Di Makam Syekh Abdusamad (1237-1317),
Marabahan

Dalam ketenangan bumi dan langit tanah air, angin berhembus
bangkit dari kedalaman paru-paru banua. Meriapi gambut
mengurapi rawa-rawa. Kepadaku mengertap salam
di atap sirap. “Masuklah!”

“Ya, aku masuk,” bisikku, seorang peziarah
yang memang ingin mudik ke bilik dalam
Dan dijawab lagi lewat desau lembut
di kasau, celah kaca dan bilah-bilah kayu merbau.

Angin dari jauh, lama mengeram di rawa masam
Menunggu bangkit di hari baik. Dan kini ia datang
ketika aku datang. Ia cium tengkuluk pada nisan
Ia belai tengkuk para peziarah
yang bersimpuh khusuk di lantai keramik,
memantulkan bayang wajah sendiri
seolah doa yang didaras berbalik pulang
kepada diri. Angin dari jauh,

ia mengerti. Sejauh-jauh pergi
ia pun akan kembali ke sudut sunyi
Marabahan. Sebagai angin yang dibangkitkan
Sekali waktu tengkuluk yang membelit nisan
ia hembus serupa layar pada kapal

Para peziarah yang terpejam dibawanya berlayar
tetirah ke ujung jazirah. Maka di gelombang sakal,
saat membuka mata, secebis kain itu
kami amsal kain bendera
milik sebuah bangsa keramat pilihan
yang bergulat hidup-mati
di antara tiga samudera dan lima benua
Sebagian kami membacanya sebagai bagan silsilah:
titik-titik cahaya, jaringan dan peta-peta cahaya
di atas pulau-pulau nuswantara…

2018

Pasongsongan, Madura

Dari bukit karang batu
Ada yang diam-diam menujumu
dengan pandangan laut cemburu.

Dari Prancak di lereng Payudan
Laut yang teleng telah mewarnai seluruh langit
dengan biru, biru yang sengit
memperjalankan aku.

Di lanskap sawah alit,
jalan berliku di terjal bukit
sempit buat berandeng dua colt
Satu mengalah atas yang lain
—mari, mas, saling kita kuncup
kaca spion. Beri laluan,
dengan lambai salam daun siwalan
dan manis sapa klakson.

Tiba di pantai, laut menyambut
dengan jubah biru tua
Kukira akan tambah sengit cemburu kita
Tapi kapal-kapal di muara melerainya,
Kapal-kapal yang dicat penuh warna
serupa kelenteng Lasem atau tapekong Bangka.

Lihatlah, di muara sempit,
mereka saling merapatkan saf
Menunggu terompet lokan
ditiup imam syahbandar!

Di ujung jembatan, sebuah pasar sembunyi
dalam kelokan jalan seolah sarang lanun di ceruk karang
tempat menimbun harta karun: berpeti-peti
kopi, gula, beras dan garam. juga ikan asin dan bawang

Aroma kopi membawaku singgah
dengan langkah perompak goyah
Kulewati rumah-rumah tua Tionghoa
yang beradu pinutu dengan kerikil jalanan
Kunaiki anak-anak tangganya
Serasa menaiki punuk-punuk jinak
sapi madura. Dan di keteduhan teras yang luas
aku yang pura-pura kalah mulai beraksi
merompak kata-kata!

Di Pasongsongan, Madura, sebagaimana di mana-mana,
semua orang menyongsong kapal ajalnya
dengan jala seluas langit dan jalan selapang samudera
Dua-duanya biru, biru tak terduga

2018

Sajak Sehari-hari

Sejak aku mengenalmu, aida
Kopiku berubah pahit
Tapi sungai dan laut
Bahkan mendung di langit
Bertambah manis

Facebook Comments