KALAU bukan riwayat “perjalanan” lahir-batin penyair, apakah puisi? “Perjalanan” itu bukan hanya “perjalanan fisik”, bisa juga “perjalanan rohani”, “perjalanan spiritual”. Di buku kumpulan puisi tunggalnya (yang kedua) ini Fahmi Wahid (FW) menulis “riwayat perjalanan”-nya.

Saya sudah lama mengenal FW, sejak akhir abad lalu (tahun 1990-an), saat ia kuliah di IAIN (kini Universitas Islam Negeri, UIN) Antasari, Banjarmasin.

Sebagai mahasiswa yang bukan saja kuliah, tapi juga aktif berkesenian (terutama di bidang teater dan baca puisi), FW bergabung dengan (dan pernah menjadi ketua) Teater Pena Banjarmasin (TPBjm); komunitas seni mahasiswa yang (dipimpin dramawan dan penyair, almarhum Drs. H. Bachtar Suryani) merupakan binaan Kanwil Depag (sekarang Kementerian Agama) Provinsi Kalsel.

Sebagai anak muda yang gandrung dengan seni sastra dan teater, selain dengan anggota TPBjm yang lain saya juga akrab bergaul dengan FW. Saya tak pernah terlibat sebagai pemain dalam pertunjukan drama dakwah yang diusung TPBjm (yang pentas keliling kabupaten/kota di Kalsel dalam misi dakwah/penerangan agama Islam), tapi seringkali  numpang tidur di sekretariatnya, (saat itu) di samping MTsN Mulawarman.

Di Sekretariat TPBjm (bangunan kayu, mirip gudang) itu juga tinggal sejumlah mahasiswa IAIN Antasari (yang bukan berasal dari Kota Banjarmasin), anggota dan pengurus TPBjm. Mungkin untuk membantu meringankan biaya (daripada bayar sewa rumah kost di luar), almarhum Drs. H. Bachtar Suryani memperbolehkan anggotanya untuk tidur di sana.

Alumni TPBjm akhir abad lalu itu kini telah tersebar di mana-mana (sebagian di antaranya menjadi pejabat tinggi di pemerintahan).

Begitulah, karena punya sepeda motor (yang saat itu tergolong barang mewah), saya sering mambuntil, sarantang-saruntung dengan FW (saat TPBjm punya kegiatan, latihan, menghadiri diskusi, acara lomba baca puisi maupun menyaksikan pertunjukan teater).

Selain di Sekretariat TPBjm, saat itu saya juga sering diajak FW bamalam di kamarnya sendiri (di rumah kakaknya, depan Stadion Lambung Mangkurat, Jalan Jenderal A. Yani, Kilometer 5,5, Banjarmasin).

Dengan riwayat pertemanan seperti itu, tidak sukar bagi saya untuk memasuki dunia FW luar-dalam, lahir-batin.

Pada dasarnya, puisi-puisi di buku ini adalah cermin dan gambaran lahir-batin FW sebagai manusia yang berusaha mencapai tujuannya untuk kesempurnaan kehidupan. Sesuai dengan latar belakang pendidikannya, puisi-puisinya kental dengan pandangan dan nilai-nilai agama Islam. Tak satu pun puisinya yang keluar, atau menyempal, dari norma-norma Islam. Bahkan terhadap aksi Islam radikal (yang melakukan aksi bom bunuh diri), FW menyorotinya dengan puisi yang mencerminkan pandangan mainstream.

Bukan cuma itu. Di samping refleksinya yang mendalam terhadap ajaran Islam, kecemasannya pada alam Pegunungan Meratus (akibat pertambangan batu bara) juga tercermin dari puisi-puisinya yang nestapa.

Refleksi dan “riwayat perjalanan” FW bukan cuma pada persoalan yang terjadi dan disaksikannya di Pulau Kalimantan, tapi juga di daerah lain, hampir dari Sabang sampai Merauke. Demikianlah, ia juga menulis puisi tentang dampak luar biasa yang terjadi akibat tsunami di Aceh.

FW memberi judul antologinya dari 2 judul puisi (yang merupakan satu kesatuan) di buku ini, Perjalanan Debu. Memang, di keluasan samudera, cakrawala dan antariksa, apa beda manusia dengan debu?

 

Ketika langkah tak dapat terhitung

seberapa jauh jejak ditautkan

dari tanah asal ke tanah tumbuh

sampai pada tanah tualang

dan kembali ke tanah pulang

 [email protected]

Banjarmasin, 27/10/2018

Facebook Comments