Setahun silam saya masih menyimpan hampir 500 gigabyte film (bajakan) di harddisk eksternal, sebelum akhirnya saya berdebat dengan seorang teman tentang bagaimana pentingnya kesadaran untuk tidak menonton film bajakan. Disk itu berisi 3 kategori film: film yang disukai, film yang belum ditonton, dan film yang tidak disukai tapi entah kenapa masih disimpan.

Dalam kategori film yang disukai, teratas adalah film yang akan kita bicarakan kali ini, 12 Angry Men. Disusul judul-judul lain seperti 12 Years Slave, Erin Brockovich, Amazing Grace, Whiplash, La La Land, Shawshank Redemption, dan film-filmnya Nolan, serta sejumlah film lainnya yang mulai menghilang dari ingatan.

Oke, saya akan coba mengulas film ini sementara menunggu film-film yang masuk daftar tunggu terdekat, Bombshell (yang agaknya batal masuk XXI Banjarmasin), dan 1917. Oh ya, seseorang juga merekomendasikan Parasite, film Korea Selatan yang mendapat 6 nominasi Oscar 2020.

                Apa menariknya 12 Angry Men? Well. Yang jelas dia masuk 100 film paling berpengaruh di Amerika Serikat versi American Film Institute. Di Rotten Tomatoes film ini mendapat rating 100% dan segar tentunya. 12 Angry Men juga mendapatkan nominasi Oscar untuk Best Director, dan Best Picture.

12 Angry Men adalah film produksi tahun 1957. Ia merupakan adaptasi dari serial televisi untuk judul yang sama. Dibintangi sekaligus diproduseri oleh Henry Fonda, aktor yang agaknya semacam Chris Evans-nya zaman itu. 12 Angry Men ini film dalam format hitam putih lho ya, sesuatu yang agak anti-mainstream di tahun-tahun itu karena sebagian sudah mulai beradaptasi dengan film berwarna. Dan bagi saya, nilai film ini 10 dari 10.

12 Angry Men menceritakan tentang duabelas orang juri dalam sebuah sidang pembunuhan di pengadilan New York. Oh ya, sebagai catatan, dalam hukum Amerika Serikat yang mengadopsi dari United Kingdom, pembuat keputusan bersalah tidaknya seseorang tersangka adalah para juri yang lazimnya terdiri dari duabelas orang. Identitas mereka dirahasiakan dan dipilih secara acak. Coba baca novel Runaway Jury-nya John Grisham atau tonton film dengan judul yang sama untuk dapat gambaran yang lebih utuh tentang para juri.

Kedua belas juri tersebut diminta untuk bersidang secara tertutup untuk membuat vonis bersalah atau tidak bersalah terhadap seorang anak berusia delapanbelas tahun dari lingkungan kumuh yang dituduh membunuh ayahnya. Maka, mereka pun bersidang dengan pemungutan suara awal sebelas orang menyatakan bersalah dan satu orang tidak, yaitu juri nomor 8. Para juri tidak disebutkan nama, mereka hanya angka, 1 sampai 12.

                Juri nomor 8 inilah yang kemudian secara persuasif meminta para juri bersikap logis, adil dalam melihat fakta-fakta persidangan. Mengajak mereka keluar dari asumsi tentang stereotip anak dari lingkungan kumuh dan meminta mereka tidak membuat keputusan –apalagi yang berkaitan dengan nyawa seseorang- berdasarkan asumsi semata apalagi mengandalkan pengetahuan mengenai stereotip yang belum tentu benar.

 Juri nomor 8 menggunakan apa yang disebut sebagai reasonable doubt alias pengungkapan hal-hal yang secara rasional memunculkan keraguan akan fakta persidangan yang ada.  Akhirnya satu persatu juri mulai mengubah putusannya dari ‘guilty’ menjadi ‘not guilty’. Selama lebih dari 1,5 jam kita menonton film ini, yang kita tonton sebenarnya adalah adu argumentasi para juri, dan bagaimana juri nomor 8 berusaha mengubah keputusan sebelas orang yang menyatakan bersalah secara bertahap menjadi duabelas suara menyatakan tidak bersalah dengan mengajak mereka berpikir rasional, menjauhi asumsi, adil, dan berpikir obyektif.

                Film ini hampir semua scene-nya diambil dalam ruang juri, dengan lensa kamera jarak dekat yang berfokus pada ekspresi tiap tokoh: kebosanan, rasa tertekan, bahkan keringat yang menuruni wajah-wajah mereka. Pengambilan jarak dekat dalam ruangan tertutup ini cenderung menimbulkan perasaan terkurung bahkan bagi penonton.

Apalagi pas adegan hujan, lalu jendela terpaksa ditutup sementara kipas angin tidak bisa dihidupkan. Itu scene bagi saya yang menonton saja terasa intimidatif karena saya tidak tahan berada di ruangan sempit, kecil dan pengap. Yah, kebanyakan orang begitu tanpa harus menjadi klaustrofobia. Bagaimana situasi ini membuat sebelas juri gelisah ingin keluar (sehingga ada juri yang memutuskan bersalah sekadar agar sama dengan mayoritas suara dengan tujuan utama ia bisa segera keluar dari tempat itu untuk menonton pertandingan football) namun di sisi lain, kondisi ini tetap mampu membuat juri nomor 8 favorit kita bisa bersikap tenang dan telaten mengajak kesebelas juri menjadi open-minded.

                Proses berubahnya keputusan yang menjadi alur cerita bagi sebagian penonton mungkin membosankan. Mahasiswa saya di mata kuliah Drama yang pernah ditugaskan menonton film ini beberapa tahun lalu sebagian besarnya mengaku bosan, meski mulai menikmati ketika film berada di seperempat bagian akhirnya. Tapi mereka yang terbiasa menonton film dengan ketegangan yang menanjak perlahan akan menikmati film semacam ini. Cara juri nomor 8 menyampaikan keraguan demi keraguan atas fakta-fakta persidangan dan berubahnya keputusan vonis orang perorang menjadi milestone film ini. Setiap kali vonis berubah dan penonton mendapat pencerahan atas fakta persidangan, ada katarsis, ada kegembiraan, ada kelegaan di sana. Seperti kita juga ikut menyelamatkan satu nyawa tak bersalah.

                60 tahun berlalu semenjak film ini dirilis, namun asumsi dan stereotip masih menjadi cara dunia berpikir tentang banyak hal. Bagaimana kita dengan mudahnya menjadikan seseorang pahlawan atau penjahat hanya dengan satu dua simpulan dari sebagian fakta yang kita dapatkan tentang yang bersangkutan. Kita juga dengan mudahnya memberikan stereotip tentang seseorang hanya dari penampakan luarnya. Film ini adalah film moralis, tentang bagaimana latar belakang seseorang sangat memengaruhi cara berpikir dan cara bertindaknya. Bahwa untuk bersikap adil dan obyektif kita harus meninggalkan semua prasangka dan asumsi.     

Dan agaknya, pemikiran tentang kebermaknaan film ini akhirnya mengantarkan saya pada kesadaran bahwa saya seringkali juga berpikir dan bersikap sama dengan kesebelas juri itu. Hanya karena tak mendapatkan fakta yang utuh, seringkali membiarkan asumsi mengambil alih. Dan untuk sesiapa yang jadi korban cara berpikir saya yang seperti ini belakangan, maafkanlah. Dan agaknya jeda memang diperlukan.

Wallahua’[email protected]

Facebook Comments