SUDAH puluhan tahun ia hidup sendirian di pondok bambu yang berdiri di antara dempetan batu-batu kolansing, tepat pada barisan ilalang dan banjar pohon rukam di lereng Bukit Montorra. Pondok kayu itu bercat biru dengan pintu permanen terbuat dari kayu nyamplung. Sedang di halaman pondok itu terdapat balok kayu, batu cadas, andesit, logam, tulang, tanduk, dan tonggak besar sebagai bahan untuk membuat patung. Sedang di dalam pondoknya terdapat alat-alat membuat patung seperti gergaji, bor, pahat, lem, dan alat lain untuk mematung jenis logam dan batu.

Di pondok itu kerap terdengar bunyi patukan besi mengeruk kayu atau batu terutama saat pagi dan sore hari. Bunyi itu seperti bahasa bukit yang berbisik ke lembah. Bunyi tiktok yang lahir dari tangan lelaki penatah ulung berkulit cokelat sawo matang. Keseharian lelaki itu tidak lain kecuali membuat patung beraneka bentuk sesuai pesanan. Di  pondok itu ia melawan sepi dengan patung-patung hasil pahatannya. Patung-patung itu ada yang berbentuk perempuan telanjang, binatang, bunga, para pahlawan, dan patung legenda seperti naga, burung rajawali, hanoman, dan lain-lain.

Teknik yang ia gunakan untuk membuat patung dengan bahan bertekstur keras adalah dengan teknik pahat, kecuali yang terbuat dari logam. Sementara untuk membuat patung dengan bahan keras yang terbuat dari logam seperti perunggu, kuningan, emas, perak, tembaga, besi bisa dilakukan dengan teknik cor dan tempa. Semua itu ia lakukan sendirian tanpa pekerja. Entahlah, ia manusia apa yang selalu memuja kesendirian.

Menurut kabar yang tersiar, ia sengaja hidup bertetangga sepi demi kepaduan intuisinya saat membuat patung. Sepertinya ia merasa terhibur dan naluri seninya bangkit ketika angin bukit menggelesar, ketika kicau burung terlantun, dan ketika bunyi penumbuk laru terdengar dari arah pedesaan. Menurut cerita dari Man Mahmud, ia hanya menerima tamu antara jam sepuluh sampai jam dua belas siang. Di luar jam itu, ia tak mau diganggu oleh siapa pun terlebih ketika ia memahat patung. Kalau malam hari, bila tidak membuat patung, biasanya ia turun bukit, berkunjung ke rumah-rumah warga sekadar melepas lelah dan menyegarkan pikiran. Demikian ia hidup dengan lebih senang menyendiri demi melahirkan karya yang bagus di lereng bukit yang kaya oksigen itu. Menurut kabar, meski hidup sendirian namun ia tidak kesepian karena patung-patung hasil karyanya selalu bercakap dengannya.

“Patung-patung yang dibuat Sarkawi ada yang bisa berbicara seperti manusia. Tapi patung-patung itu tidak dijual, ia hanya ditaruh di pondoknya,” tutur Man Mahmud kepadaku suatu hari entah di mana ia tahu. Hanya saja aku sedikit percaya karena Man Mahmud sering mengambil kayu ke Bukit Montorra dan melintas di depan pondok lelaki pemahat patung itu.

#

Empat puluh tahun Sarkawi tidak mau menikah meski selalu dibujuk oleh keluarganya, baru kali ini ia mengangguk di depan Man Mahmud ketika ia dibujuk untuk kesekian kalinya. Akulah wanita pertama yang akan ia nikahi meski ia sudah tahu; aku janda tua enam anak yang sudah enam kali bercerai dengan enam suamiku. Harapanku, Sarkawi adalah lelaki ketujuh yang abadi jadi suami terakhirku.

Aku dan Sarkawi tak saling mengenal sebelum resmi punya ikatan. Aku dengannya hanya sebatas tahu tanpa pernah bicara. Ia mungkin hanya pernah melihatku sepintas. Aku pun melihatnya hanya beberapa kali ketika ia ngopi di warung Bi Yam saat malam hari. Namanya memang kesohor ke mana-mana sebagai pemahat patung ulung. Dulu teman-temanku ketika masih gadis hampir semuanya bermimpi untuk dinikahi si pemahat patung itu. Hanya saja ia lebih memuja kecantikan patung buatannya daripada mengagumi wajah gadis-gadis desa. Sehingga segala godaan dan rayu gadis-gadis cantik tidak ada yang mempan.

Kala itu ia tidak memahat patung meski cuaca sore sangat mendukung dengan getar angin yang menyisir daunan. Ia duduk di kursi kayu yang ada di teras pondok bambunya. Pakaiannya demikian rapi dengan sarung kotak hijau, hem biru, dan peci putih. Seraya mengisap selinting kretek dan memainkan asapnya ke udara. Di mejannya terdapat tiga buah cangkir berisi kopi. Sepertinya ia memang sengaja mempersiapkan pertemuan pertamanya antara dia, aku, dan Man Mahmud.

Setelah mempersilakan duduk, ia mulai bercakap banyak hal dengan Man Mahmud tentang patung. Sambil tekun ia lemparkan lirik usil ke arahku, tentu setelah ia bercerita tentang segudang peristiwa yang ujungnya untuk menampakkan kehebatan dirinya. Aku ikuti alur ceritanya. Aku pun tertawa, memperhatikan dengan lebih tajam atau mengangguk sesuai tuntutan keadaan ketika cerita memang menuntut sebentuk ekspresi. Suasana senja yang cerah berpadu angin lirih lereng bukit yang dingin membuatku kerasan dan aku nikmat hidup di antara puluhan patung dan bahan bakunya seperti kayu, andesit, logam, dan tanduk yang menyesaki halaman. Terakhir dari pertemuan itu ia menoleh ke arahku. Matanya menatap tajam, lalu tangannya diangkat dan menunjuk ke arahku.

“Kau patungku yang sesungguhnya!” pujanya padaku di sela sebentuk senyum  lembut. Man Mahmud tertawa. Aku menunduk. Tubuhku seolah ringan mengambang ke langit senja.

#

Sudah dua purnama melintasi bubungan pondok kayu ini. Tiga puluh enam hari aku hidup bersanding dengan Sarkawi. Terbiasa pulas di ranjang yang di sampingnya dipenuhi patung-patung kayu . Bergerak sebatas mengatur badan dengan hati-hati dari beranda ke kamar, lalu ke dapur, oleh sebab dempetan patung-patung yang menyesaki ruangan pondok tempat tinggal kami hanya menyisakan gang seukuran badan saja. Sudah tiga puluh enam hari aku berpisah dengan enam anakku yang ditinggal bersama ibu. Aku memang sengaja tidak membawa anak-anakku agar Sarkawi merasa nyaman menikmati masa pengantin baru. Walaupun pada kenyataannya malah ada yang mengganjal dalam kehidupan rumah tangga kami. Ia tidak pernah menggauliku. Bila tidur seranjang, ia akan tidur membelakangi tubuhku dan akan menutupi kepalanya dengan bantal.

Sudah berkali-kali aku menggodanya agar ia mau menggauliku, tapi ia tidak merespon. Aku mulai curiga kalau ia punya kelainan. Usaha selanjutnya, aku mencoba berpenampilan lebih eksotis, siapa tahu ia tak tertarik karena selama ini aura kecantikanku kurang. Tapi lagi-lagi ia tak merespon apa-apa. Ia tetap tidak menggauliku. Dugaku semakin yakin kalau Sarkawi benar-benar impoten, ketidakmauannya untuk menikah sejak dulu mungkin karena ia memang tidak jantan.

“Hah!” kulepas napas keras-keras sebagai tanda kekesalan. Kutoleh ke halaman, tampak ia duduk menghadap ke arah barat. Sepasang tangannya demikian telaten menatah setiap lelukan kayu warna cokelat. Balok kayu itu hampir menyerupai wajah perempuan yang memakai konde. Ia tersenyum, mungkin puas melihat karyanya yang setengah jadi. Kerut pipinya yang tua melentang tiga garis dari bawah mata ke sudut bibirnya, menjelaskan hari-harinya yang senyap karena dihabiskan hanya kencan dengan kayu dan logam.

“Hm, sungguh gampang lelaki itu memaknai pernikahan. Istri hanya diberi uang tak pernah disentuh. Ah, apa artinya,” gumamku seperti menancap ke ruang dada. Aku merasa tak punya suami. Sarkawi tak jauh beda dengan patung-patung buatannya.

Kemudian aku menggunakan cara berikutnya. Saat pagi hari sehabis kami sarapan, sebelum Sarkawi memulai memahat kusempatkan untuk bertanya. Matahari membias kekuningan bertebar di daun rukam. Ia duduk di kursi menikmati selinting rokok sambil mengamati patung-patung setengah jadi yang berjajar di halaman. Aku pun duduk di kursi sebelahnya.

“Maaf, Mas! Ini saya mungkin lancang, tapi kalau tidak ditanyakan, akan menjadi penyakit di hati saya. Bolehkah saya bertanya satu hal?” kilahku seraya kudekatkan wajahku ke wajahnya. Ia menoleh ke wajahku, tangan kanannya mematikan rokok ke bibir asbak.

“Boleh, apa pertanyaanmu?”

“Kenapa Mas Sarkawi tidak pernah menyentuhku? Kita menikah sudah lebih satu bulan, Mas.”

“O, hehe. Ya kan nikah tidak harus begitu,” jawabnya enteng sambil berdiri, meraih gergaji dan bergegas ke halaman. Kuterjang sebuah balok di dekat kursi. Ia hanya menoleh sebentar dan melanjutkan pekerjaannya. Enteng!.

#

Genap dua bulan pernikahan kami. Apa artinya nafkah zahir dengan uang yang banyak sementara ia tak memberi nafkah batin. Ini adalah cara terakhir yang kulakukan. Malam yang dingin tak membuatku lelap, kecuali berpura-pura memejamkan mata. Hatiku bergejolak. Bulan tampak muram di celah susunan bambu pondok kami. Ia hanya membolak-balikkan tubuhnya di sampingku.

Jam satu dini hari aku pura-pura pulas. Ia perlahan turun dari tempat tidur, bergegas membuka pintu dan keluar pelan-pelan melewati dempetan patung-patung tanpa menimbulkan bunyi apa-apa. Sigap kususul langkahnya, aku mengikutinya lebih pelan dari dia. Ia menuju belakang pondok. Aku menghentikan langkah dan mengintipnya dari sisi patung besar yang bersandar di samping pondok.

Ia menoleh ke sekitar, setelah diyakini tak ada orang ia menanggalkan seluruh pakaiannya. Mengambil sebuah patung berbentuk perempuan dari belakang pondok. Patung itu ia baringkan di tanah, lalu ia meniduri dan mencium patung itu dengan napas mendengus dan keringat mengkilap dipendar cahaya bulan. Meski tidak cemburu, tapi hatiku sakit. Pelan air mataku menetes, tapi entah ini tangis apa.

“Diberi uang tapi tidak diperlakukan secara layak adalah patung yang melengkapi patung-patung yang telah ada di negeri ini,” gumamku sedih.@

Dik-kodik, 2022

Facebook Comments