DI ANTARA pegiat sastra, seni dan budaya di Kalsel yang seangkatan barangkali cuma saya yang punya reputasi paling buruk dan memalukan: hingga saat ini belum memiliki satu pun buku kumpulan puisi sendiri.

Jika dibandingkan dengan pegiat sastra yang berusia muda bahkan lebih memalukan lagi: mereka telah menerbitkan sejumlah antologi puisi pribadi.

Selain buku cerita rakyat daerah, sejarah lokal dan kumpulan tulisan tentang agama Islam (karya M. Ilham Masykuri Hamdie), saya telah menyunting puluhan buku kumpulan puisi karya penyair dan sastrawan Kalsel (juga, kumpulan cerpen), tapi (hingga kini) saya merasa puisi, cerpen, esai sastra budaya dan naskah drama (berbahasa Indonesia maupun berbahasa daerah Banjar) yang saya tulis belum memadai untuk dibukukan.

Karena aktivitas saya di bidang teater, seni pertunjukan dan editor buku, belakangan saya jarang menghadiri acara sastra, semisal Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS, yang dilaksanakan bergiliran di kabupaten/kota) dan Tadarus Puisi dan Silaturahmi Sastra (TPDSS) di Kota Banjarbaru.

Acara sastra paling akhir yang menyajikan dan membahas karya saya (secara tunggal) adalah Pembacaan dan Diskusi Puisi Y.S. Agus Suseno, di Bengkel Tari Gumilang Kaca, Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Budaya Kalsel, Banjarmasin, yang dilaksanakan Busur Sastra dan Teater Balambika (BSTB) dan Himpunan Pencinta Seni Indonesia (HIPSI), Minggu, 10 Desember 1989.

Saat itu, sejumlah puisi saya digandakan (dalam bentuk fotokopi) dan dibahas oleh Micky Hidayat dan (mendiang) Noor Aini Cahya Khairani (NACK), dengan pembanding (mendiang) Ajamuddin Tifani dan moderator (mendiang) Drs. Jarkasi (dosen Prodi PBSI FKIP ULM). Saya tidak membacakan puisi sendirian, tapi dibantu oleh (saat itu dikenal sebagai deklamator andal Kota Banjarmasin) Hajaji Zamra dan Rina Noor Maulida.

Menyajikan pertunjukan musikalisasi puisi dan baca puisi tunggal karya saya adalah mimpi lama. Hal ini belum pernah dilakukan para penyair di Provinsi Kalimantan Selatan. Beberapa tahun lalu saya menawarkan ide ini kepada komunitas seni kampus (yang sejak awal berdirinya saya bina), tapi — apa lacur — gayung tak bersambut.

Musikalisasi puisi adalah seni pertunjukan yang memadukan musik dengan puisi. Dengan teks puisi sebagai “ruh”-nya, puisi dinyanyikan/dilagukan/disenandungkan — tak mesti dibacakan (baca puisi diiringi musik), apalagi dengan intonasi deklamasi yang ketinggalan zaman — dengan aransemen yang selaras dengan tema, suasana dan makna puisi itu. Aransemennya tidak seperti aransemen lagu pop, alat musik yang digunakan perkusi.

Puisi yang sudah jadi sebetulnya tak butuh apa-apa lagi. Sebagai karya seni, ia berdiri sendiri. Jika ingin dikolaborasikan dengan musik (yang kemudian disebut “musikalisasi puisi”), komposisinya mesti seimbang, selaras dan harmonis. Musik tak boleh lebih dominan daripada puisi. Pada mulanya adalah puisi (dengan “P”).

Pada mulanya musikalisasi puisi dimaksudkan untuk mensosialisasikan dan memuliakan puisi. Kalau musik terlalu dominan, puisi akan sekadar jadi “lirik lagu” — seperti lirik lagu pop. Kalau puisi sekadar jadi “lirik lagu” (bukan yang utama), bukan musikalisasi puisi namanya.

Memang, banyak tafsir perihal apa dan bagaimana “musikalisasi puisi”. Tiap tafsir sah-sah saja, asal ada argumentasinya. Bagi saya pribadi, musikalisasi puisi adalah seperti yang dikerjakan Arie-Reda dalam membawakan puisi-puisi karya penyair ternama Indonesia.

Kalau Rhoma Irama (bersama OM Soneta) adalah pelopor musik dangdut di Indonesia, Arie-Reda (sejak 1984) adalah pelopor musikalisasi puisi di Indonesia. Di antara garapan mereka yang melegenda adalah puisi Aku Ingin (karya Sapardi Djoko Damono). Reputasi Arie-Reda dalam musikalisasi puisi sudah diakui banyak orang. Mereka telah diundang tampil (dalam berbagai event budaya) di mancanegara (termasuk di Jerman dan Belanda).

Sejak awal latihan dan proses penggarapan (April 2018) saya mewanti-wanti Finni (vokal), Isbay (gitar I), Zai (gitar II) dan Ole/Arif Riduan (backing vokal/perkusi) agar menjadikan garapan Arie-Reda sebagai acuan. Sekadar acuan — bukan epigon — agar puisi yang disajikan tetap enak dinikmati (tanpa “merusak” puisi).

Pada pertunjukan bertajuk Di Bawah Langit Beku: Musikalisasi Puisi dan Baca Puisi Y.S. Agus Suseno di Gedung Balairung Sari, UPTD Taman Budaya Kalsel, Banjarmasin (Jumat, 5 Oktober 2018, Pukul 20.30 WITA), kerja sama Datamur dan Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin, Finni dan kawan-kawan (yang biasanya main musik di cafe-cafe Kota Banjarmasin) akan menyajikan 9 judul puisi (berbahasa Indonesia) yang saya tulis antara tahun 1980-an, 1990-an dan 2018.

Melalui latihan spartan — langsung di bawah arahan saya — mereka menciptakan lagu puisi (berdasarkan puisi-puisi saya). Di Bawah Langit Beku (1991) adalah judul manuskrip antologi puisi saya (1984-1991) yang belum diterbitkan (termasuk salah satu judul puisi yang akan disajikan).

Saya sendiri — sekaligus bertindak sebagai pembawa acara — akan membacakan puisi-puisi berbahasa daerah Banjar. Tak kalah dengan puisi berbahasa Indonesia, puisi Banjar modern penting ditulis dan dikembangkan untuk menjaga, memelihara dan melestarikan bahasa ibu.

Selain undangan khusus, untuk menutupi biaya produksi akan dijual HTM @ Rp 25.000. Untuk reservasi, silakan kontak WA 085754014463 (Paula Murni F) dan 08195182075 (Dhany)[email protected]

Facebook Comments