RETNO tidur dalam posisi bergelung—serupa janin dalam kandungan—di pinggir Kali Besole yang bacin dan bau tai. Ia merasa damai, seolah ada yang mendekapnya, dan itu nyata.

***

Api unggun belum juga padam usai digunakan menjerang periuk. Barangkali isinya telah ludes dilahap Sole dan Cahyo yang datang dalam keadaan perut lapar. Hanya sebuah singkong hasil curian dari pasar, namun rasanya sungguh nikmat bagi mereka yang sedari pagi belum makan.

Retno masih sibuk menggarit tanah dengan ranting pohon yang ditemukan hanyut di kali bawah kolong jembatan. Cahyo mendekat. Mengamati tingkah kawannya yang ia pikir kurang kerjaan itu. Sole mengikuti sesaat kemudian; menyilangkan kaki, memperhatikan gerak-gerik Retno, lalu cekikikan bersama Cahyo.

Gadis kecil itu tidak peduli apa yang dipikirkan kedua kawannya. Tangan mungilnya masih menggoreskan ujung ranting agar membentuk gambar yang diinginkannya. Tak jarang kakinya menghapus goresan yang telah dibuat karena garisnya melenceng atau tidak sesuai kehendak.

Sosok perempuan berbadan gemuk dan berkerudung seadanya. Gambar itu telah rampung. Retno tertawa girang. Ia melompat-lompat, mengelilingi gambarannya, dan tidur di atas gambar seukuran perempuan dewasa. Sedang kedua kawannya memandang sinis. Sole menekuk empat jarinya, sedangkan telunjuk ia biarkan terjulur. Lalu diletakkan di depan pelipisnya. Mulutnya berkomat-kamit membisikkan sesuatu pada Cahyo.

“Retno gila …! Ha-ha-ha ….” Tawa Cahyo pecah saat itu juga.

Retno bangkit. Berkacak pinggang sambil bersungut-sungut. Berkali-kali ia mendengus. Namun, tak ada gunanya mendebat mereka, pikirnya. Bagi Retno, gambar itu tetap ibunya, yang akan mendekap tubuhnya untuk memberi kehangatan. Retno sudah berkali-kali mengatakan kalau gambar itu akan menjelma menjadi manusia ketika malam hari. Tetapi, hanya seonggok gambar tak berarti kala siang hari. Sebab, Tuhan hanya akan meniupkan ruh ketika malam hari agar mampu memberi kehangatan pada tubuh-tubuh mereka yang gigil akan kasih sayang.

Ada kisah—setidaknya hanya dipercaya Retno—mengapa gambar itu mampu menjelma menjadi manusia. Ibunya semula hanyalah guratan ranting pohon. Lalu ruh manusia diciptakan Tuhan ketika anak-anak mulai tertidur. Ruh berbentuk percik cahaya terang. Cahaya kuning keemasan. Ruh itu kemudian turun ke dunia, lalu berdiam di tubuh ibu Retno hingga pagi hari, yang semula hanyalah guratan di atas tanah tak berarti. Tangan ibunya hanya sebuah garis lurus dilengkapi lekuk jari tangan—yang jika dilihat tidak membentuk jari  manusia sama sekali—yang akan meninabobokannya. Ruh itu membawa serta kelembutan dan kasih sayang sebagaimana sifat seorang ibu. Begitu kira-kira kisah yang dipercayainya.

Sesuai dengan usia Retno, sepuluh tahun lalu ada perempuan berseragam es-em-a menaruh bayi di bawah jembatan. Adalah Sarti, ibu Cahyo yang menemukan bayi Retno ketika ia sedang berak di bantaran kali. Sarti melihat sesuatu diombang-ambing arus sungai bersamaan dengan hanyut tai-nya.

“Tidak mungkin tai sebesar itu,” batinnya berkali-kali.

Sarti menepikan benda itu. Sosok bayi masih lengkap dengan kain bedung yang membalut tubuh mungilnya. Sarti memutuskan merawat bayi itu dan diberi nama Retno agar mudah diingat. Apalagi ia tak punya anak perempuan. Hanya Cahyo dan satu lagi adik Cahyo berjenis kelamin laki-laki yang semestinya sudah balita, namun lebih dulu dipanggil Sang Mahakuasa satu jam setelah dilahirkan. Tiga tahun kemudian setelah kematian adik Cahyo, Sarti menyusul putra keduanya itu akibat penyakit malaria.

Kalau Sole, tak ada yang tahu pasti asal-usulnya. Ada yang bilang bayinya dihanyutkan dari tempat jauh, lalu tersangkut limbah popok dan pembalut wanita di bantaran kali. Ada pula yang bilang Sole mengeriap bersama dengan ikan nila dan tawes, karena diduga titisan penunggu setempat untuk menjaga kali. Namun, dugaan yang paling masuk akal adalah nasib Sole tidak jauh beda dengan Retno: anak buangan yang hanya jadi aib bila dipertahankan. Maka, ia diberi nama Sole yang diambil dari kata ‘Besole’.

Retno kembali tidur bergelung serupa janin. Gadis berambut ikal agak gimbal karena tidak terawat itu, mendekap kedua kakinya erat-erat. Cahyo hanya bisa menggeleng-geleng, lalu menggelar kardus sebagai alas tidur dekat api unggun untuk menghalau dingin.

Berbeda halnya dengan Sole, ia justru menamati gambar ibu Retno. Sole juga ingin bertemu ibunya. Ia rindu ibunya.

“Kalau kamu kangen ibumu, buat gambarnya. Nanti dia akan memelukmu sepanjang malam,” ujar Retno meyakinkan.

Sole ragu-ragu. Namun, ia tetap mencobanya. Sole menggambar di samping gambar ibu Retno. Kendati tidak sebagus gambar Ibu Retno, Sole tersenyum puas. Berharap ibunya akan memeluk dan meninabobokan sepanjang malam.

Makin malam, jalanan mengerlip disepuh cahaya lampu toko dan kendaraan bermotor. Jauh di atas sana, ingar-bingar kehidupan kota memanjakan mata. Namun, bagi mereka yang berada di bawah garis kemiskinan, hanya bisa gigit jari sembari menahan kerontang perut.

Retno tidak peduli dengan kemegahan kota yang katanya istimewa itu. Ia hanya merindukan ibunya. Ia selalu menggambar ibunya di pinggir kali. Taktahu bagaimana rupa ibunya, siapa namanya, yang pasti Retno ingin sekali bertemu dengannya. Gadis kecil itu menggantungkan mimpi sepanjang malam di bawah atap sepuluh miliar. Ya, mereka menyebutnya demikian karena pernah melihat potongan berita di koran lama terkait rancangan anggaran pembangunan jembatan—tempat di mana mereka melepas penat.

Keesokan harinya Cahyo bersama kawanan anak jalanan di sekitar Kali Besole lari terbirit-birit menuju kolong kembatan. Namun, bukan karena kejaran Pol PP atau tukang sayur yang kebobolan lantaran dagangannya kerap dicuri oleh mereka. Akan tetapi, Cahyo ingin segera menemui Retno untuk melakukan rapat mendadak. Ia membawa kabar penting untuk segera dicarikan solusi.

“Sole tidak ada di sepanjang kali maupun jembatan. Tadi aku dengar ada jeritan, tapi tidak jelas karena suara dangdut dari Toko Wak Mar lebih keras dibanding jeritan itu,” Cahyo memberi laporan. Napasnya serupa sapi mendengus, namun tetap dipaksakan bercerita.

“Kamu sudah tanya Gombloh belum?”

Retno kenal laki-laki bertato tengkorak bertubuh gempal itu, karena sering mengincar lubang kemaluannya. Keperawanan Retno telah hilang saat usianya tujuh tahun. Laki-laki beruntung itu tidak lain ialah Gombloh. Ia preman di sepanjang Kali Besole yang kerap memalaki pedagang pasar dan kaki lima, pemulung seperti mereka juga tidak luput dari incarannya.

Cahyo menggeleng lemah. Tidak beranilah ia lantaran trauma uang hasil memulung diambil paksa Gombloh.

“Ya sudah, ayo kita cari,” Retno mengambil alih pimpinan. Mengoordinasi jalannya blusukan ke gang-gang dan pasar.

Kawanan anak jalanan itu memeriksa tiap sudut pasar. Namun, tak ditemuinya bocah berbadan kerempeng itu. Pedagang pasar hingga orang-orang yang sedang lalu-lalang ditanyai. Hasilnya tetap nihil.

Sore menjelang malam, Gombloh menghampiri kawanan anak jalanan itu yang tengah duduk di gubuk bekas pangkalan ojek. Badannya besar dan berwajah garang. Beberapa anak-anak terlihat menciut karena ketakutan.

“Nyari siapa?”

“Sole, Bang.”

“Dia dibawa mobil Jeep, tadi Abang lihat.”

Retno terbelalak. Ia pernah mendengar desas-desus tentang mobil Jeep kerap digunakan menculik anak-anak. Organ tubuhnya akan diambil dan diperjualbelikan. Rapat terbatas segera dilaksanakan. Namun karena hari makin gelap, mereka memutuskan akan melanjutkan pencarian Sole esok hari.

Esok, esok, dan seterusnya belum ada kabar keberadaan Sole. Entah bagaimana kondisi Sole, apakah masih bernyawa atau sudah dicincang-cincang dagingnya oleh penculik, tak ada yang tahu. Tetapi yang pasti pencarian terpaksa harus dihentikan.

Lima bulan berlalu tak ada perubahan berarti dari Retno dan Cahyo. Mereka masih memulung, sesekali memancing pakai umpan tai dicampur lontong basi di Kali Besole. Kalau tidak dapat ikan sama sekali mereka akan mencuri singkong di pasar. Retno hanya tinggal bersama Cahyo. Di bawah atap sepuluh miliar mereka bertahan hidup, tanpa Sole.

Sore itu, debit air Kali Besole naik dua kali lipat karena setelah diguyur hujan. Saat itu pula kuping Cahyo berdenging. Ada suara yang mengganggu telinganya.

“Cahyo … Retno ….”

Suara dari atas jembatan makin menggema di kuping Cahyo. Sedang Retno hanya asyik menggarit tanah menggambar ibunya. Cahyo memincingkan mata. Menamati jembatan untuk mencari sumber suara. Orang di atas jembatan tampak melambaikan tangan.

“Woi … Sole …!” teriak Cahyo sesaat kemudian hingga mengagetkan Retno.

“Itu Sole, Ret, itu Sole sudah ketemu,” lanjut Cahyo.

Tangannya menunjuk-nunjuk ke atas jembatan. Matanya berbinar sambil memamerkan deretan gigi kuning. Kedua sahabat itu langsung menuju atas jembatan. Mereka tidak sabar bertemu sahabatnya yang sudah berbulan-bulan hilang. Cahyo menghamburkan diri hendak memeluk Sole, namun dua orang yang mendampinginya melarang.

“Jangan sentuh anak saya, cukup di situ aja,” kata wanita berkemeja putih, bersepatu tinggi, dan badannya harum.

“Mereka orangtuamu, Le?” Retno menyelang. Ia amati perubahan penampilan Sole. Bajunya necis, rambutnya klimis, dan memakai sepatu pula. Bokongnya lumayan berisi, tidak tepos seperti dulu. Sole mengangguk. Mereka orangtua Sole yang baru. Ia diangkat menjadi anak lantaran orangtua barunya tidak memiliki keturunan.

Persuaan ketiga sahabat itu tidak berlangsung lama. Hanya sebatas salam jumpa lalu berpisah lagi. Usai perjumpaannya dengan Sole, Retno bertambah antusias menggambar ibunya. Retno bertambah yakin kalau gambaran itu mampu menjelma menjadi manusia sungguhan. Padahal, Sole hanya sekali menggambar, tetapi langsung dipertemukan dengan ibunya. Ia ingin nasibnya seperti Sole, bisa bertemu orangtua atau setidaknya ada ibu yang mau mencurahkan kasih sayang untuknya. Sepanjang malam Retno mengusap pipi ibunya di bantaran Kali Besole. Sesekali dicium seolah itu pipi sungguhan.

“Sole beruntung,” batinnya berkali-kali.

Bertambah hari Retno makin didera rindu dengan ibunya. Ia masih tidur dalam posisi bergelung. Berharap esok ibunya akan datang mencarinya. Orangtua Sole ikut prihatin. Mereka sering membawakan makanan untuk Retno dan Cahyo. Namun, makanan itu tidak disentuhnya sama sekali hingga basi. Retno hanya ingin ibu, bukan yang lain.

Malam tiba. Retno bersiap menggarit tanah menggambar ibunya. Sial, ketika gambar hampir jadi, tiba-tiba hujan turun. Air hujan menghapus jejak-jejak guratan tubuh ibu Retno. Ia menangis sesenggukan. Cahyo memanggil-manggil Retno untuk berteduh. Akan tetapi, Retno sama sekali tidak menghiraukan. Ia mendekap lututnya di bawah hujan deras.

Orang-orang penghuni bantaran Kali Besole berkumpul di atas jembatan. Mereka prihatin pada Retno. Betapa ia amat merindukan ibunya. Aroma tai menguar dua kali lebih bacin dari biasanya. Hal itu tidak membuat Retno beranjak. Gombloh mencoba menggendong Retno untuk menjauh dari bantaran kali. Sial, upayanya tidak berhasil. Retno menendang kemaluan Gombloh dan memilih tetap berada dalam dekapan ibunya.

Guratan gambar ibu Retno telah luntur tanpa jejak. Ranting yang biasa digunakan menggarit juga telah terbawa arus yang turut menghanyutkan gombal dan popok-popok, barangkali. Namun, Retno belum beranjak karena sebentar lagi Tuhan akan meniupkan ruh untuk ibunya dan ia akan lelap dalam dekapannya.

***

Sepanjang hari Retno masih tinggal di bawah atap sepuluh miliar. Memulung bila siang hari dan menggambar ibunya kala malam tiba. Tidak ada perempuan datang mencari anak, sebagaimana dilakukan orangtua Sole kala itu. Cahyo tidak lagi mengejek Retno seperti biasanya. Ia biarkan sahabatnya itu melakukan sesuatu yang disukainya. Cahyo tidak ingin mematahkan harapan Retno yang rindu dekapan ibu. Biarkan guratan ranting pohon membersamai lelapnya, yang telanjur gigil akan kasih sayang seorang [email protected]

Pacitan, Desember 2021

Facebook Comments