BPDASHL Barito "AYO MENANAM"


Ketika Franz Kafka terbangun suatu pagi dari mimpi buruknya tentang Gregor Samsa yang berubah menjadi seekor serangga raksasa, ia begitu berhasrat untuk menulis dan menyelesaikannya menjadi cerita yang panjang.

“Ini akan jadi cerita hebat!” ujarnya.

Tetapi karena pagi itu ia masih didera kantuk yang luar biasa, maka ia putuskan untuk menunda menulis novel yang kelak ia beri judul Die Verwandlung tersebut dan menulis satu cerita absurd lain yang lebih ringan dan ia beri judul: 2020.

Cerita itu mulanya hendak ia tulis agak panjang, tapi karena 2020 hanyalah sebuah pemanasan sebelum menulis cerita absurd yang ia yakini akan jadi cerita hebat, maka ia memilih untuk menulisnya singkat saja—dan tentu saja absurd—seperti prosa-prosa singkatnya yang banyak didapat di internet pada masa sekarang.

“Suatu pagi di tahun 2020, Gregor Samsa terbangun dan mendapati kota dipenuhi dengan manusia kelelawar yang menggunakan topeng di sebagian wajah mereka.”

Begitu Kafka membuka cerita pendek tersebut. Di atas kertas, Gregor Samsa (nama ini lebih dulu ia pakai di cerpen 2020 ketimbang di Die Verwandlung) sebelumnya dinamai sebagai Hermann Samsa, namun ia merasa nama itu jelek sekali dan mengingatkannya dengan sang ayah, maka Herman kemudian dicoret dan diganti dengan Gregor.

“Saat ia masih bingung, seorang pemuda yang mengenal Gregor Samsa berseru: “Oh, kau jadi kelelawar juga rupanya!”

Gregor Samsa memandangi dirinya dan ia dapati dirinya telah sama dengan si pemuda dan semua orang.

 “Celaka! Sepertinya kita harus mengurung diri di rumah sambil bergelantungan,” jawab Gregor Samsa pada pemuda itu.

Cerita itu selesai sampai di sana. Setelah membacanya, Kafka langsung menyadari yang baru saja ia tulis adalah cerita jelek yang lebih jelek dari banyak cerita jelek yang pernah ia baca dan tulis. Maka atas kesadaran itu, cerita pendek tersebut lantas dibuangnya ke jendela. “Tak ada yang layak diingat dari cerita itu kecuali namanya,” kata Kafkakesal, dan begitulah kemudian nama Gregor Samsa ia pakai untuk menamani tokoh utama dalam novel Die Verwandlung atau yang kita kenal sebagai The Metamorphosis—di novel itu, ia juga meniru sedikit kalimat pembuka di cerpen 2020.

Yang kemudian tidak diketahui oleh Kafka adalah: kertas yang ia buang itu melayang dan mengenai wajah perempuan yang tengah menangis sebab suatu alasan yang tak diketahui. Malang, saat itu perempuan tersebut tak punya tisu untuk menyapu air mata, maka dengan refleks ia pakai kertas itu untuk menyapu kedua pipinya. Sampai di rumah, barulah perempuan itu menyadari bahwa kertas yang ia gunakan untuk tisu tersebut merupakan sebuah karya dari seorang penulis. Namun sayang, saat berusaha untuk membacanya, ia mengalami kesulitan sebab kertas itu telah basah.

“Sialan! Aku sudah membuatnya basah,” ujar si perempuan.

Khawatir cerita itu akan dicari oleh penulisnya suatu hari nanti, kertas itu lalu ia masukkan ke dalam laci dan sampai mati ia tak pernah mencoba membacanya lagi.Tetapi dengan alasan bahwa cerita itu adalah milik orang dan ia telah merusaknya dengan tangi scengeng saat remaja dulu—ia merasa bersalah sekali akan hal itu—maka cerita pendek itu tetap disimpan hingga menjadi warisan keluarga yang kelak sampai di tangan James Edith, cucu dari perempuan-yang-menangis tersebut.

Suatu hariketika James Edith muda membuka laci ibunya, ia menemukan kertas itu berada dalam satu kotak kecil. Ia membuka dan berusaha membacanya. Tidak seperti neneknya yang kesusahan saat membaca, dengan kecermatan dan kecerdasan alamiah, James Edith berhasil membaca cerita pendek tersebut dan menemukan nama Kafka di bagian paling bawah kertas. Saat itu ia tentu saja tidak mengenal Kafka, tetapi ia begitu jatuh hati pada cerita absurd itu dan menceritakan ulang kisahnya ke teman-teman bermainnya, salah satunya pada Bill Finger, yang pada tahun 1939 (usianya 24 tahun waktu itu) bersama dengan seniman komik bernama Bob Kane menciptakan tokoh superhero ikonik bernama Batman.

Kepada orang-orang Bob Kane mengakui menciptakan tokoh superhero itu seorang diri, hingga tahun 1989 atau lima belas tahun setelah kematian Bill Finger barulah ia menulis dalam otobiografinya bahwa Batman diciptakan oleh mereka berdua—tetapi seperti yang dikatakan penulis buku Bill the Boy Wonder: The Secret Co-Creator of Batman, Marc Tyler Nobleman, “Sejujurnya dia (Bob Kane) hanya menciptakan nama Batman.”

Dan memang, Bill Finger mulanya hendak memberi nama superhero itu sebagai Gregor Samsa—karakter yang menginspirasi penciptaannya—seperti cerita pendek Kafka yang pernah ia dengar dari teman masa kecilnya, James Edith, namun oleh Bob Kane nama itu ditolak sebab menurutnya nama itu telah dikenal sebagai serangga raksasa lewat novel The Metamorphosis.

“Kita tak mungkin menggunakan nama manusia yang berubah menjadi serangga untuk superhero kelelawar!” ucap Bob Kane pada Bill Finger.

Sebab alasan itulah, keduanya beradu argumen hingga tak bertegur sapa dan mengakibatkan nama Bill Finger tak pernah disebutkan oleh Bob Kane sebagai pencipta karakter Batman hingga bertahun-tahun kemudian.

Saat akhirnya Bob Kane bisa hidup mewah karena karakter Batman yang digandrungi masyarakat tersebut, Bill Finger hidup dalam kondisi serba kekurangan yang membuatnya merasa sekarat hampir setiap hari.

Di akhir-akhir hidupnya yang menyedihkan, Bill Finger suatu waktu teringat Gregor Samsa dalam cerita pendek 2020. Ia menghubungi James Edith, keduanya lantas berdiskusi tentang cerita absurd itu hingga menemukan kejelasan yang selama ini menjadi penghalang bagi Bill Finger, James Edith, ibu-bapak serta neneknya.

“Aku tak menyangka Kafka pernah menulis cerita seabsurd ini dan tak diketahui oleh Max Brod,” ujar Bill Finger, akhirnya.

James Edith lantas menceritakan muasal naskah itu dan kenapa ia tak pernah diketahui Max Brod, teman sekaligus editor Franz Kafka.

“Demi Tuhan!” Bill Finger berseru, “nenekmu adalah perempuan yang beruntung!”

“Kita adalah orang yang beruntung!” sahut James Edith.

Dengan perasaan yang begitu bersemangat, keduanya lantas membawa naskah pendek itu ke penerbit. Namun malang memang nasib Bill Finger, naskah itu ditolak dengan alasan terlalu pendek dan terutama karena tak ada bukti keaslian naskah itu ditulis oleh Franz Kafka. James Edith marah dan hampir membunuh editor penerbit tersebut dengan kaki kursi yang dipatahkannya. Sementara Bill Finger tampak lebih santai meski ia kembali dengan kekalahan yang lain.

Satu tahun setelahnya, 1974, Bill Finger mati di apartemen kecilnya dengan pemakaman yang jauh dari kata layak.

Selepas menghadiri pemakaman Bill Finger, James Edith  yang merasa kecewa karena tak bisa berbuat banyak untuk teman masa kecilnya itu lantas menyebarluaskan cerita pendek Franz Kafka dengan cara mengetik ulang dan mengcopy-nya sebanyak mungkin.

“Kelak orang-orang akan tahu bahwa 2020 ditulis oleh Kafka meski tak diterbitkan oleh satupun penerbit sialan di seluruh muka bumi!” gumamnyaketika menghamburkan copy naskah itu ke seluruh penjuru kota. Satu tahun setelah kematian Bill Finger atau lima puluh satu tahun setelah Kafka tiada, James Edith meninggal karena penyakit yang sama dengan teman masa kecilnya: kemiskinan.

Empat puluh lima tahun setelah kematiannya, 2020, sebuah cerita absurd dari Franz Kafka yang meski tak pernah diterbitkan secara layak, tersebar ke seluruh penjuru dunia dan diterjemahkan ke hampir semua bahasa yang dipakai umat manusia. Di Indonesia sendiri, cerita absurd itu diterjemahkan oleh seorang tukang gali kubur yang belajar Bahasa Inggris lewat lagu-lagu Justin Bieber yang didengarnya saban kali selesai [email protected]

 

Banjarbaru | 2020

Facebook Comments