ADA banyak mimpi di kepalanya. Berkecambah. Juga gelisah. Seperti warna-warna terang menyala serupa lidah api pada lukisannya berjudul Spectrum of Life (200 cm x 300 cm, oil cat on canvas)—yang menggambarkan semesta dan tiga sosok (manusia purba?) yang berlari telanjang, serta sesosok bersayap (malaikat?) melayang.

…Ada dimensi ruang dan waktu pada alam raya yang tak terbatas ( transenden ). Oleh hal ini alam semesta ini berdetak di waktu dan ruang imajiner. Lalu siapakah aku? Kamu tahu siapa aku, akulah nirwana.

Begitu tulis Sulistyono Hilda (51 tahun), pelukis dan perupa Banjarbaru,  Kalimantan Selatan, melengkapi foto lukisannya di media sosial fesbuknya itu.

Dan, pada Oktober dan November 2018 ini, Sulis akan berlari memburu sejauh imajinasinya terhadap alam semesta juga seni rupa. Ia akan menghadiri sejumlah event internasional seni rupa di China, Belgia, hingga Italia.

Atau, seperti beberapa lukisannya yang lain, wajah anak-anak yang di atas kepalanya tumbuh kota-kota antah berantah, kota imajiner. Seperti pada lukisan berjudul Hopes and Vision (Oil on Canvas 100 cm x 120 cm). Dan juga di salah satu karya masterpiece-nya berjudul Future Life (Oil on Canvas 200 cm x 150 cm) yang terpilih menjadi Nominator Beijing International Art Biennale 4th 2010 (BIAB 4th)—tiga wajah bocah dengan bola dunia menjadi biji matanya, dan orangutan di dalam mulutnya, serta alat-alat berat pengeruk bumi, sementara di kepalanya gedung-gedung menjulang berwarna tembaga.

Tak sangsi lagi, Sulis menjadi salah satu pelukis kontemporer Indonesia (asal Banjarbaru) yang namanya akan melejit dan mencuri perhatian dunia. Betapa tidak, tahun ini ada empat prestasi yang telah diraihnya—melengkapi prestasi-pretasi internasional sebelumnya. Karyanya terpilih mengikuti Asian International Art Exhibition di Qingdao China, Flanders Bruges Brussel Biennale di Belgia , The Best Artis Modern and Contemporer Art  2018 by Fracesco Russo dan Salvatore Russo, serta Cavargia di Milan Italia.

Dapat dibayangkan, akhir 2018 ini akan menjadi perjalanan cukup panjang bagi Sulis untuk menghadiri semua kegiatan seni rupa di kancah dunia. Lawatan itu akan dimulainya ke Qingdao China pada 19 hingga 24 Oktober. Setelah kembali ke tanah air, ia akan kembali mempersiapkan diri menuju Eropa, yakni Belgia dan Italia pada 26 November hingga 7 Desember 2018.

Meski telah meraih sejumlah prestasi bergengsi itu, lelaki yang melukis tower air Banjarbaru ini merasa dirinya masih hanya berupa “kepompong”. Masih ada banyak mimpi dan kegelisahan yang terus diburu dan memburunya. Termasuk keinginannya melakukan suatu aksi performance art di New York.

“Itu adalah kota dunia, tempat banyak seniman dan artis terkenal tampil melakukan performance art menunjukkan karya mereka,” ucapnya dalam bincang-bincang santai sore di Mingguraya, Banjarbaru, Jumat (28/9).

Meski dia tidak tahu kapan mimpi itu bisa terwujud, namun setidaknya pada 2019 dia sudah memiliki jadwal ke Kuala Lumpur, Malaysia, mengikuti pameran seni rupa para pelukis yang tergabung dalam Persatuan Artis Asia.

Menjadi seorang seniman memerlukan kerja keras juga siasat hidup, begitu pandangan Sulis terhadap profesinya sebagai seorang pelukis dan perupa selama ini. “Jadi seniman jangan konyol,” tegasnya. “Berkarya tetap berkarya, tapi juga perlu berkarya untuk makan. Tidak bisa berkarya hanya berkarya saja namun tidak memikirkan urusan perut.” Ia seolah membuat rumusan dalam menjalani kesenimannya, bahwa ada karya yang tetap sebagai sebuah idealisme, namun juga ada karya sebagai “kerja” yang dengan segera bisa menghasilkan uang buat makan.

Ia juga merasa miris dengan masih rendahnya penghargaan terhadap karya seni. Ia bercerita, pernah ada seseorang yang meminta dia melukis, namun hanya diberi uang Rp400 ribu, yang bila dibelikan cat saja menurutnya tidak cukup. “Itu bisa menjadi serangan psikologis. Harga diri,” sebutnya. “Bagaimanapun, seniman juga perlu hidup.”

Namun ia menyadari, bahwa memang tidak mudah dan tidak semua orang bisa memahami nilai sebuah karya seni. “Pemahaman inilah yang harus terus dibangun, baik oleh seniman itu sendiri maupun masyarakatnya. Seniman harus tetap mengembangkan diri, dan terus bereksperimen dengan pemikiran-pemikiran baru,” tutup Sulis, yang hingga kini masih menyimpan satu mimpi lamanya yang masih belum tercapai dan terus dirawatnya, yakni berpameran tunggal atas namanya [email protected]

 

Facebook Comments