Prof. Dr. Wahyu MS dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Sosiologi pada 17 April 2007. Pidato ilmiahnya saat itu berjudul Makna Kearifan Lokal dalam Pengelolaan SDA dan Lingkungan di Kalimantan Selatan. Ketertarikannya pada sosiologi berawal dari inspirasi seorang gurunya di masa silam.

Pendidikan tingginya ia mulai pada 1975 di Jurusan Civics dan Hukum IKIP Bandung. Karena saat masih di bangku SPGN, dia sangat senang dan tertarik membahas masalah pemerintahan dan ketatanegaraan. Pendidikan Sarjana Muda (BA)-nya selesai dalam tiga tahun dengan nilai baik dan memenuhi syarat untuk melanjutkan ke Program Sarjana (Drs.) pada 1977. Program sarjananya diselesaikan dalam kurun waktu lima tahun, lulus pada 1979.

Pada waktu itu, untuk lulus sarjana muda (BA) sangat susah. Meski masa programnya tiga tahun,  banyak yang lulusnya setelah 4 tahun, 5 tahun dan bahkan ada yang 7 tahun. Begitu pula dengan Program Sarjana (Drs) yang masa studinya dua tahun.

Ketertarikan mendalami Sosiologi kian tumbuh saat ia mengikuti program minor  sebanyak 30 SKS di luar jurusan. Saat itu, ia mengikuti program minor di Jurusan Geografi. Di jurusan ini ada mata kuliah Sosiologi 1 dan Sosiologi 2. Dosennya, Sudardja Adiwikarta, Master Sosiologi lulusan Amerika. Di samping kebapakan, Sudardja juga sangat bagus dalam mengajar. Fokus kajian sosiologinya  tentang masyarakat meliputi struktur sosial, lembaga sosial, pranata, interaksi, perubahan sosial. Singkatnya, materi sosiologi yang diajarkan terkait dengan keadaan masyarakat dan segala perubahan.

Itulah awal ketertarikannya pada Sosiologi.

Ketika diangkat mengajar di Jurusan Civics Hukum FKG ULM, Prof. Wahyu mendapat kepercayaan mengajar sosiologi. Begitu juga, ketika diberi kepercayaan mengajar di beberapa PTS..

Saat melanjutkan S2, di Pascasarjana UNPAD Bandung pada 1984 ia memilih Program Sosiologi. Lulus S2 tahun 1986. Studi di S2 diselesaikan dalam kurun waktu 22 bulan. Karena nilai S2 lumayan bagus, Direktur Pasca menyarankannya untuk melanjutkan  ke S3 pada 1987.

Saat meminta izin kepada Rektor ULM saat itu, Kustan Basri, ia diminta untuk mengabdi dulu, mempraktikkan ilmu yang diperoleh di S2 karena Lembaga memerlukan tenaga pengajar lulusan S2. Pada waktu itu, lulusan S2 dari dalam dan luar negeri masih sedikit. Setelah lulus S2 pada 1986 ia aktif mengajar di FKG yang kemudian menjadi FKIP sampai 1996.

Studi S3-nya ditempuh pada 1997 sampai 2001 juga bidang sosiologi. Selesai S3, ia aktif kembali mengajar, meneliti, menulis buku pada bidang sosiologi. Selain itu ia juga membimbing penelitian berperspektif sosiologi, baik di S1, S2 maupun S3.

Pada 3 Juni 2015, Prof. Wahyu dilantik menjadi Dekan FKIP ULM periode 2015-2019. Secara bertahap ia membenahi tata kelola organisasi FKIP. Sejak saat itu, FKIP mulai mengenal Pagu Fakultas dan Pagu Prodi. Capaian kinerjanya tercatat rapi dalam dalam buku yang ditulisnya sendiri: Empat Tahun Pengalaman Memimpin FKIP ULM Banjarmasin (2015-2019).

Dalam riwayat kepemimpinannya, ada beberapa momen yang paling ia kenang sebagai tonggak pencapaian kinerja yang sangat penting. Ketika menjadi dekan ia berhasil menaikkan akreditasi Prodi,  dari 21 Prodi di FKIP, sebanyak 10 Prodi berakreditasi A, dan selebihnya 11 Prodi berakreditasi B. Artinya, akreditasi Prodi di FKIP hampir 50 % nilai A. Bahkan se-ULM akreditasi Prodi A terbanyak ada di FKIP pada masa kepemimpinannya.

Kepada para staf pengajar muda ia ingin menitip pesan bahwa saat ini mereka ada di era teknologi informasi. Peluang semua sarana apa saja jauh lebih terbuka dibandingkan generasi sebelumnya. Dulu, ada teknologi, tapi serba terbatas. Kebanyakan pekerjaan serba manual. Mau studi, kegiatan ilmiah (penelitian, seminar, dll) sangat terbuka. Jadi, dosen muda atau generasi penerus harus tampil beda dari dosen generasi terdahulu.

“Belajar dan belajar. Kuasai sarana ilmu dan teknologi. Ilmu dan teknologi adalah sarana untuk mengembangkan kemampuan berpikir, menganalisis, komunikasi dan berkolaborasi.,” ujarnya.

Tantangan ke depan, katanya, semakin berat dan hanya bisa dijawab dengan meningkatkan kompetensi ilmu dan teknologi. “Kita kerap kali ada di barisan belakang dalam banyak hal, entah itu akreditasi, jurnal, peringkat PT, kegiatan ilmiah, dan lain-lain. Salah satu faktor penyebabnya adalah kompetensi ilmu dan teknologi kita kerap kali ada di belakang orang lain,” ucapnya.

Prof. Wahyu berharap para dosen muda bisa meraih keunggulan dengan belajar dan belajar, membangun integritas, percaya diri, latihan-latihan, membangun tim kerja yang solid, meningkatkan keterampilan, toleransi dan saling menghargai, membangun dan membuat jalinan komunikasi positif dan produktif dengan semua pihak.

“Institusi kita harus semakin ditingkatkan, agar bisa menjawab kebutuhan di lapangan. Antara lain dengan meningkatkan pendidikan, produk budaya yang diminta oleh dunia kerja, menyiapkan lulusan terlatih dan diterima dunia kerja, penelitian-penelitian  untuk meningkatkan pembelajaran, pengembangan ilmu dan memecahkan masalah di lapangan, melakukan difusi teknologi dan penciptaan/penemuan  ilmu pengetahuan baru,” bebernya .

Semua itu, menurutnya, bisa diraih dengan curahan waktu, cara berpikir positif, cara bersikap positif dan cara bertindak positif, seperti kerja keras, rajin, tekun, ulet, nalar kritis, inovasi, kreativitas dan kolaborasi. “Ini menjadi modal untuk mencapai suatu perubahan yang lebih baik. Jadi, dosen muda atau generasi penerus bekerjanya hari ini harus lebih baik dari dosen terdahulu, jika ingin dikatakan beruntung,” pesan Prof. Dr, Wahyu MS. (Tim/ Artikel ini pernah dipublikasikan pada majalah Berita ULM No. 35, Edisi September-Oktober 2020)

 

 

Facebook Comments