KEPUTUSAN penulis – barangkali juga editor – memilih cerpen “Kota yang Berumur Panjang” sebagai judul antologi ini sekaligus menempatkannya di bagian awal isi buku sangatlah tepat.  Dari 23 cerpen yang tersaji, saya kira cerpen inilah yang paling kuat dan menonjol.

Lewat cerpen “Kota yang Berumur Panjang” pembaca seolah diseret memasuki dunia yang tak lazim, sebuah kota misterius yang amat menakjubkan. Tokoh aku sendiri, diceritakan tiba di kota penuh berkah itu tanpa sengaja. Seorang pelancong yang tersesat dan ketinggalan kereta,  kemudian disambut dengan penuh keramahan oleh para penguhuninya dalam jamuan istimewa pesta perayaan atas kemakmuran hasil ladang.

Dengan ditemani gadis belia, Azale, ia menikmati kota tua tersebut sembari mencoba berusaha menguak rahasia: kenapa banyak hal di tempat itu bisa berumur panjang dibanding  tempat-tempat lain? Tetapi, hingga batas perpisahan rahasia itu tetaplah tinggal sebagai tanda tanya yang tak terpecahkan.

Pengalaman singkat bersama Azale menjadi kenangan yang tak terlupakan. Terutama, saat menjelang kereta keberangkatan, secara iseng tokoh aku mencandai gadis muda itu. “Maukah kau menikahiku ketika umur enam puluh tahun?”  Azale hanya mengangkat bahu, tanpa memberikan jawaban.

Waktu pun terus bergerak. Tak terasa 35 tahun sudah peristiwa itu berlalu. Dan, selama itu pula komunikasi keduanya terputus. Pasalnya, akses ke kota Azela tertutup untuk umum. Baru belakangan saja dibuka kembali, dengan biaya masuk yang sangat tinggi.

Sungguh tak disangka, tepat pada usia tokoh aku enam puluh tahun, di depan pintu rumahnya tergeletak kartu pos dari Azela yang mengingatkan janji di masa lalu. Pertemuan keduanya pun terulang kembali. Kali ini suasana tak jauh berbeda dari kunjungan pertamanya. Tak pelak, hal itu membuat dirinya  pangling. Ternyata, di kota yang berumur panjang waktu berjalan lebih lambat dari belahan dunia manapun. Ketika  tokoh aku telah beranjak tua, usia Azela masihlah ranum.

Membaca cerita ini kita seperti diajak memasuki dunia fantasi kanak-kanak yang tanpa sekat dan batas.

Dalam pengantarnya Tjak S. Parlan mengungkapkan, “Semua cerpen dalam buku ini berangkat dari tema yang nyaris serupa. Saya lebih suka menyebutnya—atau menganggapnya – sebagai upaya keras untuk menjaga ingatan-ingatan kecil tentang cinta: kepedihan, kehilangan, pilihan untuk menepi, keteguhan, juga satu dua kegembiraan yang sederhana.”

Meski bertolak dari hal-hal sederhana, alur cerita yang dibangun Tjak S. Parlan tidaklah sederhana.  Jauh dari kesan klise. Bahkan, tak jarang kita disodori dengan kejutan-kejutan tak terduga. Alhasil, kita dibuat penasaran untuk senantiasa terus menguntit jalinan cerita yang ditawarkan hingga titik terujung.

Pada “Drama Chocolate Parfait” misalnya,  di balik kesukaan para tokohnya terhadap es krim tersimpan pergulatan batin dan kisah cinta yang rumit.  Si wanita yang terpaksa harus menunda jadwal penerbangannya karena terjebak kabut asap, tanpa direncanakan bertemu dengan teman satu kampusnya di masa lalu. Saat menatap lelaki itu menikmati semangkok chocolate parfait, hatinya pun seketika berdesir perih.  Ingatannya kontan terpaut pada sang suami yang juga penyuka es krim — dan sebentar lagi akan bercerai darinya. Demikian pula teman lelakinya itu, di balik kegemarannya terhadap chocolate parfait tersembunyi kisah cinta yang getir. Dulu ia sering bersama kekasihnya  mampir di restoran itu untuk menikmati chocolate parfait. Sayang, kini mantan kekasihnya itu telah menikah dengan abangnya sendiri.

Namun, chocolate parfait tidak hanya menyisakan kegetiran, juga menumbuhkan secercah harapan bagi dua insan yang terluka untuk  berbagi dan saling menyembuhkan. Tetapi, harapan itu  agaknya dibiarkan mengambang begitu saja. Tjak S. Parlan seperti sengaja menyodorkan ending-ending terbuka  untuk menggoda kita agar terus diliputi rasa penasaran. Atau, bisa pula sebaliknya: ia memberi kita kebebasan penuh untuk berimajinasi melanjutkan jalan cerita sesuai dengan kemauan sendiri?

Kisah cinta yang rumit di balik sesuatu yang tampak sederhana, juga terdapat dalam cerpen “Seekor Katak Melompat Dalam Paya”. Di balik kebiasaan unik sang tokoh cerita yang suka mendengarkan suara katak, tersimpan cinta yang pelik. Bagaimana bisa seorang menantu dan mertua mencintai perempuan yang sama? Di sini pengorbanan dan pengkhianatan berkelidan di antara intrik politik.

Jadi, menikmati buku kumpulan cerpen ini kita seperti ikut merayakan keriuhan kisah cinta yang ruwet bersama Tjak S. [email protected]

Facebook Comments