Beropini sedikit boleh dong, ya? Boleh pasti. Sebelum sampai ke ranah humor, mari kita telusuri sedikit. Dan berduka secukupnya untuk sejumlah korban banjir yang meninggal dunia. Allahumma yarham. Semoga kondisi cepat pulih, dan aktifitas kembali normal.

Sedari dulu, era kakek nenek datuk anggah datu-datunya kita tinggal di tanah ini, banjir bukanlah hal yang baru. Itulah mengapa orang zaman jebot membangun rumah Bubungan tinggi atau “panggung” agar air lewat di bawah “berumahan”. Berlaku untuk mereka yang tinggal di sekitar bantaran sungai.

Saya sebagai cucu yang kakeknya dulu tinggal di pinggiran sungai, aktifitas mengangkat barang-barang ke atas meja, menggulung tilam, melap lantai paska surut, membersihkan perkakas karena tanah yang dibawa banjir, adalah aktifitas kami semua.

Biasa, tak ada yang istimewa. Sembari menunggu surut, anak-anak lainnya bermain sambil menangkap ikan. Ular yang masuk ke dalam rumah saat banjir adalah lumrah. Kalau di luar rumah, tinggal tutup pintu, kalau ular di dalam rumah, ya biarkan dia keluar sendiri mengikuti arusnya.

Namun, banjir berhari-hari sampai sepekan (update terakhir ketika tulisan ini dipost, sampai sebulan) dan tingginya memang melebihi perkiraan, tentu menjadi hal yang mengejutkan. Ada sebagian kalangan yang sensitif (karena memang menjadi pengalaman pertama, misalnya). Masyarakat kita di era sekarang cenderung tidak siap, tersebab, banjir dari tahun ke tahun gak akan begitu-begitu aja. Seiring wilayah serapan di hulu juga mulai berkurang.

Di sisi lain, jika kita memang scrolling pro akun-akun medsos, kelakuan-kelakuan teman-teman kita yang  lucu adalah penguat di kala sedih. Penyemangat di kala lelah. Penghibur di kala susah.

Dua orang yang berada di sudut jukung berpelukan seperti adegan titanic, emak-emak yang tertawa ceria saat ditawari bantuan. Rasa syukur yang tinggi “Barang aja nak ai mun dibari urang napa kah tarima haja, disyukuri untung jua kawa makan.”

Perihal “untung jua untung jua untung jua” ini menjadi cerminan budaya masyarakat kita yang pandai bersyukur. Saking pandainya mereka, tradisi mahalabiu, komedi satire, dan hal lainnya mewabah di media sosial.

Masyarakat kita adalah masyarakat “penggaya.” “Untung jua, nak, ai kita kabanjiran, urang kabakaran tu pang habis lalu, cacak gin hangit,” adalah bentuk ungkapan guyon, tidak ada maksud menyinggung pihak yang kebakaran, tapi ini adalah bentuk hiburan, dan rasa syukur. Sekali lagi.

Masyarakat Banjar menjadi masyarakat yang hobi mengambil hikmah dalam berkehidupan dan sosial tinggi. Gotong royong sudah seperti darah daging, kawinan, kelahiran, aqiqahan, haulan, masak bersama, mengawah bersama, adalah gaya hidup masyarakat Banjar.

Jika sebelumnya merupakan perayaan, sekarang skalanya masuk dalam ranah “pamarasan”. Masyarakat kita di Banjar, paling “kada benyamanan,” melihat saudara yang tertimpa musibah. Walau ia ditimpa musibah yang sama, bisa saja mengutamakan menolong saudara yang lainnya.

Mari tepuk tangan meriah dan rangkul kebanggaan untuk seluruh masyarakat yang turun tangan berjibaku dengan kemampuannya masing-masing. Yang berdonasi, open donasi, open rekening, yang relawan, yang sukarelawan, yang suka gak suka harus jadi relawan, yang menyingsingkan celana untuk bercebur, yang nyupirin, yang telpan-telpon sana-sini, semuanya, all of them. Kita sayang, kami sayang, ulun sayang, love banar wan buhan pian.

Facebook Comments