WABUL Sawi Festival 2026 ditutup dengan Malam Imaji di Panggung Bundaran Mingguraya, Banjarbaru, Jumat (25/9/2026) malam. Beragam pertunjukan ditampilkan; dari teater, tari, puisi, madihin, hingga poetry slam.

Sebelumnya, dari tanggal 23-25 September, Wabul Sawi Festival (WSFest) menggelar sejumlah kegiatan yang tersebar di sejumlah tempat. Ada Oru (Obrolan Seru) di SMPN 2 Banjarbaru dengan narasumber Kusni Sulang, Oru Film Ruang Sesak di SMKN Telkom Banjarbaru bersama Endry Sulistyo, Oru Penulis Berdampak secara luring dengan penyair Saut Situmorang di Basecamp WSFest, Road Show dan Presentasi Karya di SMAN 1 bersama Arif Kurniawan, Musa Bastara, M Royyan, Road Show di Ponpes Al Falah Putri dengan Aisyah HNN dan Nur Hikmah, serta Oru Tata Kelola Festival dengan menghadirkan Zulkifli Songyanan dan Sandi Firly. Juga ada Oru Manyoto Tangah Hari.

Memasuki tahun ketiga, WSFest 2026 yang mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia mengusung tema “Rakat”, yang dalam bahasa Banjar berarti dekat, lekat, menempel, atau menyatu.

Direktur WSFest, Hudan Nur mengatakan, tema itu dipilih karena dekat dengan kondisi sosial dan lingkungan yang sedang dihadapi masyarakat. Salah satunya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan Selatan.

“Kata Rakat terasa menjadi kontekstual di dalam kondisi negeri yang kini banyak dilanda bencana, seperti kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, erupsi Anak Gunung Krakatau, termasuk juga kelangkaan BBM serta lainnya, yang kemudian menghadapi kondisi itu melahirkan beragam kepedulian banyak pihak,” jelas Hudan di sela kegiatan Malam Imaji, Jumat (25/9/2026) malam.

Malam Imaji juga menjadi momentum peluncuran Kumpulan Cerpen Rakat dan Antologi Puisi Lapah. Kumpulan Cerpen Rakat merupakan karya penulis-penulis hasil dari MTN Lab hasil residensi sejumlah penulis yang diselenggarakan WSFest pada Mei 2026 di Rantau Bakula, Kabupaten Banjar. Buku ini berisi cerpen karya penulis muda; Arif Kurniawan (Bengkulu), Endry Sulistyo (Kaltim), Musa Bastara (Banjar), Windy Joana (Sulsel), Serli Ariska (Kalteng), Adjie Valerie Christiasih (Kutai Kertanegara), Rizky Riawan Nursatria (Pati), Tiara Karina (Banjarmasin), Ginanjar Teguh Iman (Magelang), dan Rafii Syihab (Banjar).

Sedangkan buku Antologi Puisi Lapah, merupakan kumpulan puisi peserta MTN Lab & Residensi yang diselenggarakan WSFest bersama Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan pada Agustus 2026 lalu. Buku ini berisi karya-karya penulis puisi yang rata-rata masih duduk di bangku SMA.

Malam Imaji WSFest 2026 di Minggu Raya, Banjarbaru. (Foto: wsfest)

“Kita sangat ingin menghadirkan seluruh narasumber ke Banjarbaru. Namun mengingat kondisi saat ini Banjarbaru masih kurang kondusif akibat kabut asap dan hal lainnya, sehingga sebagian narasum tidak bisa didatangkan, dan sebagian acaranya digelar secara daring,” papar Hudan.

Anggota Tim Penguatan Festival Sastra Kementerian Kebudayaan, Zulkifli Songyanan, yang turut hadir dari awal kegiatan mengatakan, dukungan kementian dalam pelaksanaan festival dimaksudkan untuk menjaga keberlanjutan festival sastra di daerah.

“Kementerian berharap festival-festival sastra yang sudah ada dapat semakin berkelanjutan dengan adanya Kementerian Kebudayaan,” ucapnya.

Zulkifli menyebut Wabul Sawi menjadi salah satu festival yang mendapat dukungan penguatan di Kalimantan. “Kalau melihat wilayahnya, untuk Kalimantan sejauh ini baru Wabul Sawi. Kemudian di Sumatera ada Balige Writers Festival dan Payakumbuh Poetry Festival,” tambah Zulkifli.

Salah satu pertunjukan di Malam Imaji WSFest. (Foto: wsfest)

Sementara itu, Rivalda dari MTN Seni Budaya Bidang Sastra Kementerian Kebudayaan mengaku senang dapat kembali menjadi bagian dari WSFest 2026. “Tahun ini saya bisa melihat langsung antusiasme peserta, dari anak sekolah hingga warga sekitar. Sangat senang bagaimana Wabul Sawi jadi ruang bertumbuh untuk teman-teman sekitar,” katanya.

Menurut Rivalda, Wabul Sawi memiliki kekuatan dari komunitas yang membangunnya. Para promotor dinilai solid dan memiliki rasa memiliki terhadap festival. “Karena itu, kegiatan yang terselenggara dan tersampaikan terasa tulus,” ucapnya.

Malam Imaji kemudian menjadi ruang presentasi karya serta bentuk perayaan dari kegiatan sastra dengan melibatkan para seniman, komunitas, dan publik dalam rangkaian WSFest 2026 di Mingguraya, Banjarbaru, yang merupakan ruang publik.

“Malam Imaji sebagai puncak kegiatan WSFest di Mingguraya ini sangat menarik, karena membaur dengan publik sehingga semakin mendekatkan sastra kepada masyarakat. Ini hal berbeda yang saya temui dari festival-festival lainnya di Indonesia,” kata Zulkifli, yang telah banyak mengunjungi berbagai festival sastra di nusantara.@