BASAibu Wiki Kalimantan kembali menggelar kegiatan Bakunjang dan Mini Wikithon merespon masalah kemerdekaan lingkungan dengan pematik “Alam Kalimantan Terancam Kemerdekaannya, Bagaimana Cara Memulihkan Lingkungan yang Terlanjur Rusak Untuk Kembali Seimbang?” di SMKN 1 Binuang, Kabupaten Tapin dan SMKN 1 Simpang Empat, Kabupaten Banjar pada 19 Agustus 2026.
Rangkaian acara diawali dengan pengisian post-test dan registrasi daftar hadir peserta sebelum pukul 09.30 WITA. Acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian tentang kegiatan Bakunjang Adhansatya Praja selaku Koordinator Pemuda dari BASAibu Wiki-Kalimantan dan dihadiri lebih 365 peserta dari dua sekola yang berlokus berbeda tersebut.
Digitalisasi Bahasa Ibu dan Peta Jalan “Aruh Pemuda 2026”
Dalam pemaparannya, Praja menjelaskan peran BASAibu sebagai wadah penyalur suara pemuda dalam menampung gagasan lintas daerah, meliputi Bali, Sulawesi Selatan, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan bahasa Sasak, hingga Jawa. Selain mendorong generasi muda untuk menyampaikan pendapat dan bersikap kritis serta persuasif terhadap isu-isu sosial.
“Platform ini konsisten mendigitalisasi bahasa daerah yang dapat diakses melalui portal website bahasa Banjar beserta fasilitas kamusnya,” papar Praja.
Ditambahkannya bahwa seluruh rangkaian ini merupakan bagian dari metodologi yang dirancang selama satu tahun menuju Konferensi Pemuda: Aruh Pemuda Kalimantan pada 28 Oktober 2026. Forum ini mengusung isu-isu strategis, khususnya sektor lingkungan dan kesehatan mental (mental health).
(Suasana penutup kegiatan BASAibu Wiki Bakunjang di SMKN 1 Simpang Empat, Banjar)
“Melalui skema perlombaan dan dialog interaktif, hasil pemikiran dari para pelajar, mahasiswa, masyarakat, hingga unsur pejabat pemerintah, legislatif, dan yudikatif akan dirumuskan menjadi dokumen surat rujukan bagi acuan arah kebijakan pemerintah,” ungkap Praja lebih dalam.
Isu Lingkungan dan Pelanggaran HAM
Sesi selanjutnya adalah pemantik keterkaitan isu lingkungan hidup, persoalan sampah, dan Hak Asasi Manusia (HAM) sebelum peserta mulai mengisi Mini Wikithon yang disampaikan oleh Manajer Divisi Advokasi, Kampanye, Pendidikan dan Pengkaderan, M. Jefry Raharja yang akrab disapa Cecep yang menekankan keyakinan bahwa tindakan generasi muda saat ini akan menentukan nasib generasi mendatang.
“Saat ini WALHI terus menyoroti keberagaman hayati serta pentingnya pemimpin yang memiliki perspektif dan dorongan kuat terhadap kelestarian lingkungan. Di tengah realitas Kalimantan Selatan yang dikelilingi industri ekstraktif, pengelolaan lingkungan harus melihat aspek keseimbangan dan prinsip keadilan di setiap tahapannya,” ungkap Cecep.
Menurutnya, WALHI menilai saat ini para pekerja maupun masyarakat belum sepenuhnya memahami cara memposisikan lingkungan dan baru menyadari setelah dampaknya dirasakan.
“Secara khusus, WALHI saat ini juga menyoroti keberadaan perusahaan asing di Rantau Bakula yang dinilai memiliki tata kelola kurang baik, di mana aktivitas industri berjalan tanpa memperhatikan aspek lokal secara utuh,” jelas Cecep tegas.
Mengingat luas wilayah Kalsel yang mencapai 7,7 juta hektar, generasi muda diingatkan bahwa merekalah yang akan hidup dan menua di tanah ini, menanggung buah dari tindakan hari ini. WALHI membeberkan fakta bahwa hampir setengah dari wilayah Kalsel telah diberi izin untuk industri ekstraktif dan pertambangan non-terbarukan. Kondisi tersebut sering kali diperparah oleh penerbitan izin yang mendahului kajian matang serta eksekusi di lapangan yang dilakukan secara serampangan karena tidak berorientasi pada kepentingan rakyat melainkan segelintir kelompok.
“Menghadapi perubahan lingkungan dan iklim yang makin tak menentu, WALHI terus menyuarakan kritik kepada pemangku kebijakan yang belum berpihak pada kelestarian. WALHI menolak keras jika generasi mendatang hanya menjadi penerima dampak kerusakan,” pungkasnya.@





















