APA yang kita harapkan ketika membaca sebuah novel dengan latar peristiwa bersejarah lokal daerah kita? Sebagian besar kita tentu mengharapkan novel itu melarutkan kita dalam nuansa lokalitas dengan detil yang akan terasa akrab. Ada bahasa daerah yang menyelip di antara narasi atau percakapannya, ada tokoh-tokoh dengan karakter yang sepertinya sudah lekat dengan keseharian kita, ada latar yang kita kenali bagian-bagiannya.

Namun, membaca novel May, kita bukannya akan memasuki dimensi lokalitas Banjar akhir 90-an, kita justru memasuki sebuah konstruksi yang asing namun terasa akrab, kita pernah dapati dalam cerita-cerita fiksi lain di berbagai belahan dunia. May tidak membawa kita memasuki lokalitas Banjar akhir 90-an dengan konflik sosial yang traumatis, namun justru peristiwa dan keadaan lokal itu dibawa ke dalam nuansa global. Sebagian orang yang mencari-cari kelokalitasan mungkin akan kehilangan pijakan, namun bagi saya, novel ini justru telah sukses melakukan dekonstruksi terhadap cerpen bermuatan lokalitas Banjar pada umumnya.

May bercerita tentang Kin, seorang penulis novel yang tinggal di Jakarta. Kin datang ke kota Banjarmasin tahun 1998, setahun setelah peristiwa kerusuhan Jumat Kelabu tahun 1997 yang menelan ratusan korban jiwa. Ia mencari inspirasi untuk novel barunya. Kin menginap di lantai dua sebuah kedai atas ajakan May(a), gadis pelayan kedai. Di kedai itulah tiap malamnya Kin bertemu sejumlah orang yang cerita hidupnya diceritakan oleh May. Peristiwa hidup mereka terkait dengan peristiwa 23 Mei 1997 itu.

Novel May memiliki cerita berbingkai karena diselingi cerita fiktif yang ditulis Kin mengenai orang-orang itu di dalam naskah novelnya. Pembaca juga dikenalkan pada tokoh Pak Gun, pemilik kedai yang menurut anggapan Kin adalah lelaki mesum yang menginginkan May untuk dirinya. Di lain pihak, Kin sendiri juga menginginkan May. Pertanyaan yang mencengkeram pembaca adalah apakah yang diceritakan May tentang orang-orang itu dan tentang dirinya sendiri benar, atau Kin telah dimanipulasi.

Dalam novel ini, sebagai judul dan tokoh utama, May digambarkan misterius, pendiam –atau kita sebut saja tidak cerewet, tertutup, bukan tipe yang suka bergaul, dan manipulatif. Hal menarik lainnya tentang May adalah untuk perempuan Banjar yang hanya tamat SMP, antusiasmenya terhadap buku begitu tinggi.

May, pada kadar yang agak terlampau, mengingatkan saya pada Amy, tokoh utama di film Gone Girl. Amy sengaja menghilang sebagai upaya manipulasi agar suaminya dituduh membunuhnya. Ketika melihat suaminya tampak begitu kehilangan dirinya dalam sebuah wawancara media, ia mengubah rencana. Ia membunuh mantan pacar yang menampungnya selama menghilang lalu kembali pada Nick, suaminya, seolah-olah mantan pacarnya itulah yang mencoba membunuhnya.

Pada periode yang lebih lawas mungkin kita teringat pada Catherine Tramell, perayu manipulator dalam film Basic Instinct. Demikianlah, perempuan manipulatif dengan tingkat kecerdasan di atas rata-rata sering kita temui berseliweran dalam film-film Amerika. Kita boleh curiga itu adalah representasi budaya mereka yang terbilang akrab dengan kesakitjiwaan. Dalam sejarah, mereka juga punya Belle Gunness yang kisah hidupnya baru saja saya baca di situs National Geographic dari sebuah tautan yang dibagikan seorang teman di laman Facebook. Perempuan ini membunuh banyak lelaki karena menginginkan uang mereka. Ia mengiming-imingi lelaki-lelaki itu dengan pernikahan dan rumah tangga yang bahagia. Ia adalah perempuan pembunuh berantai terkenal di masanya, awal abad 20 di La Porte, Minnesota.

 Kelaziman seorang perempuan cerdas manipulatif terlebih berorientasi psikopatik ala Barat jelas bukan gambaran yang bisa dilazimkan ketika kita membicarakan perempuan Banjar. Secara umum kita mendapati perempuan Banjar sebagai perempuan yang bukan tipe pendiam -pada dasarnya mereka suka berbicara bahkan dengan lantang, mereka terbuka nyaris transparan sehingga jauh dari  kesan misterius, pandai berdamai dengan kondisi, komunal, dan cenderung tidak manipulatif alias apa adanya (saya mendapatkan sejumlah ciri ini dari sebuah jajak pendapat kecil-kecilan).         

Karakter May yang misterius, tertutup, dan manipulatif jelas sekali bertolak belakang dengan stereotip perempuan Banjar pada umumnya. Saya melihat bagaimana pengarang membangun karakter May ini sebagai suatu gagasan yang dekonstruktif. Pengarang membawa keluar May dari karakteristik ‘endemik’nya lalu menyatu dalam kemungkinan bangunan karakter yang lebih mendunia. Barangkali pengarang ingin menyampaikan bahwa perempuan Banjar bisa menjadi sesiapapun dalam hidupnya, bahwa bahkan seorang perempuan hanya tamat SMP bisa meringsek masuk dalam dunia maskulin, bertahan di dalamnya tanpa kehilangan jati diri dan prinsip.

                Nah, konstruksi pengarang atas kemampuan May beradaptasi bahkan mengambil kontrol atas dunia patriarki yang melingkupinya merupakan satu hal yang dari sudut pandang saya sebagai seorang perempuan, sebagai suatu hal yang perlu diapresiasi atas novel ini. Menjadikan tokoh perempuan berada di atas angin atau paling tidak sejajar di atas para lelaki tak banyak ditemukan dalam diri penulis lelaki. Meski demikian, konstruksi ideal May sebagai perempuan agak timpang dengan konstruksi perempuan lainnya di buku ini. Perempuan setengah baya yang suaminya kawin lagi itu, atau perempuan muda yang dijadikan istri muda oleh pengusaha batubara tak memiliki banyak ruang untuk membela dirinya. Pengarang tidak memberikan banyak kesempatan bagi mereka untuk menjadi lebih berdaya.

Kembali pada dekonstruksi, tokoh-tokoh lain dalam novel ini tak kalah dekonstruktif. Perempuan setengah baya yang mencari cinta pada lelaki-lelaki muda, pembunuh bayaran, lelaki tua yang urung bunuh diri, pemuda berdasi yang tak beres ingatannya, bahkan lelaki pemilik kedai. Mereka tak akrab dalam pemahaman kita tentang urang Banjar, ditambah kebiasaan mereka berkumpul di  sebuah kedai menjelang larut malam.

Pengarang juga membuat kita menerka-nerka, apakah tokoh-tokoh ini nyata sebagaimana gambaran yang disampaikan May dan narasi yang ditulis oleh Kin berdasarkan gambaran May, atau gambaran tokoh-tokoh yang terasa asing ini justru berasal dari imajinasi May di mana ia mungkin saja terinspirasi dari tokoh-tokoh fiksi yang ia baca. Apapun kebenaran fiksinya, tetap saja pengarang telah menawarkan alternatif lain tentang urang Banjar. Bahwa urang Banjar juga bisa disisipi atribut kosmopolitan dengan segala persoalan yang juga kosmopolit.

                Dalam novel ini kita juga takkan menemukan set dan peristiwa yang mengingatkan kita pada tempat-tempat yang familiar untuk kita di Banjarmasin. Penginapan di tepi pelabuhan tempat May bekerja dan tinggal dapat kita bayangkan berada di kota pelabuhan Dorset, UK; Long Beach, USA; atau mungkin Surabaya. Gambaran tentang kedai di malam hari atau pembunuhan dengan senjata berperedam benar-benar melanglangbuanakan ingatan saya melampaui Banjarmasin. Meski demikian kita akan tetap diikat dalam satu konlifk yang sangat lokal, dan itu bukan peristiwa kerusuhan Jumat Kelabu di mana orang-orang dengan nuansa global itu berkutat di dalamnya, namun persoalan (lagi-lagi) batubara yang mengikat jalinan cerita antara mereka. Batubara, dan bukan kerusuhan Jumat Kelabu-lah substansi lokalitas dalam novel ini. Pengusaha batubara yang kawin lagi, kekuasaan yang mengakar karena batubara, itulah lokalitas sebenarnya.  

Meski May dilatarbelakangi peristiwa kerusuhan Jumat Kelabu 1997, namun saya tidak menemukan cerita berpusat di sana. Keseluruhan novel bisa saja dialihkan pada set peristiwa lain di kota lain, dan itu tidak mengurangi novel ini dari sisi apapun. Hal ini menandakan peristiwa Jumat kelabu cenderung menjadi montase, bukan substansi. Hal lainnya yang menunjukkan kecenderungan montase itu adalah bahwa set yang dibuat, baik tempat maupun waktunya, bahkan seperti tidak terpengaruh dan terdampak apapun dari peristiwa besar yang terjadi di Indonesia pada tahun yang sama: Reformasi 1998.

Sesungguhnya, subtansi cerita ada di kedai itu, antara Kin dan May, tak selebihnya. Kekuatan cerita justru terletak di sana, pada hubungan Kin dan May serta narasi-narasi yang mereka ciptakan, dan terutama sekali kemungkinan-kemungkinan manipulasi yang dilakukan May terhadap Kin. Itu menghantui saya.

 Terakhir, jika Anda wahai pembaca, mencari novel dengan twist roller coaster ala Bollywood, novel ini jelas bukan tipe Anda. May cenderung datar dengan bahasa yang apik dan puitis. May diperuntukkan bagi pembaca yang sabar, sesabar Anda membaca Little Women-nya Lousia May Alcott atau To Kill A Mockingbird Harper Lee. Dan pada akhirnya, Anda akan dihantui cerita itu, mungkin beberapa hari [email protected]

 

: Versi cetak diterbitkan Koran Radar Banjarmasin, Minggu 28 Oktober 2019

Facebook Comments