MENJADIKAN puisi sebagai ekspresi pengungkapan pikiran dan perasaan telah lazim kita mafhumi. Pada situasi tertentu, ia adalah alat perlawanan. Kata-kata adalah senjata, dan penyair yang jeli tahu kapan senjata itu bisa digunakan. Sejumlah penyair dipenjara, dikucilkan, atau bahkan hilang karena puisi-puisinya. Daren Tatour, penyair perempuan Palestina ditangkap Israel karena puisinya. Kay Khine Tun dan empat kawannya juga ditangkap militer Myanmar karena membuat dan membacakan puisi yang berisi sindiran pada rezim militer. Di Indonesia kita ingat kasus pemenjaraan W.S. Rendra karena puisi-puisinya yang kritis dan Widji Thukul yang hilang tahun 1998 karena puisi-puisinya yang mengkritik pemerintah Orde Baru.

            Puisi yang digunakan penyairnya sebagai alat perlawanan meski kebanyakan berbentuk puisi-puisi mimbar dengan makna yang cenderung lebih transparan, ia tetap saja puisi. Ada lapisan-lapisan makna yang perlu diungkapkan, segamblang apapun. Namun, pengungkapan makna dalam puisi jenis ini agak sulit jika berkutat pada penafsiran struktur internal puisi itu sendiri tanpa membawanya pada konteks di luar puisi tersebut. Misalnya pada persoalan apa atau siapa yang dilawan oleh puisi-puisi macam ini, seringkali perlu diterjemahkan dalam konteks sosial, politik, dan kebudayaan tertentu.     

            Dalam puisi perlawanan, penyair bisa menjelma menjadi sesiapa saja, namun lawan tetap ada di sana, bisa diraba dalam larik dan bait puisi. Dikotomi antara penyair sebagai pihak yang melawan berhadap-hadapan dengan pihak yang menjadi lawan dalam puisi barangkali dapat dijelaskan dengan menguraikan relasi kekuasaan antara keduanya sehingga dapat dilihat siapa yang dilawan, penyair melawan sebagai apa, bagaimana perlawanan itu digulirkan, dan pada tahap yang lebih final, siapa yang akhirnya dimenangkan dalam puisi tersebut, sang lawan atau justru penyair yang meletakkan dirinya sebagai obyek penderita, yang dikalahkan.

            Relasi kekuasaan adalah salah satu bahasan penting dalam pemikiran Michel Foucault yang seluruh kajian pemikirannya memang berpusat pada hubungan antara kekuasaan dan pengetahuan. Dalam pandangan Foucault, relasi kekuasaan tidak terjadi pada situasi di mana sekelompok orang yang memiliki kekuatan menindas mereka yang tidak memiliki kekuatan sama sekali, di mana yang memiliki kekuatan berarti memiliki kuasa. Kuasa menurut Foucault dapat dijelaskan sebagai berikut,

            Persoalan kekuasaan bukanlah persoalan kepemilikan dalam konteks siapa menguasai siapa atau siapa yang powerful sementara yang lain powerless. Kekuasaan itu tersebar, berada di mana-mana (omnipresents), imanen terdapat dalam setiap relasi sosial. Hal ini bukan karena kekuasaan itu memiliki kemampuan mengkonsolidasikan segala sesuatu di bawah kondisi ketidaknampakannya, melainkan karena kekuasaan selalu diproduksi dalam setiap momen dan setiap relasi.[1]

            Pandangan Foucault di atas menunjukkan bahwa kekuasaan terdistribusi merata, kekuasaan dijalankan di antara individu, antara kelompok-kelompok kecil, dan kelompok besar dalam masyarakat. Tidak secara represif tapi secara timbal balik. Kekuasaan semacam ini bersifat intensional dan non subyektif, artinya kekuasaan berjalan dalam intensitas yang terus-menerus dan tidak bergantung pada subyek tertentu. Dalam hubungan dua subyek, kekuasaan tidak lantas tetiba dimiliki oleh hanya satu subyek saja, namun justru hubungan yang terus menerus antarkeduanya lah yang memungkinkan timbulnya kuasa yang mungkin beredar secara bergantian di antara mereka.

            Lalu bagaimana relasi kekuasaan yang bergulir dalam larik-larik puisi karya Y.S. Agus Suseno? Y.S. Agus Suseno (selanjutnya disingkat YSAS) adalah satu dari penyair senior yang konsisten dalam dunia perpuisian Kalimantan Selatan. Beberapa tahun terakhir puisi-puisi YSAS didominasi tema Save Meratus. Save Meratus sendiri adalah sebuah gerakan sosial melawan usaha eksploitasi pegunungan Meratus yang selama ini menjadi penyangga ekosistem di wilayah hulu Kalimantan Selatan. Usaha eksploitasi perusahaan batubara itu ditakutkan akan merusak bentang alam Meratus dan merusak keseimbangannya.

            Puisi-puisi YSAS tentang Meratus ditulis di akun media sosialnya di Facebook. Puisi-puisi tersebut dengan konsisten diunggah dari waktu ke waktu dan ditulis dalam dua variasi bahasa, bahasa Indonesia atau bahasa Banjar. Tulisan ini akan menganalisis dua puisi perlawanan YSAS yang ditulis dalam bahasa Indonesia yakni puisi yang berjudul Pesan buat Anak Cucu (tampil 12 Desember), dan puisi Tanah Pijak (tampil 9 Desember). Kedua puisi ini ditampilkan YSAS di akun Facebooknya pada kurun bulan Desember 2019.

 

Puisi 1

PESAN BUAT ANAK CUCU

#SaveMeratus

Begitulah, Nak
Begitulah, Cu
Hidup kadang begitu
Terkadang tak lucu
Kadang kepentingan segelintir orang
Mengalahkan kepentingan banyak orang
Nafsu serakah manusia menutupi kebaikannya

Tapi kita bisa apa?
Kadang kita hanya duduk termangu
Tapi jangan dungu — diam membisu

Sekecil apa pun artinya
Kau harus bersuara
Kalau diam saja
Kau juga ikut berdosa
Membiarkan kerakusan merajalela
Merusak bumi Tuhan Yang Maha Esa

Kau harus berani melawan, Nak
Kau pemilik masa depan, Cu
Pegunungan Meratus sumber kehidupan
Tambang batu bara sumber kematian

Jika kau diamkan keserakahan di Bumi Antasari
Membiarkan tambang batu bara di tanah leluhur ini
Masa depanmu telah ditentukan
Anak cucu dalam bahaya
Bagai tumbuhan dan margasatwa
Tak berdaya melawan takdirnya

Begitulah, Nak
Begitulah, Cu
Ingat itu

Banjarmasin, 22.10.2018

 

            Dengan gaya bercakap, puisi ini dimulai dengan kata, ‘Begitulah, Nak/ Begitulah Cu’. Hal ini menunjukkan bahwa penyair memosisikan dirinya sebagai orang tua atau orang yang dituakan. Dalam posisi tersebut, terdapat otoritas untuk memberikan nasihat atau petuah kepada orang-orang yang lebih muda darinya. Penyair telah memberikan kuasa pada dirinya sendiri untuk menyuarakan perlawanan.

            Narasi perlawanan dapat dilihat dalam larik-larik berikutnya. Dalam puisi ini, yang dilawan adalah mereka yang segelintir tapi mengalahkan banyak orang (Kadang kepentingan segelintir orang/ Mengalahkan kepentingan banyak orang); yang serakah (Nafsu serakah manusia menutupi kebaikannya); yang rakus dan merusak bumi (Membiarkan kerakusan merajalela
/ Merusak bumi Tuhan Yang Maha Esa).
Dengan melekatkan predikat sedikit tapi berkuasa, serakah, rakus, dan merusak, penyair telah memosisikan lawannya sebagai sekelompok orang dengan karakter tidak terpuji. Dalam kaitannya dengan posisi pahlawan dan penjahat, lawan adalah sang penjahat. Sang penyair dan anak cucunya adalah mereka yang melawan. Lawan di dalam puisi ini dapat dilihat secara gamblang dalam konteks geografisnya sebagai pihak yang merusak bumi Antasari (Kalimantan Selatan) dengan melakukan penambangan batubara di pegunungan Meratus.

Upaya perlawanan YSAS dilakukan dengan pertama kali dengan meletakkan dirinya dan anak cucunya sebagai korban yang tak berdaya. Ada sejumlah larik yang menunjukkan ketidakberdayaan itu (Hidup kadang begitu/ Terkadang tak lucu; atau Tapi kita bisa apa?/ Kadang kita hanya bisa termangu). Dengan memosisikan diri sebagai pihak yang tidak berdaya, YSAS sesungguhnya lebih meneguhkan karakteristik jahat pihak lawan, bahwa mereka telah bertindak sewenang-wenang, dalam kuasanya mereka bersikap zalim terhadap pihak yang lebih lemah darinya. Berangkat dari posisi ketidakberdayaan itulah pula YSAS mengajak anak cucunya melawan keadaan tersebut. YSAS bahkan menyebut anak cucu yang hanya diam akan menanggung dosa karena mendiamkan keserakahan dan kerusakan.

Dari penafsiran terhadap puisi di atas, relasi kuasa antara penyair yang melawan dan penambang batubara di pihak yang dilawan dapat dilihat sebagai sesuatu yang tidak given atau sedemikian adanya. Jika given, seharusnya kuasa mutlak ada pada penambang batubara karena mereka memiliki akses untuk menambang dan merusak hutan Meratus tanpa bisa dihentikan. Namun dengan memasang atribut orang tua pada dirinya, YSAS juga mendapatkan kuasanya sebagai si pemberi petuah, yang kuasa mengobarkan semangat perlawanan sehingga menumbuhkan keyakinan bahwa para penambang itu bukannya tidak bisa dilawan, yang kuasa memberi lebel buruk pada lawan untuk semakin melemahkan posisi mereka di mata pembaca.

Dengan demikian telah terjadi tarik menarik kuasa antara penyair dengan lawan dalam puisinya. Kekuasaan yang dalam dunia nyata mungkin belum bisa dikalahkan, namun dalam puisi ini ia tetap dilawan. Dalam puisi ini, pengusaha tambang itu memiliki kuasa namun di sisi lain, si orang tua dan anak cucunya juga hadir dengan kuasa sebagai lawan yang jika tidak bisa dikatakan setara, maka mereka lawan yang tidak akan diam.

Tak digambarkan akhir dari pertarungan kuasa ini. Menunjukkan penyair masih membuka kemungkinan-kemungkinan karena meski prediksi kekalahan sudah gamblang dalam kenyataan, penyair agaknya menolak prediksi buruk itu. Dalam puisi ini, perjuangan itu sama sekali belum selesai.

 

Puisi 2

TANAH PIJAK

#SaveMeratus

apa yang paling menyedihkan?
tak punya tanah pijak
kakimu menginjak bumi
tempat leluhur menanam ari-ari
tapi cintamu tak ada lagi
hilang bersama mimpi

tahu Pegunungan Meratus?
kau seperti penyewa
pemiliknya perusahaan tambang batu bara
mantan jenderal dan pengusaha di Jakarta
penguasa dan pengusaha daerah juga
hutan dan pepohonan ditebang
hewan kehilangan sarang
huma kehilangan ladang
adat budaya Dayak Meratus hilang

setiap saat batu bara Pegunungan Meratus dikeruk
mereka kuras tanah leluhur
bahkan saat kau tidur
lubang tambang batu bara menganga
hutan dan pepohonan tak ada
lalu ketika musim hujan tiba
tanah tak lagi menampung air
air menjadi banjir

apa yang paling mengerikan?
tak punya cinta dan kepedulian
cinta pada kehidupan
cinta pada alam lingkungan
tempat leluhurmu memadu cinta
ari-ari mereka ditanam di sana

Banjarmasin, 04.02.2019

            Dalam puisi ini, rasa ketakberdayaan itu menguar lebih kuat dari puisi sebelumnya. Larik demi larik mengungkapkan ketidakberadayaan kau atas apa yang terjadi pada tanah leluhurnya, pohon dan hutan yang hilang, banjir, adat budaya yang tergerus. Kau dalam pandangan penyair tampaknya merepresentasikan masyarakat Kalimantan Selatan. Penyair memosisikan kau sebagai pihak yang tak memiliki kuasa atas tanah di mana ia berpijak dan bermukim, sementara lawannya adalah pemilik kuasa yang semena-mena. Kekuasaan berada di tangan lawan.

            Meski penyair memosisikan kau sedemikian tak berdaya, di sisi lain ia juga memosisikan lawannya dalam posisi sangat rentan dengan mengungkapkan identitas sang lawan. Siapa lawan disebutkan secara gamblang dalam puisi ini: pemiliknya perusahaan tambang batu bara/ mantan jenderal dan pengusaha di Jakarta/ penguasa dan pengusaha daerah juga. Dalam hal ini, penyair menunjukkan pengetahuannya tentang siapa lawan sebenarnya. Dalam relasi kekuasaan, pengetahuan adalah kunci pada akses kekuasaan. Mereka yang memiiki pengetahuanlah yang dapat menggunakan itu untuk mendapatkan kuasa. Pengetahuan penyair terhadap lawan merupakan senjatanya untuk menyampaikan kepada khalayak tentang sang lawan yang mengeruk pegunungan Meratus.

            Ini adalah puisi untuk memantik kesadaran pembaca mengenai kondisi pegunungan Meratus hari ini, dan menyampaikan tentang siapa sebenarnya si perusak. Pengetahuan yang ingin dibagi kepada khalayak dalam puisi inilah bentuk kuasa yang sebenarnya. Tak peduli seberapa kuat lawan di alam nyata, produksi pengetahuan tetap menjadi kekuatan. Dalam produksi pengetahuan itu terkandung kuasa. Kuasa untuk melawan, dan YSAS memiliki itu.

            Dari dua puisi YSAS di atas, kita bisa memahami bahwa relasi kekuasaan berlangsung tidak melulu secara hierarkis, bahwa mereka yang berada di level atas otomatis menguasai sesiapa yang berada di level bawahnya. Dalam pandangan ini, kekuasaan berlangsung dinamis, dan saling menggantikan. Dalam hubungan sederhana yang menunjukkan seolah-olah kuasa berjalan secara hierarkis dan sedemikian adanya (given), relasi kuasa itu bisa beralih dengan mudah bergantung pada produksi pengetahuan masing-masing pihak dan hal lain seperti bagaimana pihak-pihak tersebut membentuk opini dan menggunakannya.

            Wallahua’[email protected]

[1]

Facebook Comments