MENJAWAB pertanyaan seorang pembaca, mengapa saya sebelumnya tidak pernah mengulas film Asia. Saya pernah menonton beberapa film Asia, dan kebetulan film-film itu bagus. Meski demikian, saya tak bisa benar-benar menyukainya.

Film Thailand, atau Hongkong/ Taiwan/ Cina Daratan (kita menyebut mereka semua film Cina), misalnya adalah film-film yang terasa dekat secara kultural, sehingga intensitas pengaruhnya terhadap kondisi psikologis lebih kuat daripada film-film Hollywood atau Eropa.

Saya selalu merasa level gore, kesadisan, dan kemuraman film-film Asia lebih mencekam dan menghantui jiwa. Sementara itu, film-film dari Korea Selatan (semoga tak seorang K-Poppers pun yang membaca tulisan ini) juga tak begitu saya sukai karena definisi saya tentang maskulinitas sudah dipenuhi sosok-sosok macam Qaqa ibn Amr, T’Challa, atau Matthew Mcconaughey, bukan jenis aktor-aktor yang belakangan biasanya lalu lalang di film-film Korea Selatan.

Menonton dan mengulas Parasite yang notabene adalah film produksi Korea Selatan bukan menjadi kehendak saya sejak awal. Seseorang merekomendasikan karena film ini secara mengejutkan menjadi nominasi di sejumlah kategori bergengsi ajang Oscar 2020, termasuk kategori sutradara terbaik dan film terbaik. Ini kali pertama film Korea Selatan mendapatkan nominasi itu.

Sebelumnya Parasite telah memenangkan Palm’o Dior-nya Festival Film Cannes. Memenangkan kategori film asing terbaik di Golden Globe, dan mendapat empat nominasi di BAFTA (British Academy Film Award). Guy Lodge, kolumnis The Guardian menempatkan film ini di posisi pertama top ten list movie tahun 2019. Ini menunjukkan betapa fenomenal dan outstanding-nya film ini

Meski demikian, sampai selesai menonton, yah, saya tetap tidak menyukainya, Hahaha… Maafkan. Tapi saya setuju film ini layak menjadi pemenang di festival film apapun.

Parasite dikategorikan film thriller dark comedy , perpaduan art film dan popcorn film, perpaduan film yang ringan agak nge-pop di awal menjadi film yang berat mencekam menuju akhir. Saya sendiri hampir tidak bisa menemukan bagian ‘ringan’ di film ini. Sejak scene pertama, film ini sudah muram, dark without comedy.

Parasite bercerita tentang keluarga Kim yang terdiri dari ayah, ibu, anak remaja lelaki dan anak remaja perempuan. Saya tidak menyebutkan nama ya, soalnya takut salah tulis, nama-nama orang Korea biasanya terasa sulit untuk saya. Keluarga Kim adalah potret keluarga miskin (mungkin yang termiskin) di Korea Selatan. Mereka hidup di wilayah kumuh, tinggal di rumah yang berada di bawah badan jalan. Suatu hari teman si remaja lelaki menawarinya mengajari bahasa Inggris privat putri seorang pengusaha kaya. Karena dia cuma lulusan SMA, maka mereka sepakat membuat ijazah universitas palsu. Ijazah dibuat oleh si adik.

Si remaja lelaki mendapati bahwa rumah tempat dia mengajar privat adalah rumah besar yang sangat bagus dihuni oleh ibu dari sang putri, adik lelakinya, seorang asisten rumah tangga, dan sang pengusaha. Empat orang itu tampil dengan karakter sederhana sebagai protagonis, si putri remaja perempuan pemalu, si anak lelaki cerdas dan aktif, sang ibu cantik tapi polos, sang ayah low profile dan easy going, sedangkan asisten rumah tangga ramah dan cekatan.

Mengajar pada keluarga sekaya dan semenyenangkan itu memicu keinginan si remaja lelaki agar keluarganya juga bisa merasakan apa yang ia rasakan. Si remaja lelaki lalu menipu keluarga pengusaha itu. Ia memasukkan adik perempuan, ayah, dan ibunya ke dalam rumah itu dengan cara menjadi tenaga rumah tangga yang dibutuhkan, si adik menjadi guru menggambar  anak lelaki si orang kaya, ayahnya jadi supir, dan ibunya menjadi asisten rumah tangga. Mereka melakukan itu dengan pura-pura tidak saling berhubungan satu dengan lainnya serta menyingkirkan supir dan asisten rumah tangga yang ada dengan taktik curang.

Penipuan itu berjalan lancer. Sampai suatu hari, asisten rumah tangga yang lama datang berkunjung dan menyampaikan bahwa dia ketinggalan sesuatu. Ternyata sesuatu itu adalah suaminya yang hidup sebagai pelarian dari Korea Utara. Lelaki itu hidup di ruang bawah tanah rumah yang bahkan tidak diketahui si empunya rumah. Di saat yang sama, penyamaran keluarga Kim diketahui mantan asisten dan suaminya. Bisa ditebak, kekacauan mulai dari sini.

Keluarga Kim melakukan berbagai cara membungkam keduanya. Akhirnya mereka mengurung suami istri itu di dalam ruang bawah tanah. Sang istri meninggal karena benturan di kepala, sang suami menggila di ruang bawah tanah itu. Klimaks terjadi saat pesta ulang tahun anak lelaki si pengusaha. Suami yang menggila di ruang bawah tanah itu keluar dan membunuhi para tamu termasuk anak perempuan keluarga Kim. Lelaki yang menggila itu mati, sang pengusaha juga mati. Pengusaha yang protagonis itu mati dibunuh oleh kepala keluarga Kim yang marah karena sang pengusaha pernah mengatakan pada istri cantiknya bahwa supir Kim memiliki bau badan yang kurang sedap.

Cerita diakhiri dengan Tuan Kim yang sekarang hidup di ruang bawah tanah rumah untuk menghindari penangkapan dirinya sebagai pembunuh.

Sebagai sebuah drama, film ini memiliki plot yang sangat kompleks dan rapi dengan twist yang meski tidak menghentak-hentak tapi pelan-pelan meletupkan emosi penonton. Kita akan dibawa pada hal-hal yang tidak tertebak pada bagian selanjutnya. Boleh dikatakan, hampir tidak ada yang klise dari film ini. Kita tak akan menyangka si remaja lelaki akan menambah penipuannya dengan memasukkan adiknya sebagai guru menggambar. Well, sebenarnya kita tak menduga bahwa keluarga Kim akan bekerja di rumah itu dengan cara menipu.

 Kita juga dikagetkan oleh asisten rumah tangga sebelumnya yang diam-diam menyimpan suaminya di ruang bawah tanah. Bahkan mungkin sampai pembunuhan massal dilakukan oleh lelaki dari dalam ruang bawah tanah itu, kita tidak menduga akan ada pembunuhan semacam itu. ini bukan jenis film di mana pembunuh membawa-bawa pisau untuk menakut-nakuti korban, ini jenis film di mana kita bahkan tidak tahu kalau ada pembunuh.

Jika ada yang mengatakan adanya scene-scene yang konon terasa ringan lucu ala drama Korea di awal film, saya jelas tidak merasakannya. Sejak awal film ini murung. Dengan grafis pembuka gantungan baju usang yang menggantung kaus kaki, suasana rumah yang sempit, berantakan dan berada di bawah badan jalan, asap fogging yang masuk ke dalam rumah. Itu tidak ringan bagi saya.

Bahwa penipuan pertama akan berlanjut dengan penipuan kedua juga membuat saya bertanya-tanya, kenapa bisa dilakukan dengan begitu ringan dan santai? Kondisi psikologis macam apa yang bisa membuat manusia mencapai derajat ketidakpedulian macam itu?

JIka memang ini film tentang benturan kelas sosial, bahwa perbedaan kelas sosial yang terlampau tajam mampu membuat orang menjadi seperti itu, lalu apa arti wajah-wajah bahagia yang tampak jelas digambarkan saat keluarga itu duduk bersama di ruang tamu mereka yang kumuh menikmati makanan mereka yang menyedihkan seakan-akan hidup semacam itu bukan sebuah masalah?

Mengapa pula keluarga pengusaha itu digambarkan terlalu protagonis? Bagaimana kita bisa membenci keluarga kaya yang masing-masing orang memiliki karakter dengan kualitas yang baik. Suami yang setia dan mencintai istrinya, istri yang polos dan mencintai keluarganya, anak-anak yang tumbuh dalam kasih sayang. Siapa yang tak kehilangan saat sang pengusaha mati dibunuh kepala keluarga Kim? Lalu apakah kepala keluarga Kim dapat disalahkan sepenuhnya atas pembunuhan itu mengingat latar belakang kemiskinannya yang mengenaskan?

Demikian pula dengan pasangan mantan asisten rumah tangga dan suami ruang bawah tanahnya. Mantan asisten itu benar-benar pekerja profesional dan dia merawat suaminya dengan kesabaran dan kasih sayang. Bahkan lelaki dari ruang bawah tanah itu juga adalah korban. Ia melarikan diri dari kehidupan yang menindas di Korea Utara berharap menemukan kehidupan baru di tempat baru, namun ia justru hidup di ruang bawah tanah yang bahkan kehidupan itu seiring berjalannya waktu mulai dicintai oleh jiwanya yang sakit.

Maka di sinilah kekurangajaran film ini. Dia memporakporandakan logika keberpihakan penonton. Penonton dibuat bingung harus berada di pihak siapa. Yang paling parah adalah penonton bahkan dibuat ragu tentang kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh sesiapa pun di sepanjang film ini, apakah itu kejahatan atau bukan sama sekali.

Kesulitan penonton ini selain karena cerita yang sedemikian, juga disebabkan karakter para tokoh yang jelas sekali tidak memakai dikotomi penjahat dan pahlawan. Tokoh dibuat dengan detil yang membangun karakter tipikal tapi tidak klise. Karakter keluarga Kim adalah tipikal keluarga miskin, keakraban mereka dengan kondisi kemiskinannya, sekaligus kemampuan mereka yang cepat dalam beradaptasi dengan menjadi tokoh tipuan high education menjadi suatu kondisi yang menyulitkan kita memberikan definisi.

Kepala keluarga Kim misalnya adalah karakter bersahaja yang kelihatannya pandai mensyukuri keadaan dan bisa menghargai orang lain dengan baik, justru mampu menjadi pembunuh. Di sisi lain, keluarga kaya justru tidak mencerminkan eksklusivitas kekayaan mereka. Sang istri yang polos justru jenis istri yang bisa ada di keluarga miskin manapun. Demikian pula dengan sang suami dan anak-anak mereka. Wajar sekali jika penonton kesulitan melakukan identifikasi.

Bagi saya Parasite adalah film drama psikologis yang mencekam, mengusik pemahaman tentang siapa orang baik dan sesiapa yang jahat. Kekuatan cerita dan karakter para tokoh adalah kunci sukses film ini. Sinematografinya sendiri digarap secara konvensional. Tak ada teknik kamera tertentu seperti yang akan kita dapati nanti saat ulasan film 1917. Pengambilan gambar juga tak dibuat terlampau dramatis atau mengedepankan sisi estetika seperti art film pada umumnya. Tapi bukankah film bagus memang pada dasarnya adalah cerita yang bagus. Bukan begitu?

Saya akan memberi nilai film ini 8,5 dari 10. Tapi catatan saya sekali lagi, ini bukan film favorit saya. Juga bukan jenis yang akan saya tonton dua kali. Tapi bagi Anda yang menyukai teror, atau film with adorable twist, Anda jelas akan terpesona dengan film ini.

Wallahua’[email protected]

 

 

 

 

Facebook Comments