Saya awalnya tak ingin ikut-ikutan menambah pujian pada buku yang ihwal akan-terbitnya saja sudah memenuhi beranda media sosial fesbuk saya beberapa hari ini. Tapi rasa penasaran, pengecualian dari kebiasaan menaruh buku yang baru dikoyak plastiknya–teronggok begitu saja di meja tamu sesudah membaca daftar isinya, memaksa saya membaca 21 halaman (Warkah) Pembuka-nya. Tak sampai di situ, saya didorong keras lagi (melompat) membaca  tiga halaman (Warkah) Penutup, memeriksa Senarai Pustaka, dan membuka beberapa halaman tengah (yang dilompati) secara sepintas mata mampu menyerap hal-hal yang terkesan penting.

Begitulah. Saya harus angkat empat jempol untuk buku terbaru Muhammad Iqbal ini, “jauh” dari bentuk perhatian saya pada buku pertamanya dulu (kumpulan esai) yang ditulis-selesai sebulan saja. Ini (karya) skripi rasa disertasi, atau minimal tesis lah.

Kelebihan Iqbal pada buku ini, setidaknya dari 24 halaman yang saya baca secara perlahan (dan beberapa halaman lainnya yang menarik perhatian saya), terletak pada gaya bahasanya yang tak sekadar “tulisan” sejarah. Lancar ceritanya. Pemakaian kata-kata yang tak umum digunakan penulis biasa, seperti di antaranya pudat (penuh), menyugun (kusut), kalakian (wahasil, kemudian), warkah (surat, halaman), sakal (pukulan, benturan), kiwari (meski kata ini sudah sering digunakan Iqbal dalam esai-esainya dan saya lihat banyak diikuti oleh penulis yang saya kenal), dst. Dan, penuh referensi di luar kemampuan mahasiswa strata satu (setidaknya ketika Iqbal menuliskan skripsinya) membaca serta kemudian menyertakannya sebagai penguat latar belakang penelitiannya.

Strategi Iqbal mengetengahkan “soal” lokal ke medan yang lebih luas saya kira sangat berhasil. Terlebih dengan upayanya menulis “Sejarah Singkat Amuntai”, yang lebih panjang dari bagian-bagian (bab) lainnya di buku ini: 64 halaman sementara bab lain hanya berkisaran di antara 20-30an halaman. Ini sesuatu yang diidamkan banyak penulis lokal di Kalsel tentunya, bagaimana karyanya bisa dibaca seluas mungkin dalam rangka mengenalkan daerahnya.

Buku ini bicara soal “peristiwa-penting” yang mungkin luput dari perhatian banyak orang Banjar hari ini. Termasuk saya. Bahkan, mungkin, banyak orang Amuntai tak tahu. Padahal, peristiwa ini begitu berkesan dan penting bagi mereka yang hadir saat itu di sebuah rapat besar bersama “Bung Besar” (dan pembaca sejarah serius), pada tahun 1953. Tepatnya rapat raksasa, pada tanggal 27 Januari 1953, yang dihadiri tidak hanya oleh orang Amuntai tapi juga dari Barabai, Tanjung, Kandangan–seperti dinyatakan Tuan Guru H. Napiah yang ketika hadir pada peristiwa itu berumur 30 tahun dan telah aktif di MusyawaratutThalibin (lihat hal. 100 buku ini).

Meskipun isu dan sekalian konteks peristiwa (yang dibicarakan) buku ini menjadi amat menarik jika diletakkan dalam bingkai sakal politik (-agama) nasional, seperti gaung pembentukan negara Islam di tahun 1950an itu–bahkan kemudian dinyatakan Fachry Ali Pidato Amuntai 1953 merupakan salah satu pemicu meletusnya pemberontakan Aceh (oleh Daud Beureh pada tahun yang sama), penelitian Iqbal sendiri memperlihatkan sisi-sisi dramatis (bahkan termasuk “kekonyolan”) yang lain.

Facebook Comments