Saya harapkan para pembaca menguatkan mentalnya. Buang pikiran negatif, dan mulai terima saja apa yang saya paparkan. Sudah, terima saja, kalau anda seorang HRD, percayalah! Pasti tulisan ini akan mewakili anda! Tersebab tulisan ini mengandung kegundahgulanaan dan keluh kesah betapa merekrutmen SDM itu susah-sudah gampang, ya? Seduh kopi dulu, boleh kali!

Tak kurang dari 3 bulan belakangan ini, saya diamanahi untuk merekrutmen banyak sekali orang, untuk membuka lowongan, mencarikan pekerja, memperantarai antara perusahaan, badan usaha, atau apalah namanya, yang teman-teman punya perusahaannya untuk mengganti atau menambah karyawannya.

Tidak cukup sampai di sana saja, kontak saya menjadi CP, email pribadi/atau email perusahaan yang saya login untuk terima segala bentuk warna dan bentuk template CV.

Bidangnya pun beragam. Mulai dari pemasaran, admin konten kreator, admin sosial media, sales, barista, kitchen, helper, editor, admin, driver, kapster, fotografer, reporter, desain grafis teknisi, model bahkan sampai wartawan. Kesannya banyak sekali ya! Untungnya segala perusahaan itu punya teman semuannya. Tidak jadi sombong, dong!

Pertanyaannya adalah, masalahnya di mana? Nah ini! Saya kira seorang HRD itu mestilah profesional di bidangnya. Karena tipe-tipe pelamar yang songong itu bertebaran di mana-mana. Anggap saja keluh-kesah ini justru menjadi tips dan trik para pencari kerja baru di zaman ini. Terutama kalian generasi Z kelahiran tahun 1996 ke atas sampai 2002 (rentang generasi z sampai 2012).

Kecerdasan Yang Dipertaruhkan

Biasanya, perusahaan/badan usaha apa pun itu bidangnya meletakkan informasi yang cukup anda ketahui saat mengajukan lamaran saja. Standarnya ya anda sebagai pelamar menyertakan data diri, mengajukan mengajukan CV. Dah. Gitu aja!

Perihal pertanyaan yang justru jawabannya sudah terpampang jelas di pamflet atau iklan akan membuat anda otomatis gugur, skip. Bukti anda memang tidak membaca atau tidak pandai mencerna informasi. Sesederhana alamat, persyaratan, dan lokasi perusahaan/badan usaha itu berdomisili adalah informasi lumrah disertakan dalam pamflet.

Saran saya, nih, ya, cuma saran, sih, boleh dipakai boleh dibuang, pandai-pandailah mencari tahu “kata kunci” terkait bidang yang anda lamar. Perasaan google gak pernah tutup, deh. Anda bisa ketik sendiri “kata kunci” 24 jam non-stop di apps browser.

Jangan sampai anda mempertanyakan: “coocker itu yang dikerjakan apa kak?” “Ya masang keramik dong, bambang!”

Komunikatif itu: BUKAN BANYAK CINCONG

Fine, kamu mengaku seorang komunikatif, pandai menarik perhatian pembeli, misalnya. Tapi bukan berarti cangkem anda mengatur rules yang ditetapkan perusahaan.

Posisi anda di sini adalah pelamar, bukan pengatur yang sudah membagi-bagi waktu kerja sendiri, yang anda pun, belum pasti diterima, kan: “Waktu paling efektif untuk saya bekerja itu dari sore sampai malam saja kak!” LAH KOK NGATUR!!

Jangan Yakin Anda Pasti Diterima

Optimis boleh, tapi realistis. Mengulang pernyataan saya di atas, anda belum pasti diterima, fren! Bahkan ketika mengirim CV pun, anda masih harus menunggu proses panjang Anda berkompetisi dengan banyak sekali pelamar. Anda akan dikomparasi dengan skill-skill yang diandalkan, yang anda ketik sendiri di dalam CV. Anda juga akan dinilai dari pengakuan-pengakuan anda di CV template gratisan itu.

“Bisa gak kak, aku kerjanya sift siang aja. Soalnya malam aku mesti bla bla bla… Bisa gak kak, aku agak sore aja masuknya, soalnya pagi aku mengerjakan yang lain. Bisa gak kak aku bla bla bla” Lah, KOK NGATUR!

Tenang saja fren, selama belum ada panggilan interview, kamu belum pasti diterima kerja. Perbanyak berdoa dan sebarkan lagi aja CV-CV itu di lowongan-lowongan lain. Dengan sikap yang sama, yakinlah hasilnya sama saja.

Seputar Salary dan Interview

Banyak yang bilang pertanyaan gaji adalah hal yang paling fatal dan emotional untuk pelamar. Ada yang memakai di awal, ada yang memakainya di akhir. Bagi saya sah-sah saja. Tapi selama anda sebagai pelamar belum melakukan apapun, belum mengirim data apapun, belum dipanggil untuk interview juga, pertanyaan seputar uang akan menggugurkan anda di awal. Percaya saja.

Gerbang Terakhir

Biasanya salary, kesepakatan waktu kerja, pembagian tupoksi, hari libur dan hari penggajian, dan tutorial pengunduran diri bahkan pemberhentian akan ditentukan setelah anda dipanggil oleh perusahaan. Akan ada interview di sana. Akan ada tatap muka baik itu pemilik perusahaan, manager, atau HRD yang pro.

Bisa jadi interview lisan, bisa jadi ada psikotest formalitas, bisa jadi ujiannya “Body Language” dan “Penampilan/Kesan” pertama anda datang menjadi ketentuan.

Jadi, sebelum sampai tahapan gerbang terakhir ini, sikap seolah-olah takut DITERIMA, takut mengganggu waktu bersantai, takut akan tekanan ketika sudah bekerja, itu dibuang jauh-jauh saja, lah, ya! ANDA BELUM PASTI DITERIMA, KOK! Santai. Tenang.

Finally, kepada para pelamar kerja, terutama generasi Z yang mulai dewasa (karena millenial adalah para pengusahanya) cerdas-cerdaslah dalam berkomunikasi.

Anda harus cerdas, boy and girl! mengandalkan kepintaran saja tidak akan pernah cukup membuat anda berharga. Selamat datang di kehidupan kalian sebenar-benarnya. Kehidupan para orang dewasa.@