Siang itu, Suasana Neka Museum sedang ramai oleh para peserta panel diskusi beberapa aktivis dari beberapa belahan dunia. Saya diingatkan kembali oleh Tiara Mahardika bahwa akan ada jadwal Interview dengan Gurmehar Kaur (GK), mahasiswi berusia 21 Tahun yang namanya melambung pasca bentrokan sengit di sebuah perguruan tinggi Universitas Delhi.

Ayah Gurmehaur Kaur, Martir Kargil, warga India yang mati dalam konflik India-Pakistan. Ia menulis buku dan mempublikasikan buku berjudul “Small Act For Freedom” semacam kumpulan esai yang menyuarakan tentang hak dan kebebasan berpendapat. Majalah TIME menyebutnya sebagai “The Next Generation Leader”. Ia menjadi titik fokus debat nasionalisme dan menghadapi persidangan media sosial atas aksi-aksinya yang terbilang berani di kalangan perempuan muda.

Guremehar Kaur menyelesaikan panel diskusi kemudian menuruni tangga menuju Green Room. Tempat untuk bersantai sekaligus tenang untuk melakukan obrolan ditemani segelas kopi dan air mineral. Kami bersapa dan saya bertanya kepada Tiara Mahardika, konsultan Media berbahasa Indonesia UWRF18, yang telah memediasi pertemuan kami.

“Apakah akan ada interpreter mendampingi kami berdiskusi?”

“Nggak, ada mas!”

“Apakah dia lancar berbahasa Inggris?”

“Tentu saja. Dia mahasiswi Sastra Inggris!”

Damn! pertanyaan bodoh. Pada bagian itu saya kurang teliti, dan tidak mempersiapkan pertanyaan sama sekali. Kami bertegur sapa, berkenalan, dan saya menanyakan bagaimana perasaannya setelah tiba di Indonesia, terkhusus di Ubud.

“Tentu sangat menyenangkan. Ubud tak bedanya India secara umum. Dengan segala budaya hindu yang masih terjaga dan mengikatnya erat. Hampir setiap pagi saya mendapati orang-orang bersembahyang, bunga-bunga yang bertebaran di jalanan, dengan segala patung-patung dewa di setiap pandangan. Di sini saya merasa seperti di kampung halaman,” katanya dengan gerak kepala yang khas.

Sulit membayangkan bahwa dewasa ini, GK dicap sebagai “anti-nasional” oleh sebagian besar negara. Saya kira ini juga menjadi refleksi atas situasi politik yang terjadi di Indonesia sekarang ini. Meski hal tersebut tidak saya sampaikan kepadanya.

GK mendapati dirinya berada di poros badai politik tak kenal ampun yang berkutat pada nasionalisme, anti-nasionalisme, hak kebebasan berbicara dan berekspresi. Saya tanyakan kepada GK, apa yang mendasarinya melakukan aksi tersebut, menyuarakan, menulis, membuat video di internet sebagai bentuk penyuaraan kaum perempuan mendobrak aksi perdamaian terlebih terhadap konflik India-Pakistan. Pada Februari 2017, videonya viral.

“Saya membela hak martabat keluarga. Ayah saya yang mati oleh perang. Peluru sangat nyata membunuh Ayah. Peluru kebencian semakin memperdalam tekad saya untuk menyuarakan kebebasan dan membela orang-orang yang terdiskriminasi,” tegasnya memutar tangan dengan pandangan bola mata biru yang tajam.

Ketika itu pula, sosial media diributkan atas atas foto seorang mahasiswa Universitas Delhi yang telah memosting pesan tentang sayap mahasiswa Rashtriya Swayamsevak Sangh- Akhil Bharatiya Vidya Parishad (ABVP). Ada perbedaan pendapat antara dua kelompok serikat mahasiswa terkemuka – ABVP (Persatuan Pelajar Seluruh India) dan AISA (Mahasiswa Sayap Partai Komunis).

Singkatnya, Murid-murid Universitas Ramjas merencanakan seminar yang disebut Voices of Dissent dan pembicara utama untuk acara itu adalah mahasiswa JNU Umar Khalid.

“ABVP keberatan dengan khotbah Khalid tentang kebebasan berbicara dan berekspresi. Alasan mereka Khalid terlibat dalam insiden yang menyebabkan Seseorang menuduh saya memanfaatkan kematian ayah untuk popularitas. Saya mendapatkan hantaman keras dari pihak kampus yang juga diback up oleh militer. Beberapa politikus India dengan sangat jahat mengatakan ayah saya akan sangat sedih jika dia harus hidup dan melihat saya melakukan pembelaan seperti sekarang ini. Saya menyuarakan perdamaian dan melakukan atas penindasan terhadap kebebasan bersuara di India. Dan saya tidak dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang dibungkam!” tegasnya berapi-api. GK terlihat sangat marah. Saya seolah melihat Katrina Kaif berakting di hadapan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Saya meresponnya dengan kedua tangan seperti menahan dan berucap. “Slowly,  just relax. I don’t want our chat to be an interview as the reporter with the resource person. Make me just a friend to discuss, I will filter which ones should be published and which do not.” GK tertawa keras dan menahan giginya yang rapi bersembunyi dibalik punggung tangan.

Meski begitu, saya ingin sampaikan bahwa GK, hampir mundur pada pertengahan menghadapi kasusnya. Namun semakin kondisi menekannya, ia mengaku semakin kuat mempertahankan tekadnya. Internet melambungkan namanya dan berubah menjadi perdebatan nasional, memberi makan surat kabar, saluran televisi, dan publikasi online selama berminggu-minggu. Tak tanggung-tanggung, GK hampir dirangkul para politisi, aktor, dan olahragawan yang menimbang-nimbang tentang kepopulerannya.

Saya pikir, oborolan tidak menjadi asyik jika terus membahas soal konflik. Saya tanyakan tentang bukunya “Small Act For Freedom”. Ia memaparkan buku tersebut berisikan cerita yang bermula dari neneknya datang India dari Lahore pasca partisi percintaan angin puyuh antara orang tuanya, dari pemakaman ayahnya hingga pengalamannya yang mengerikan sejak hari-hari aktivisme mahasiswanya.

“Small Act For Freedom merupakan sekumpulan tulisan mengisahkan kebebasan terlebih konflik yang terjadi antara Pakistan-India. Kisah tiga generasi wanita lajang yang kuat dan penuh gairah dalam satu keluarga. Wanita yang telah menghadapi dunia dengan cara mereka sendiri,”

Sekumpulan esai dalam tersebut dibentuk dengan struktur narasi yang tidak lazim. Isinya merambah secara elegan antara masa lalu dan sekarang, mencakup tujuh puluh tahun dari tahun 1947 hingga 2017.

“Ini tentang keberanian, tentang ketahanan, kekuatan, dan cinta.”

Bagaimana tentang Bollywood? Apakah dia tidak tertarik masuk ke dalam Industri Film India yang besar itu. Saya bilang, Bajrangi Baijaan memunyai pesan yang sama seperti yang dia suarakan. Dan Bollywood memunyai fans dengan jumlah fantastis di Indonesia.

“Maksudmu beraksi di depan kamera?”

Saya menaikkan kening, GK tertawa lagi. Dan menggeleng. Ia tahu Indonesia menjadi konsumen aktif terbesar di Asia soal industri kreatif terutama film yang diproduksi negaranya. Yang padahal pada regulasi hukum, film mereka tidak bisa tembus ke distribusi resmi Indonesia.

“Belum. Saya tidak menginginkannya.”

Lantas saya tanyakan, bagaimana perasaaannya ketika Shahrukh Khan memeresentasikannya pada Ted talks India, salah satu media ternama India yang menyuarakan kebebasan berpendapat, pada Desember tahun lalu.

“Tentu itu menjadi hal membahagiakan. Diluar aksinya sebagai aktor film, dia seorang bapak yang bersahaja, baik, dan orangnya sangat cerdas. Saya diberikan kebebasan ruang berbicara di delik publik. Dia  memoderatori langsung acara tersebut. Sangat menyenangkan.”

Dalam acara itu, Shahrukh Kahn bilang, apa yang bisa dilakukannya dengan kekuatan kata-kata, apakah ada yang bisa melindunginya dengan kata-kata?

“Kata-kata bisa lebih tajam dari senjata. Bisa sebagai penyebar kebencian atau cinta? Dan keputusan memilih ada pada dirimu sendiri. Rangkaian kalimat dalam sebuah tulisan memiliki kekuatan untuk menjadi lunak, bisa sebagai bunga, atau setajam duri. Kata-kata bisa bisa membuat seseorang bahagia atau melukai seseorang lainnya,”

Buku Small Act For Freedom menjadi debut Gurmehar Kaur dalam jajaran penulis India yang berisi tentang keganasan cinta, kekuatan keluarga, dan tindakan kecil yang menghasilkan revolusi besar. Dia duta besar untuk Postcards for Peace, sebuah organisasi amal yang membantu menghilangkan segala bentuk diskriminasi. @

 

 

 

 

Facebook Comments