sesiapa
melainkan dari hatimu sendiri

Nateh, 2019

MAAF, AKU PELUPA YANG BURUK

Menganggap mereka tidak ada
seperti yang kaupinta
bukan sesuatu yang buruk
Akan tetapi
ada yang tidak bisa kita hindari
sekuat apapun kita berupaya
dengan atau tanpa komentar mereka
takdir sudah benderang tanpa kita undang

Kutitip catatan tentang sebuah kehilangan
pada sepanjang jalan raya berdebu
dari pagi hingga petang itu
(ditutup dengan dua gelas kopi)
satu hari bersejarah bersamamu
yang sepeninggalmu aku napak tilasi bersama air mata

ada yang menandai dengan jeli
setiap titik yang kita singgahi
hatiku menyimpan dengan rapi
Setiap hal yang kelak akan kita sebut masa lalu.
Haruskah kita menghapus semuanya?

Maafkan, aku pelupa yang buruk; move on-er yang gagal.
Kenangan mendekam sempurna di benakku; beranak-pinak dalam hati.
Jangan cemas, kamu bersih
Kau tidak kusimpan sebagai penjahat di dalam sana.
Kau yang terbaik – dan selamanya akan begitu.

Pertengahan Januari 2019

UNTUK SEGALA KEPAHITAN YANG AKU TERIMA

dulu aku kira
meninggalkan atau ditinggalkan
tidak akan jauh berbeda
bagi kisah-kisah janggal seperti kita
hingga aku tidak pernah takut
terhadap segala kemungkinan

Lalu hari-hari itu tiba

hari ketika aku:
menyusuri sungai demi sungai;
menenggak bergelas-gelas kopi;
melebur tawa dan tangis dalam bejana sepi;
memaksa kaki tetap tegak berdiri;
menyuruh otak mengalahkan hati;

~hari ketika aku melawan kenyataan

Terlalu banyak yang belum aku pelajari
bahkan hingga hari ini,
aku hanya mengerti satu hal
meninggalkan atau ditinggalkan;
keduanya patut dirayakan bersama segelas kopi

LARUT MALAM BERSAMAMU DI NAIRA

~ kepada R

hujan deras menyambut kedatanganku
menjadi satu-satunya backsound jiwa malam itu
senyummu memberiku sedikit harapan
tentang terus berjalan, berjalan saja
tanpa perlu berlari di sepanjang pantai
tak peduli ombak, pasir atau irama hati
yang sedang tidak bagus

rahasiamu adalah aku
rahasiaku adalah kamu

dua cangkir kopi yang berbeda
berdampingan mesra di atas meja
seperti kita yang terus bercerita
hingga larut malam di Naira.

 

TERISTA

Ada air yang jatuh dari langit
lurus seperti garis
awan masih kelabu
payung-payung terkembang
menaungi gadis-gadis bermantel

pejalan kaki yang bergegas,
deru motor, klakson mobil, lampu jalan,
genangan air, dahan yang bergoyang
serta petrikor
tidakkah semua itu presentasi hujan belaka.

Aku ingat-ingat lagi
bagaimana dahulu
melangkah sendiri tanpa dirimu
di bawah derasnya hujan seperti ini
-agar aku kembali terbiasa.

Anehnya, aku tak mengingat apapun
tahu-tahu ada air mata
di ujung syal coklatku.

Facebook Comments