Jika saja, Ucok menerima panggilan interview dari sebuah Bank di Indonesia pada pergelutan hatinya pasca kuliah beberapa tahun lalu, mungkin sekarang sudah duduk santuy pada sebuah kubikel. Melayani para nasabah. Menerima gaji pasti di setiap bulan. Jenjang karier yang menjanjikan, dapat penghargaan saat kinerja memuaskan, dan bonus di akhir tahunan. But, tentu saja semua itu tidak terjadi.

Seandainya saja pada akhir 2015 itu Ucok menanggalkan semua keinginannya untuk masuk ke ranah bisnis kopi di Banjarbaru, mungkin Seketus Kopi juga tak akan pernah ada. “Ulun belum sukses!” jawaban pertama darinya saat saya utarakan keinginan untuk menulis cerita ini. Lah, padahal saya cuma ingin menceritakan bagaimana ia membangun ini semua di umur kami yang terbilang… ya masih muda lah, ya. Muda dan sederhana. Cie sederhana.

“Gue yakin setiap orang punya indikator sukses yang berbeda, Cuy. Dan gue emang gak niat cerita tentang kesuksesan, lu! Tapi proses, membrand sebuah kedai kopi sampai ke ranah makanan (burger) tentu tidak semudah Armando. Memilih untuk membangun sebuah brand kadang bukan pilihan, tapi survival dari kenyataan,

Atau bisa jadi, kita sedang membangun usaha yang justru gak pernah tahu endingnya gimana, kan? Dunia usaha itu abstrak, men! meski kita semua tahu slogan paling klise di dunia ini “Usaha tidak mengkhianati hasil;” tekan saya disambut hisapan terkahir dari tembakau yang dibakar. Ucok mendatangi meja barista, memanaskan air, menakar biji kopi, meng”glinder”, dan menuangkan air panas ke filter.

Segelas V60 dari Arabica Bean baru usai diseduhkan. Kami duduk berhadapan dan membongkar semua yang pernah ada dalam sebuah perjalanan. Yang pernah ada dalam otak masing-masing. Kami sepakat untuk menyesal. Menyesal kenapa gak memulai ini dari dulu saja. Dengan mindset yang saat ini frekuensinya senada. Ya, positifnya, dulu, di masa kami masih senang bermain Dota, memang belum waktunya, kan.

Awal Seketus Sebagai Sablonan dan Konveksi

Bersama seorang teman yang akrab disapa Aang, di sebuah kos-kosan di Gg Purnama, Ucok memulainya dengan sebuah screening sablon dan menamainya Seketus Sablon/Konveksi. Perihal teknik ‘gesut’ takaran cat, minyak, dan kimia-kimia lainnya Aang paling mengerti, sembari Ucok memasarkan dan menerima orderan para klien. Di lain waktu, mereka bergantian. Dan saat mengerjakan, mesti berdua, karena memang belum memakai meja sablon dengan standar orderan ribuan pcs baju.

Beruntungnya, pada 2015-2016 tersebut orderan sablonan ramai. Ratusan lembar dalam beberapa hari, dan rampung. Tentu saja berjalannya usaha tersebut menambah beberapa papan screen lagi, meningkatkan kualitas, dan terus menerima orderan. Sampai Ucok iseng bikin kaos sendiri yang sangat-sangat limit. Dan keren.

Waktu berjalan, mereka berdua mulai kelelahan. Kelulusan dan wisuda telah selesai dilaksanakan. Masing-masing dari mereka mulai memikirkan di mana mereka bekerja nantinya, demi masa depan yang (katanya) lebih baik.

Bermula Dari Keseringan Ngeyoutube

Buah dari seringnya streaming video online yang berisi tutorial para barista meracik kopi dan film-film yang berkaitan, Ucok menancapkan paku impiannya di dinding goals. Dengan perhitungan tahun, bulan, hari, dan pembagian ini itu bla-bla-bla, dan tentu saja terbasic dari semua usaha setelah menata pola pikir, this modal!

Modal seperti menjadi masalah utama anak muda yang baru memulai upayanya. Solusinya, dia harus bekerja. Singkatnya, pada pergeseran matahari lain setelah menebar lamaran pekerjaan, Ucok menjadi petugas Kementrian Perumahan Rakyat (PUPR) dengan tupoksi pendata perumahan bersubsidi. Mendatangi sejumlah perumahan di beberapa titik di Kalsel bahkan sampai ke Kalteng malahan. Hebatnya, yang harus saya akui, Ucok mampu tidak mengotak-atik gajinya. Hidup sehemat mungkin, bergaya sesederhana mungkin, dan berhasil terkumpul sekitar 15 juta pasca 8 bulan. Di tahun itu, angka segitu gak sedikit, cuk.

Awal Mula Fotokopi

Kalau masyarakat Banjarbaru dan sekitarnya ingat ada sebuah kedai namanya Fotokopi seberang Taman Idaman yang kini tutup, nah Fotokopi dulunya merupakan usaha bersama. Ya sekitar 3 orang, Ucok salah satunya. Pada akhir 2017 pasca resign dari pekerjaan pendataan rumah bersubsidi tersebut, Ucok menebar lamaran pekerjaan lagi. Maunya sih, bekerja di bank, karena memang secara angka lumayan. Tapi sembari menunggu, gak bisa juga Cuma berpangku tangan. Akhirnya setelah pembicaraan yang cukup alot dengna dua orang rekannya tadi, Fotokopi opening dengan sebuah rombong seng dan beberapa tempat lesehean di Jl Wijaya Kusuma seberang Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Banjarbaru.

Modal awal pun terpakai untuk membeli segala perlengkapan, dan mulai berjualan. Pada bagian ini, Ucok menata lagi, mengevaluasi bagaimana habit sebuah market kedai kopi. Yang biasanya ramai di awal bulan, ramai di akhir pekan, dan biasa-biasa aja di hari biasa. B Aja.

But, trial dan error tampak tidak bisa dihindari, hanya 4 bulan berjalan bersama, Ucok memutuskan untuk berpisah. Maksudnya, membuka sendiri saja dengan nama yang telah ia siapkan. Fotokopi berakhir di sini sebagai rombong kopi yang ia mulai kemudian mengisi ke sebuah ruko yang sebelumnya di isi susu. Kedai susu maksud saya.

Mengangkat Nama Seketus (Lagi)

Panggilan interview dari sebuah bank dengan tekad kuat ia tolak. Padahal, kan sayang, cuy. Saya yakin sekali banyak teman-teman kita yang mengidam-idamkannya. Tapi, keinginan untuk menjadi karyawan berakhir sudah. Dengan kesepakatan untuk berpisah dari usaha bersama, Ucok meninggalkan Fotokopi dengan tidak membawa apa-apa.

Beruntungnya, Ucok masih menyimpan uang sisa untuk pindah tempat dan membuka lagi kedai kopi dengan nama yang dulu jadi usaha sablonan kaos dengan hanya menambahkan kopi di belakangnya. Seketus Kopi.

Dari sini, berjuang sendiri. Ucok memangkas lagi biaya hidup untuk sekadar tumbuh dan berkembang. Toko yang disewa (bukan ruko) hanya seukuran kamar tidur kos-kosan kami di Gg Purnama. Sempit, tapi cukup untuk sekadar beberapa orang ngopi dan pergi. But, pada bagian ini lah, di suatu malam yang sunyi, ia hampir menyerah. Di sudut bar yang belum kokoh, Ucok menyandarkan kepala. Jika sehari hanya mampi membuat 3-4 gelas saja, mau dibawa kemana Seketus Kopi. Ya, mana kita tahu!

Ia mempertahankannya selama 6 bulan dan pindah lagi ke Jl Karang Sawo. Manajemen cashflow ditata lagi, secara penggunaan, memang tidak ada penggunaan secara pribadi. Tapi beberapa hasil diinvest ke alat. Biaya sewa, pembuatan meja kursi, dan segala perlengkapannya. Singkat cerita, semua uang simpanan menjadi aset untuk berjualan lagi.

“Kadang, kita terlalu cepat injak gas dan belum belajar cara ngerem yang pintar,” kami berdua saling tertawa. Di umur yang belum kepala tiga, ambisi untuk terlihat sukses dan membanggakan orang tua memang belum kesampaian. Tapi, kita sudah melakukan semaksimal kemampuan, kan?

Anggap saja, segala upaya yang kita lakukan selama ini cukup untuk diri pribadi, secara Ucok juga belum berumah tangga, belum ada tanggungan, dan beruntungnya, pacaranya pun LDR-an. Saya jadi tersenyum, itu artinya, maybe, ia akan sangat boros sekali saat akhir pekan. Semisal nonton movie, dan makan di restoran. Sisanya, kami (atau kita) berhemat lagi. Gik!

Seketus Kini Dan Nanti

Bukan berarti tak ada mentor, buah dari seringnya bertanya dan tak malu belajar kepada para tokoh senior-senior kopi yang ada di Banjarbaru ini juga lah, Ucok terus mempertahankan eksistensinya.

Setelah obrolan sebelum tengah malam itu berakhir, kami sama-sama berbagi pemikiran. Perihal siapa-siapa yang bergelut dalam bisnis kopi pun kami share bersama. Ada beberapa nama para pesohor atau boleh dibilang pelopor yang saya kantongi. (We Will Meet! Soon, sir!)  Masih ada pelanggan pasti yang loyal meski pun intensitas belanjanya masih naik turun dan tidak bisa diprediksi. But, saya harus mengakui keberanian Seketus Kopi yang sempat mencetuskan Seketus Burger sebagai pendampingnya. Jadi mirip-mirip Lawless, ya! Kita sama-sama favorit dengan Gofar Hilman ternyata, Sekut, Cuy!

 

Sementara tulisan ini ditayangkan, Seketus masih menempati sebuah ruko di Jl Karang Sawo. But, sebulan lagi, rumornya akan pindah. Perjuangan memang gak bisa gitu-gitu aja. Ada sesuatu yang mesti berubah, bisa ia ke arah yang lebih baik, bisa juga lebih parah. Tapi tanpa mencoba, kita gak akan pernah tahu endingnya. Dan saya janjikan kepada Ucok, tulisan ini bukan untuk terakhir kali. “Gue akan tulis lagi nanti, sampai di mana kita bisa mencapai sebuah keinginan dengan proses yang tersembunyi,”.

***  

Sebuah hirupan terkahir mengakhiri pertemuan kami. Saya berpamitan sebagai janji untuk kembali datang. Suatu saat nanti, kami akan berkolaborasi, bisa jadi tentang kopi, atau bidang sablon dan konveksi.

Saya menyetir menuju arah pulang. Dalam perjalanan saya berpikir, mungkin di moment lain sebelum pindahnya, saya harus take video sebagai sesuatu yang harus diabadikan. Sebagaimana tupoksi penulis kebanyakan, sebagai sejarah, dan cerita yang harus disampaikan.

See [email protected]

 

Facebook Comments