Umurnya baru dua puluh tiga tahun dan saat ini ia kuliah di Universitas Brawijaya Malang. Beberapa waktu yang lalu ia terpilih menjadi salah satu perwakilan Pemuda Pelopor Kalimantan Selatan (Kalsel) yang akan mewakili Kalsel di Pemilihan Pemuda Pelopor Tingkat Nasional.

Gina Amalia Husna namanya. Ia berasal dari Kota Banjarbaru. Gina—begitu ia karib disapa—terpilih bersama dengan lima nama lainnya di lima bidang yang berbeda pula, yaitu: bidang pendidikan Risalatun Nahdia Tamrin dari Kabupaten Balangan; bidang pangan Agus Ridho Hidayat dari Kota Banjarmasin; bidang agama, sosial, dan budaya Anggi Pradana Irfansyah dari Kabupaten Kotabaru; bidang teknologi Muhammad Fitriadi dari Kota Banjarmasin; serta bidang pengelolaan sumber daya alam dan pariwisata Gina Amalia Husna dari Kota Banjarbaru.

Pemilihan kelima nama ini bukan tanpa alasan, sebab ada banyak sekali aspek yang dinilai dalam kegiatan seleksi pemuda pelopor tingkat provinsi tersebut, antara lain dari kepribadiannya, kepemimpinan, kreativitas, keuletan, hingga aspek dampak positif di lingkungan masyarakat.

Sebab itulah, ketika mendengar namanya disebutkan sebagai satu dari lima orang terpilih yang bakal mewakili Kalsel, Gina mengaku merasa terharu dan bangga di waktu yang bersamaan. “Jujur,” kata Gina, “Saya tak menyangka terpilih menjadi perwakilan Pemuda Pelopor Kalimantan Selatan.”

Pemilihan kata tak menyangka darinya barangkali sebentuk kerendahan diri, sebab mengingat apa yang telah ia lakukan sebelum terpilih menjadi salah satu dari perwakilan Kalsel di Pemuda Pelopor Nasional jelas bukan hal yang sederhana.

Gina mengakui Rumah Limbah BONKLA Borneo berperan besar dalam mengasah kreatifitas dirinya.

Terutama dalam pemanfataan limbah yang selama ini luput dari perhatian kebanyakan orang. “Iya, selama di sini saya mendapatkan banyak hal terutama skill dan kreatifitas,” tandasnya kepada tim redaksi.

Sebagai contoh, dalam satu tahun terakhir, ia menjadi ketua pemuda pelopor di Komunitas BONKLA Borneo untuk membantu membangun anggota yang ikut dalam komunitas atau masyarakat sekitar.


Komunitas Rumah Limbah Bonkla Borneo sendiri diketahui sebagai komunitas yang bergerak di bidang kreativitas dan keterampilan yang bertujuan untuk turut berkontribusi dalam pengelolaan sumber daya. Bonkla Borneo berfokus pada pemanfaatan limbah sebagai kerajinan dan benda guna yang memiliki nilai estetika dan nilai jual seperti: membuat kerajinan tempurung kelapa, bonsai kelapa (bonkla), meja dan kursi taman.

Belum lama ini oleh Kata Kreatif, yaitu program Kemenkarekraf dalam membangun ekosistem kreatif demi tercapainya ekonomi kreatif sebagai tulang punggung perekonomian nasional memilih Rumah Limbah Bonkla Borneo untuk dieskpose secara khusus, mewakili komunitas di Banjarbaru. Tak tanggung-tanggung dalam workshop yang digelar di Mess L. Kegiatan Rumah Limbah Bonkla Borneo mendapat pujian dari Menteri Sandiaga Uno dan disaksikan Wakil Wali Kota Banjarbaru, Wartono.

Wali Kota Banjarbaru, HM Aditya Mufti Ariffin juga sangat mengapresiasi kegiatan Rumah Limbah, terlebih olahan botol bekas yang disulap menjadi kursi meja yang ramah lingkungan. Olehnya orang nomor satu Banjarbaru itu menyeru untuk membeli olahan Rumah Limbah Bonkla Borneo. Sebagai informasi harga satu set (4 bangku dan meja) di bandrol mulai Rp. 600.000,00. Informasi dan pemesanan silakan menghubungi no. WA [email protected]

 

Facebook Comments