“AKU punya cerita lucu,” kata Tuh Dardi setelah sekian jam berjalan dengan kebisuan. Ia memperlambat langkah dan mengulang kalimatnya.

“Demi Tuhan!” Ayas membentak, lalu melanjutkan dengan suara pelan, “Kita baru saja lari dari Garumbulan[i] dan Militer[ii] yang berebutan ingin membunuh kita. Buang ceritamu jauh-jauh!” Ayas mendorong Tuh Dardi untuk kembali mempercepat langkah.

Keduanya berjalan beriringan di dalam sebuah hutan: Tuh Dardi berada di depan, tetapi bukan karena ia hapal seluk-beluk hutan sehingga ia bisa memimpin perjalanan panjang ini, satu-satunya alasan kenapa ia berjalan di depan adalah karena ketololannya. Hanya itu. Di belakangnya mengekor Ayas yang tak letih memberi petunjuk ke mana Tuh Dardi harus melangkah. Dalam hutan itu, mereka berjalan diterangi sedikit cahaya bulan yang menyelinap di antara dahan-dahan pohon.

“Aku janji akan memelankan suaraku.” Tuh Dardi berhenti mendadak dan berpaling. “Aku tak tahu akan selamat atau tidak malam ini, yang aku tahu aku harus menceritakan kisah ini sebelum aku mati.”

Ayas mengembuskan napas, melihat sejauh mana ia bisa melihat. Tak ada apa pun, pikirnya. “Baiklah,” ia mengalah. “Lagian kita sudah berjalan cukup jauh dari pemukiman.” Ayas duduk di rerumputan dan, meski tidak dipinta, Tuh Dardi mulai berbicara.

“Kau ingat Mat Salawi, kawan kita berburu itu? Ini tentang dia. Kemarin, atau seminggu, atau setahun yang lalu, entahlah, aku lupa kapan, sewaktu Garumbulan datang ke kampung kita, Mat Salawi masih tidur di rumahnya. Tetapi ketika dua atau tiga orang dari Garumbulan memaksa masuk, dia bergegas bangun sebab mengira mereka adalah arwah orangtuanya.

‘Oh, kalian rupanya, kupikir hantu orangtuaku. Mereka mati minggu lalu, kata orang mereka dibunn…’ seorang dari mereka menggertak Mat Salawi untuk membuatnya berhenti bicara. ‘Ada apa?’ ia bertanya. Garumbulan memaksa Mat Salawi menyerahkan uang dan makanannya buat mendukung perang melawan negara untuk membuat negara atau sesuatu yang serupa itu, aku tidak ingat. Tapi kira-kira begitulah.

‘Syukur demi Tuhan,’ Mat Salawi tertawa sebentar dan melanjutkan, ‘Aku juga sudah mencari makanan dan uangku sejak lama sekali di rumah ini. Kalian carilah, nanti kubantu. Kalau nanti kita me…’ Lagi-lagi Garumbulan itu membentak Mat Salawi. Setelah terlibat adu cekcok beberapa saat, mereka lantas mencari makan dan uang di rumah Mat Salawi untuk kemudian berakhir dengan tangan kosong tak lama sesudahnya.”

“Pelankan tawamu!” Ayas menutup-paksa mulut Tuh Dardi sambil membisikkan sederet sumpah serapah dan mengutuknya sebagai anak sialan.

“Lucu sekali, kan?” Tuh Dardi mengikik, sesaat setelah Ayas melepaskan tangan dari mulutnya.

“Dari mana kau mendengarnya?”

“Aku lupa,” ia berpikir sebentar dan melanjutkan, “Tapi seingatku Mat Salawi sendiri yang menceritkannya padaku.”

Bahapal![iii] Mat Salawi mati tiga minggu lalu.”

“Hah! Mati?”

“Kau lupa lagi?”

Tuh Dardi menggaruk kepalanya dan bilang, “Mat Salawi dan semua nama yang kuhapal seingatku masih hidup hingga tadi sore.”

“Dasar otak batu!” sumpah Ayas. “Dua malam lalu kau sudah kuberitahu bahwa Mat Salawi mati, juga malam sebelumnya, dan malam yang lebih sebelumnya lagi.”

“Bodohnya aku,” Tuh Dardi memukul-mukul kepalanya sendiri. “Bodoh! Bodoh! Bodoh!”

“Hei, tenanglah!”

“Maaf. Tapi aku memang bodoh. Aku harus menampar kepalaku sendiri karena kebodohanku,” Tuh Dardi menjatuhkan diri dan memukul-mukul tanah. “Sial! Mengapa aku tak ingat bagaimana Mat Salawi bisa mati.” Ia ingin teriak jika saja Ayas tak segera melarang. Untuk beberapa saat setelahnya Tuh Dardi tak bisa mengucapkan sepatah kata apa pun selain menangis sesegukan. Baru setelah badai sesal itu hilang Tuh Dardi bangkit dari tanah dan menyapu air matanya. Dengan suara bergetar ia bilang pada Ayas, “Bisakah kau ceritakan ulang apa yang terjadi? Siapa tahu aku mendengar kisah itu darimu.”

“Untuk kisah yang kau sampaikan itu, bisa kupastikan tidak. Tapi tentang kematiannya, baiklah, akan kuceritakan lagi supaya kau bisa menyadari situasi yang tengah kita hadapi sekarang. Ini yang terakhir. Sumpah demi Tuhan aku tak akan menceritakan kematian Mat Salawi dan kematian siapa pun lagi padamu jika kau tak coba mengingat.”

“Aku akan mengingat setidaknya satu kematian seorang kawan dalam hidupku, dan sudah kuputuskan orang itu adalah Mat Salawi. Ceritakanlah!”

Tetapi karena seberkas cahaya nampak di kejauhan, keduanya memutuskan menghentikan pembicaraan sebentar dan bergerak pelan menerabas belukar beberapa depa lebih jauh ke dalam hutan—sepelan mungkin, setidak-bersuara mungkin. Mereka berhenti di samping pohon tumbang dan berbaring bersisian di sana. Cahaya yang semula mereka lihat hilang ditelan malam sesaat kemudian. Tuh Dardi mengingatkan kembali tentang kematian Mat Salawi. Kesal, Ayas melanjutkan ceritanya sambil berbaring.

“Dengarlah bodoh. Aku tahu menceritakan ini kepadamu hanyalah pekerjaan sia-sia. Tapi, kau ingat bagaimana orangtua Mat Salawi mati?”

“Mereka mati dibunuh rus ….”

“Jangan dijawab, tolol. Aku tahu kau tak ingat. Mereka mati kira-kira satu minggu sebelum Mat Salawi mati. Waktu penyerangan pertama. Keduanya mati bersama beberapa orang lainnya yang menolak memberikan bantuan kepada Garumbulan.”.

Ayas berbaring menyamping, mencari telinga Tuh Dardi lalu berkata, “Kalau kau berteriak atau menimbulkan suara tiba-tiba atau membantah cerita ini, akan kugigit cuping telingamu. Kau paham?”

Si pemilik telinga mengiyakan.

Setelah itu Ayas mulai menceritakan kisah ini tepat di depan lubang telinga Tuh Dardi.

“Ada dua cerita tentang kematian Mat Salawi: yang pertama mengatakan setelah ia berhasil lari dari serangan pertama, ia dapat kabar bahwa kedua orangtuanya mati dibunuh Garumbulan karena menolak memberikan bantuan dan menolak bergabung. Kau tentu tak ingat bahwa sebenarnya kita pernah satu pelarian dengan Mat Salawi ketika malam penyerangan di Karangan Mulud. Besoknya setelah malam penyerangan itu, kita lari ke pedalaman hutan Warihin sementara Mat Salawi memutuskan pulang ke rumah untuk menunggu Garumbulan datang kembali supaya bisa membalaskan dendam atas kematian kedua orangtuanya.

Sialnya, bukannya Garumbulan yang datang ke kampung justru Militer. Ia ditanya tentang pergerakan Garumbulan. Mat Salawi bilang ia tahu ke mana orang-orang itu pergi dan bisa saja memberikan informasi jika ia diterima di Militer. Jika tidak, maka aku akan mencari Garumbulan dengan caraku sendiri dan kalian, katanya pada Militer, carilah orang-orang sinting itu ke dalam hutan dengan cara kalian sendiri.

Apa kau bisa baca tulis? seorang Militer bertanya. Mat Salawi bilang tidak. Militer menertawainya dan bilang bahwa Garumbulan yang mereka cari adalah orang-orang yang ingin bergabung dengan militer tetapi tak bisa baca tulis. Persis seperti Mat Salawi.

‘Tapi aku ingin menggorok sebanyak mungkin kepala mereka dengan tanganku sendiri,’ ucap Mat Salawi.

Keinginannya kemudian dikabulkan dengan syarat ia harus jadi jongos. Hari berlalu dan mereka tak menemukan seorang pun Garumbulan yang dijanjikan Mat Salawi. Sekejap kemudian ia dieksekusi di Jembatan Batuliman. Tubuhnya jatuh ke sungai kering itu. Kalau kau tak percaya, datanglah ke sana dan kau akan bertemu dengan Mat Salawi dengan tubuh yang hanya tersisa tulang.

Cerita pertama itu kudengar dari Julak yang sekarat di Hutan Warihin. Kau ingat? Kita bertemu dengannya sekitar sepuluh hari lalu.”

“Kurasa aku sedikit mengingat bagian itu,” sahut Tuh Dardi.

“Bagus kalau begitu,” kata Ayas. “Nah, sekarang akan kuceritakan kisah kematian Mat Salawi yang kedua. Kau dengarlah. Aku tahu kisah ini dari orang lain, kejadiannya hampir mirip dengan yang pertama, namun Mat Salawi ti ….”

Ayas ingin melanjutkan ceritanya seandainya tak mendengar derap kaki di kejauhan. Keduanya mengatur napas agar tak lebih nyaring dari bebunyian malam. Semakin lama langkah kaki itu kian mendekat. Terus mendekat. Beberapa kali terdengar letup senjata tanpa tujuan pasti. Suaranya terdengar serampangan. Teriakan bersahut. Malam semakin mencekam. Malaikat maut seakan terbang tak tentu arah mengikuti ke mana saja letup senjata itu pergi. Tuh Dardi dan Ayas mendempetkan tubuh ke pohon tumbang di samping mereka. Tak kurang dari empat jam setelah itu mereka menahan diri untuk tak berbicara satu sama lain dan bahkan sama sekali tidak menggerakkan tubuh kendati derap kaki itu telah lama hilang sebelum akhirnya mereka cukup yakin untuk menjauh dari sana.

“Ayo pergi.” Ayas perlahan bangkit berdiri, matanya awas.

“Ke mana?” tanya Tuh Dardi, suaranya bergetar, bibirnya bergetar, seluruh tubuhnya bergetar. “Kurasa di sini sudah cukup aman.” Ia bangkit dan memeluk lututnya erat sekali.

“Demi Tuhan! Kita akan mati kalau terus di sini,” sahut Ayas. “Kau mau dengar kelanjutan cerita tentang kematian Mat Salawi atau tidak?”

“Mat Salawi sudah mati? Bukannya sore tadi ia masih hidup?”@

Sungai Pinang|2021

[i] Garumbulan: bekas gerilyawan pejuang kemerdekaan yang kecewa karena tak diterima masuk TNI dan bergabung dengan pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia.

[ii] Militer: TNI

[iii] Ngawur

Facebook Comments