SAYAselalu mengenal Randu Alamsyah (selanjutnya saya sebut Randu) sebagai penulis fiksi, bukan yang lain, sampai beberapa tahun silam seorang kawan Facebook membagikan status Facebook-nya. Barangkali tahun 2018. Saat itu saya masih belum berteman, baik di dunia nyata apalagi maya. Status itu membicarakan ingar bingar Pemilu dengan narasi yang menarik dan sejalan dengan pemikiran saya. Saya baru meminta pertemanan dengan lelaki ini kurang lebih setahun belakangan, terhasut pembagian bertubi status-status Facebook-nya.

Itu sebabnya, saat saya membaca kumpulan tulisan status Facebook-nya yang dibukukan, Mereka yang Berdiri di Sepanjang Garis Patahan Politik (MBSGPP), saya tak banyak mengalami de javu atas narasi-narasi yang ditampilkan. Randu menyatakan status-status semacam itu dimulainya sejak 2014, dan saya adalah orang baru. Saya anggap itu keberuntungan, karena dengan demikian saya memiliki jarak emosional dengan tulisan-tulisan di buku ini. Penting sebenarnya juga membaca buku ini dalam konteksnya sebagai sebuah catatan kebudayaan atas sejumlah momentum politik, tidak hanya sebagai kenangan emosional atas kesamaan rasa di masa lalu.

Buku MBSGPP dibagi menjadi tiga tema utama: (1) politik lokal Kalsel, (2) politik nasional, dan (3) politik dan hubungannya dengan agama. Dari 22 tulisan mengenai politik Kalsel, subtema yang diangkat berkisar pada langkah dan gerak politik Muhidin, Sahbirin, Guru Khalil, dan Aditya Mufti; politik keluarga atau politik dinasti; politik dan isu lingkungan; politik dan pengusaha; dan beberapa artikel tentang film Pangeran Antasari. Saya kurang mengerti kenapa tulisan tentang film ini dimasukkan, barangkali dalam kaitan film itu sebagai satu kebijakan (politik?) gubenur yang menjabat. Satu lagi adalah tulisan yang tak ada hubungannya dengan urusan politik apapun, Humor Hanya Milik Banjar.

Di kanal politik nasional ada 23 tulisan. Semuanya membicarakan pemilu presiden dan berbagai wacana yang mengelilinginya, baik sebelum, saat, dan setelah.

Sementara itu, pada pembahasan mengenai politik dan agama, ada 16 tulisan di sana. Fokus utama Penulis dalam bagian ini adalah meyakinkan pembaca tentang sahihnya dikotomi antara ulama dan umara (pemimpin), akhirnya antara agama dan politik. Meski demikian, Penulis juga menyampaikan wacana yang cukup kontradiktif, pembelaannya terhadap eksistensi HTI yang dasar pemikiran gerakan tersebut jelas menjadikan Islam dan politik sebagai dua entitas yang tak dapat dipisahkan, dan kritik Penulis terhadap kelompok Salafi yang apolitis. Randu juga membicarakan mengenai perhelatan haul Guru Sekumpul dengan narasi yang menyentuh. Saya yakin jempol suka untuk tulisan status-status ini di atas dua ratus.

Berbagai peristiwa yang dibicarakan Penulis dalam rentang waktu enam tahun terakhir boleh saja menjadi lampau, namun bagi saya narasi-narasinya masih aktual. Bahkan menjelang kembali momentum pemilihan kepala daerah  tahun ini, dan pemilihan presiden beberapa tahun ke depan, ia bisa jadi menjadi sangat relevan.

Apa yang terlintas di pikiran para pembaca saat membaca buku ini? Bagi mereka yang bersepakat dengan tulisan-tulisannya, hanya satu hal yang terlintas, Randu mampu mengartikulasikan apa yang sebenarnya ingin kita suarakan. Yah, kesamaan rasa yang saya maksud di atas. Itu sebabnya, yang terngiang di benak kita saat selesai membaca satu demi satu tulisan adalah kalimat seruan, “That’s it!” atau “Ini maksud saya, ini maksud saya!” Itu pula alasan kita  lantas membagikannya dengan bersemangat, seakan-akan itu adalah tulisan kita. Malang sekali kita dengan semua ketidakmampuan menarasikan pikiran kita sendiri.

Kenapa sebagian dari kita begitu bersemangat menanggapi narasi-narasinya? Karena kita merasa Penulis berada di pihak kita. Dalam karut marut situasi politik jelang pemilu presiden misalnya, di antara dua kutub besar yang saling tolak menolak, kubu petahana dan kubu penantangnya, Randu telah memilih berpihak pada salah satu. Dan sesiapa yang berada di pihak yang sama dengannya, tetiba merasa memiliki artikulator fasih yang sangat mengerti perasaan marah, luka, kecewa, gembira dan harapan-harapan.

Lalu, bisakah demikian? Keberpihakan yang terang benderang itu? Ya, kenapa tidak. Apa yang dinarasikan Randu di status-statusnya itu opini, atau boleh jadi esai yang berdasar pada pandangan-pandangannya pribadi. Tentu dengan argumentasi yang sebagiannya sulit dibantah. It’s damn smart opinion. Bagi saya pribadi, keberpihakan adalah tabiat asli manusia. Tak ada manusia netral di muka bumi ini, sesuci apapun perilakunya. Manusia ditakdirkan untuk cenderung pada sesuatu, untuk berpihak. Oleh karenanya, tak ada yang ganjil dari tulisan-tulisan itu. Keberpihakannya pun alami, sealami saya yang misalnya lebih suka Benedict Cumberbatch sebagai Sherlock daripada Robert Downey Jr.

Kentaranya keberpihakan meski bukan hal yang buruk, jelas bukan bagian terbaik dari buku ini. Lantas, ada di mana bagian terbaiknya? Bagi saya, ada pada sejumlah tulisan yang membicarakan  hal-hal esensial, hal penting tapi enggan kita bicarakan dengan lantang dan terus terang. Randu bicara tentang wacana ketidaksetujuan dan penolakan, wacana-wacana kontra yang termarjinalisasi dalam struktur kekuasaan tertentu. Kontra dengan siapa? Yah, pemilik kuasa lah. Siapa lagi. Ia menulis dengan cukup berani. Menyuarakannya dengan bahasa lugas dan tidak diembel-embeli pendekatan keilmiahan atau (sok) obyektif dengan akhirnya mengeliminir bagian paling substansial: perlawanan a.ka penolakan.

Di antara wacana yang saya maksud misalnya soal isu lingkungan dan tambang (khususan di Kalsel), dan radikalisme. Wacana yang ditawarkannya adalah wacana kontra dari yang selama ini menjadi pemahaman umum yang dianjurkan (baca:dipaksakan) secara hegemonik. Wacana kontra yang selama ini hanya beredar dalam dalam jarak bisikan dan diskusi terbatas. Tentang ketidaksetujuan-ketidaksetujuan.

Menariknya, meski dengan cukup lugas menyampaikan wacana kontra, barangkali untuk memastikan keamanan, Randu mengemas narasinya dengan struktur tertentu. Yah, biar bagaimanapun menjadi tidak setuju, kontra, apalagi sampai melawan, sejak dulunya adalah pilihan yang tidak aman. Suara ketidaksetujuan dan penolakan dalam tulisan ini akhirnya bukan jenis orasi mahasiswa demo yang kencang dan straight to the point, atau jenis status media sosial dari orang-orang yang suka ngotot dan merasa paling benar sendiri. Ketidaksetujuan dan penolakannya argumentatif disertai usaha berkompromi dan ia tak menutup tulisannya dengan penghakiman atau tudingan. Penutupnya jenis open ending yang kadang membuat kita bertanya sebenarnya dia benar-benar tidak setuju atau malah setuju sih. Haha

Meski dengan sejumlah keunggulan di atas, tentu saja buku ini punya beberapa catatan ketidakpuasan dari saya. Saya menyalahkan pada besarnya harapan saya atas buku ini. Saya berpikir meski berisi kumpulan status Facebook, saya akan menemukan kemendalaman. Apa yang pernah saya baca dari status Randu di Facebook adalah tulisan yang legit tapi sedikit.  Yah, macam kita dikasih tetangga ipau besantan Ummi Youmna (paling enak se-Banjarmasin) tapi cuma sepotong. Saya berharap dalam bentuk buku, status-status itu akan paripurna sebagai hidangan istimewa dalam jumlah memadai. Narasi yang hanya sekian paragraf bisa bertambah, dengan ulasan yang lebih mendalam dan analitis. Narasi-narasi yang bisa mengangkat penulis ke level pengamat politik yang sesungguhnya.

Karena harus kita akui, di Kalimantan Selatan, akademisi dan pengamat politik cukup banyak, namun yang memiliki kekuatan pengamatan dan bisa mengartikulasikannya dengan baik dalam bentuk tulisan sangat sedikit, jika boleh dikatakan tidak ada. Hingga hari ini, kita belum menemukan buku yang berisi esai atau ulasan politik lokal. Oke, kita mungkin bisa menghitung buku Desmond J. Mahesa, Untuk Kalimantan yang Sejahtera (cmiiw, saya lupa-lupa ingat judulnya), atau buku tentang Pilkada Kalsel yang ditulis oleh Prof. Dr. Budi Suryadi sebagai buku kumpulan tulisan politik. Hanya saja kita mengharapkan terbitnya buku-buku yang membicarakan politik lokal lebih dari sekadar buku kampanye atau pembahasan parsial.

MBSGPP memiliki kans besar untuk menjadi buku semacam itu, Sayang sekali penggarapannya terkesan seadanya dan terburu-buru, cuma menyalin isi status di beranda Facebook lalu menempelnya di bakal buku. Penggunaan bahasanya pun bahkan tak mengalami penyuntingan, kata gak tanpa cetak miring, tersebar di hampir tiap tulisan. Mungkin Penulis ingin menjaga orisinalitas tulisan, entah untuk tujuan apa jika toh pada akhirnya menunjukkan kekusutmasaian. Sayang sekali, karena di sisi lain ia bisa menjadi buku esai politik, bahkan buku kajian politik yang high level, jika digarap dengan lebih baik.

Hal lain yang cukup mengganggu saya (secara subyektif) adalah ketidaksetujuan saya atas beberapa konsep yang mendasari sejumlah tulisan. Ini menganggu saya secara pribadi, sebagai antitesis sekaligus ekses dari perbedaan cara memahami. Misalnya dikotomi antara ulama dan umara (pemimpin) yang berujung pada dikotomi antara agama dan politik. Ini adalah wilayah perdebatan panjang yang berangkali akan sulit ditemukan ujung dan titik temunya. Akhirnya hal-hal semacam ini memang pasti terjadi, ada hal yang kita setujui dan ada yang tidak kita sepakati dari sebuah tulisan. Dan kita bisa memilih untuk mengabaikannya tentu saja, hal-hal yang tidak kita sepakati itu.

Oh ya, hal terakhir yang ingin saya sampaikan terkait buku MBSGPP ini adalah selera humor yang baik dan beberapa di antaranya sangat lokal. Saya bahkan menganggap tulisan berjudul Humor Milik Orang Banjar yang berisi cerita yang benar-benar lucu tentang pengalaman Penulis memancing ikan Bawal sebagai tulisan terbaik di buku ini. Tulisan ini tidak ada hubungannya dengan politik, tapi ia menunjukkan kelucuan yang hanya dipahami orang Banjar (sesuai judul) sebagai sebuah perilaku budaya, sebagai sebuah kearifan lokal tersendiri. Berbagai celetukan penuh kelucuan juga tersebar berbagai tulisan di buku ini, membuatnya pantas dinobatkan sebagai buku paling kocak di paruh pertama tahun ini. Saya bahkan mengusulkan pada Penulisnya untuk menulis sebuah buku humor ‘Mati Ketawa Ala Randu’ atau yang semacam itu.

Namun, jika Randu menulis buku semacam itu, kita menjadi semakin susah membuat kategori atas dirinya kelak, bukan begitu? Pengamat politik, pemerhati budaya, novelis, atau komedian? Saya sih lebih suka Randu sebagai pengamat politik. kamu?

Wallahua’[email protected]

Facebook Comments