RUANG TEMU. Apa yang terbayang dalam benak kita mendengar kata itu? Adalah suatu ruang yang mungkin menunggu dua orang atau lebih untuk bertemu di situ. Ia bisa berupa ruang terbuka bebas, atau ruang tertutup dan terbatas. Namun, ruang itu adalah ruang bertemu antara yang satu dengan yang lainnya.
Pameran seni rupa dengan tema RUANG TEMU yang digelar Art Production dan Ikatan Pelukis Kalimantan Selatan (IPKS) bertempat di Café California– dibuka 5 November pukul 16.00 Wita, dan berlangsung hingga 13 November 2022, ini bisa mengandung multimakna. Ruang temu bisa mengacu pada karya-karya lukisan yang akan dipajang, bahwa lukisan-lukisan itu adalah sebuah ruang yang mempertemukan ide, gagasan, dan warna-warna, sehingga membentuk sebuah karya. Juga bisa bermakna sebagai pertemuan antara karya seni dengan café (dalam hal ini Café California).
Dan secara lebih luas, karya dan tempat di mana ia dipameran, telah menjadi ruang temu bagi sesiapapun yang akan datang bertandang di Café California. Para pelukis dengan apresiatornya, pengopi dengan penghobi, yang di sana kemudian dapat terjadi sebuah interaksi—yang diharapkan bisa saling mengisi dan berbagi tentang keindahan sebuah pertemuan. Sebuah dialog tanpa kata-kata, hanya mata dan karya yang saling berhadap-hadapan.
Bukankah tidak ada percakapan yang lebih panjang dari diam yang tercipta oleh perasaan terpesona?
Café sebagai sebuah “ruang galeri” atau pameran bagi karya seni rupa, sebenarnya adalah satu upaya mempertemukan, mendekatkan, dan mengakrabkan karya seni dengan masyarakat secara lebih luas dan terbuka. Sudah seharusnya karya-karya seni tidak melulu hanya berada dan dinikmati di ruang-ruang tertentu dan privat. Kendati memang, sejak dulu bentuk karya seni telah banyak dibuat dan dihadirkan di ruang publik, seperti patung-patung, bangunan-bangunan bernilai seni, tak terkecuali juga graffiti dan mural.
Kita tahu, café selama ini lebih identik dengan seni musik. Bila kemudian café juga membuka diri dalam bentuk kolaboratif bagi karya seni rupa, maka ia menjadi sebuah ruang temu yang memperluas apresiasi. Ketika lukisan-lukisan itu menempel tergantung di dinding cafe, maka ia sekaligus telah aplikatif. Bahwa para penikmat lukisan bisa membayangkan bagaimana seandainya lukisan itu menempel di ruang tamu rumah mereka, di dinding kantor mereka, atau bahkan di ruang meja makan mereka. Dengan demikian, bisa saja penikmat ini lantas tertarik memiliki lukisan tersebut karena ia merasa ruangan di rumahnya atau kantornya, atau cafenya sendiri, akan lebih indah dan menarik dengan lukisan yang telah ia pandang dan hikmati.
Ada 30 karya dari 6 seniman lukis (masing-masing 5 lukisan) IPKS asal Banjarmasin dan Banjarbaru yang dihadirkan di RUANG TEMU. Beragam tema lukisan dan aliran disuguhkan oleh masing-masing perupa.
Melati Yusuf menampilkan karya-karyanya berjudul: Woman, Bloom, Coffee and Tea, Sejauh Mata Memandang, dan Amigdala. Karya Melati Sukma bernuansa dekoratif dan naif. Warna-warna cerah terang, menawarkan keceriaan, keriangan, dan kesegaran.
Kris Imanu menyuguhkan karya-karya realis nan sederhana, dengan tema-tema yang juga sederhana. Lihat saja karyanya seperti: C70 di Kebun Bunga, Senyum Jujur, Gerimis Senja di Simpang 4 Pasar Lama, Persahabatan, dan Antara Kerja dan Mengisi Waktu.
Widya Ilawati menghadirkan karya-karya yang tampak imajinatif meski bergaya realis. Terlihat pada karya-karyanya yang berjudul: After Storm, Under The Sea, Foreign Place, Cakrawala, dan Air Ballon.
Muslim Anang Abdullah juga menawarkan karya-karya yang cukup akrab dengan keseharian kita, seperti lukisannya yang berjudul: Pasar Sunyi, Kucing, Berbagi, Petarung, dan Benderaku.
Siti Amnah dengan lukisan realis mencoba memotret ikon-ikon lokal seperti: Bekantan dan Menara Pandang, Indonesia Berduka, Burung Enggang, Tarian Topeng Cirebon, dan Kaligrafi Allahumma Shalli ’Ala Muhammad Wa’Ali Muhammad.
Sandi Firly dengan karya-karyanya yang banyak menampilkan wajah perempuan, semuanya diberi judul cukup puitis: Melamunkanmu dalam Sendiri ketika Hujan, Yang Tak Pudar dalam Keping Ingatan, dan Yang Bertahan di Tepian Waktu. Atau dua lukisannya yang lain berjudul: Melepas Senja, Merelakan yang Telah Tiada, dan Berlarilah, Mengarungi Merah.
Karya-karya 6 perupa ini menawarkan bentuk artistik dan estetikanya masing-masing. Tak terkecuali juga pesan yang tertangkap atau diselami oleh setiap mereka yang memandangnya. Semua itu terbuka, layaknya sebuah pertemuan setiap orang bisa memberi makna dan kesannya sendiri. Dan, di RUANG TEMU, barangkali ada cinta yang bisa dibicarakan.@
























